<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251</id><updated>2012-02-16T15:19:19.255+07:00</updated><category term='Umum'/><category term='Keperawatan'/><category term='Komputer'/><category term='Download'/><title type='text'>Glee Kapay</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>53</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-502382882311135137</id><published>2011-06-06T00:41:00.001+07:00</published><updated>2011-06-06T00:44:45.191+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>Mengapa Manusia Senang Gosip?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ-yheoaPmyO0QroNPSb_wFGEu1qiwGimyQ6R28HO79TRrVvzBzZDKzPA"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 126px; height: 84px;" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ-yheoaPmyO0QroNPSb_wFGEu1qiwGimyQ6R28HO79TRrVvzBzZDKzPA" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Meski tahu bergosip itu bukan kebiasaan yang baik, tapi hanya sedikit orang yang dengan sadar menghindarinya. Begitu mendengar ada gosip, kita langsung penasaran ingin tahu lebih dalam walau topik yang digosipkan adalah masalah pribadi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problema terhanyut dalam lingkaran gosip memang sulit dihindari. Salah satu penyebabnya adalah sistem visual kita terprogram untuk fokus pada gosip negatif yang kita dengar.  Selain itu, ternyata otak manusia mengingat gosip negatif lebih kuat daripada gosip positif atau gosip yang netral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Secara alamiah kita memang lebih sensitif pada informasi yang mungkin berpotensi mengancam kehidupan kita," Irving Biederman, ahli neuroscience dari California Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun topik dalam gosip itu mengenai orang lain, namun bukan tidak mungkin suatu saat akan menimpa kita.  Misalnya tentang PHK karyawan atau perselingkuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita bisa mengambil keuntungan dari gosip negatif yang kita dengar dengan cara menghindari hal itu agar tidak terjadi pada kita," kata ketua peneliti Eliza Bliss-Moreau, dari California, AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi sebelumnya juga mengungkapkan manusia berevolusi sedemikian rupa untuk memiliki kecenderungan menghakimi dan senang membicarakan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski ada banyak kategori pembicaraan dengan orang lain, mulai dari salam, penjelasan, berbohong atau menceritakan rahasia, namun yang paling disukai orang adalah membicarakan orang lain. Bahkan, meski pembicaraan diawali dengan topik tentang cuaca, pada akhirnya mereka akan membicarakan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli primata Robin Dunbar dari Universitas Oxford Inggris mengatakan bahwa gosip tidak selalu berarti buruk. Dunbar menjelaskan, gosip telah melalui seleksi evolusi sebagai salah satu cara untuk menyatukan kelompok manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, menurut Dunbar, primata seperti babon hidup berkelompok dan menggunakan perawatan diri sebagai alat sosial untuk menjalin, menjaga dan memutus hubungan sosial. Namun dalam sejarah evolusi, kelompok manusia sebagai besar dan tidak ada yang punya waktu lagi untuk memperhatikan penampilan orang lailn. Gosip atau membicarakan orang lain kemudian menggantikannya sebagai perekat ikatan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau gosip mungkin secara alami sudah ada dalam setiap lingkungan sosial, tetapi manusia tidak terlahir untuk bergosip. Anak-anak belajar seni komunikasi melalui lingkungannya, mulai dari bicara dengan sopan pada orangtua, tidak menyumpah pada orang lain, atau menggunakan tata bahasa yang baik. Termasuk, kebiasaan menggosipkan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, meski kita punya kecenderungan untuk menyukai gosip, tetapi kesukaan itu tidak harus dipupuk. Malah, kita bisa mengajar anak-anak untuk menghindari gosip dengan cara "menjaga lidah" untuk tidak sering-sering membicarakan berita negatif tentang orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;LiveScience&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-502382882311135137?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/502382882311135137/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2011/06/mengapa-manusia-senang-gosip.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/502382882311135137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/502382882311135137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2011/06/mengapa-manusia-senang-gosip.html' title='Mengapa Manusia Senang Gosip?'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-3527453818406115491</id><published>2011-06-06T00:15:00.002+07:00</published><updated>2011-06-06T00:26:37.836+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keperawatan'/><title type='text'>ASKEP POST LAPARATOMI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.gvt0.com/vi/bSDbtsN4YiE/default.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 120px; height: 90px;" src="http://1.gvt0.com/vi/bSDbtsN4YiE/default.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. DEFINISI&lt;br /&gt;Laparotomi adalah pembedahan yang dilakukan pada usus akibat terjadinya perlekatan usus dan biasanya terjadi pada usus halus. (Arif Mansjoer, 2000)&lt;br /&gt;Laparatomi adalah prosedur tindakan pembedahan dengan membuka cavum abdomen dengan tujuan eksplorasi.&lt;br /&gt;Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada pasien-pasien yang telah menjalani operasi pembedahan perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam Laparotomi&lt;br /&gt;1. Midline incision&lt;br /&gt;2. Paramedian, yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah ( 2,5 cm), panjang (12,5 cm).&lt;br /&gt;3. Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy.&lt;br /&gt;4. Transverse lower abdomen incision, yaitu; insisi melintang di bagian bawah  4 cm di atas anterior spinal iliaka, misalnya; pada operasi appendictomy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. ETIOLOGI&lt;br /&gt;1. Trauma abdomen (tumpul atau tajam).&lt;br /&gt;2. Peritonitis.&lt;br /&gt;3. Perdarahan pada saluran pencernaan.&lt;br /&gt;4. Sumbatan pada usus halus dan usus besar.&lt;br /&gt;5. Masa pada abdomen ( Tumor, cyste dll).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.&lt;br /&gt;2. Mempercepat penyembuhan.&lt;br /&gt;3. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi.&lt;br /&gt;4. Mempertahankan konsep diri pasien.&lt;br /&gt;5. Mempersiapkan pasien pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawatan pasca pembedahan &lt;br /&gt;1. Tindakan keperawatan post operasi&lt;br /&gt;a. Monitor kesadaran, tanda-tanda vital, CVP, intake dan output&lt;br /&gt;b. Observasi dan catat sifat darai drain (warna, jumlah) drainage.&lt;br /&gt;c. Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati, jangan sampai drain tercabut.&lt;br /&gt;d. Perawatan luka operasi secara steril.&lt;br /&gt;2. Makanan&lt;br /&gt;Pada pasien pasca pembedahan biasanya tidak diperkenankan menelan makanan sesudah pembedahan. makanan yang dianjurkan pada pasien post operasi adalah makanan tinggi protein dan vitamin C. Protein sangat diperlukan pada proses penyembuhan luka, sedangkan vitamin C yang mengandung antioksidan membantu meningkatkan daya tahan tubuh untuk pencegahan infeksi.&lt;br /&gt;pembatasan diit yang dilakukan adalah NPO (nothing peroral) &lt;br /&gt;Biasanya makanan baru diberikan jika: &lt;br /&gt;• Perut tidak kembung&lt;br /&gt;• Peristaltik usus normal&lt;br /&gt;• Flatus positif&lt;br /&gt;• Bowel movement positif&lt;br /&gt;3. Mobilisasi&lt;br /&gt;Biasanya pasien diposisikan untuk berbaring ditempat tidur agar keadaanya stabil. Biasanya posisi awal adalah terlentang, tapi juga harus tetap dilakukan perubahan posisi agar tidak terjadi dekubitus. Pasien yang menjalani pembedahan abdomen dianjurkan untuk melakukan ambulasi dini. &lt;br /&gt;4. Pemenuhan kebutuhan eliminasi&lt;br /&gt;Sistem Perkemihan.&lt;br /&gt;- Kontrol volunter fungsi perkemihan kembali setelah 6 – 8 jam post anesthesia inhalasi, IV, spinal.&lt;br /&gt; Anesthesia, infus IV, manipulasi operasi  retensio urine.&lt;br /&gt;- Pencegahan : Inspeksi, Palpasi, Perkusi abdomen bawah (distensi buli-buli).&lt;br /&gt;- Dower catheter  kaji warna, jumlah urine, out put urine &lt; 30 ml / jam  komplikasi ginjal.&lt;br /&gt;Sistem Gastrointestinal.&lt;br /&gt;- Mual muntah  40 % klien dengan GA selama 24 jam pertama dapat menyebabkan stress dan iritasi luka GI dan dapat meningkatkan TIK pada bedah kepala dan leher serta TIO meningkat.&lt;br /&gt;- Kaji fungsi gastro intestinal dengan auskultasi suara usus.&lt;br /&gt;- Kaji paralitic ileus  suara usus (-), distensi abdomen, tidak flatus.&lt;br /&gt;- jumlah, warna, konsistensi isi lambung tiap 6 – 8 jam.&lt;br /&gt;- Insersi NG tube intra operatif mencegah komplikasi post operatif dengan decompresi dan drainase lambung.&lt;br /&gt;• Meningkatkan istirahat.&lt;br /&gt;• Memberi kesempatan penyembuhan pada GI trac bawah.&lt;br /&gt;• Memonitor perdarahan.&lt;br /&gt;• Mencegah obstruksi usus.&lt;br /&gt;• Irigasi atau pemberian obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. KOMPLIKASI&lt;br /&gt;1. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.&lt;br /&gt; Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 - 14 hari setelah operasi. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru, hati, dan otak.&lt;br /&gt; Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi, ambulatif dini.&lt;br /&gt;2. Infeksi.&lt;br /&gt; Infeksi luka sering muncul pada 36 - 46 jam setelah operasi. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens, organisme; gram positif. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan. &lt;br /&gt; Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik.&lt;br /&gt;3. Kerusakan integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi.&lt;br /&gt; Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka.&lt;br /&gt; Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi.&lt;br /&gt; Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutup waktu pembedahan, ketegangan yang berat pada dinding abdomen sebagai akibat dari batuk dan muntah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Proses penyembuhan luka&lt;br /&gt;• Fase pertama&lt;br /&gt; Berlangsung sampai hari ke 3. Batang lekosit banyak yang rusak / rapuh. Sel-sel darah baru berkembang menjadi penyembuh dimana serabut-serabut bening digunakan sebagai kerangka.&lt;br /&gt;• Fase kedua&lt;br /&gt; Dari hari ke 3 sampai hari ke 14. Pengisian oleh kolagen, seluruh pinggiran sel epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. Jaringan baru tumbuh dengan kuat dan kemerahan.&lt;br /&gt;• Fase ketiga&lt;br /&gt; Sekitar 2 sampai 10 minggu. Kolagen terus-menerus ditimbun, timbul jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali.&lt;br /&gt;• Fase keempat&lt;br /&gt; Fase terakhir. Penyembuhan akan menyusut dan mengkerut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Upaya untuk mempercepat penyembuhan luka&lt;br /&gt;1. Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin C.&lt;br /&gt;2. Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid.&lt;br /&gt;3. Pencegahan infeksi.&lt;br /&gt;4. Pengembalian Fungsi fisik.&lt;br /&gt;Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan napas dan batuk efektif, latihan mobilisasi dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Kriteria Evaluasi&lt;br /&gt;Hasil yang diharapkan setelah perawatan pasien post operasi, meliputi;&lt;br /&gt;1. Tidak timbul nyeri luka selama penyembuhan.&lt;br /&gt;2. Luka insisi normal tanpa infeksi.&lt;br /&gt;3. Tidak timbul komplikasi.&lt;br /&gt;4. Pola eliminasi lancar.&lt;br /&gt;5. Pasien tetap dalam tingkat optimal tanpa cacat.&lt;br /&gt;6. Kehilangan berat badan minimal atau tetap normal.&lt;br /&gt;7. Sebelum pulang, pasien mengetahui tentang :&lt;br /&gt;• Pengobatan lanjutan.&lt;br /&gt;• Jenis obat yang diberikan.&lt;br /&gt;• Diet.&lt;br /&gt;• Batas kegiatan dan rencana kegiatan di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Pengkajian&lt;br /&gt;a. Primary Survey&lt;br /&gt;1) Airway&lt;br /&gt; Periksa jalan nafas dari sumbatan benda asing (padat, cair) setelah dilakukan pembedahan akibat pemberian anestesi. &lt;br /&gt; Potency jalan nafas,  meletakan tangan di atas mulut atau hidung.&lt;br /&gt; Auscultasi paru  keadekwatan expansi paru, kesimetrisan.&lt;br /&gt;2) Breathing&lt;br /&gt; Kompresi pada batang otak akan mengakibatkan gangguan irama jantung, sehingga terjadi perubahan pada pola napas, kedalaman, frekuensi maupun iramanya, bisa berupa Cheyne Stokes atau Ataxia breathing. Napas berbunyi, stridor, ronkhi, wheezing ( kemungkinana karena aspirasi), cenderung terjadi peningkatan produksi sputum pada jalan napas.&lt;br /&gt; Perubahan pernafasan (rata-rata, pola, dan kedalaman). RR  &lt; 10 X / menit  depresi narcotic, respirasi cepat, dangkal  gangguan cardiovasculair atau rata-rata metabolisme yang meningkat.&lt;br /&gt; Inspeksi: Pergerakan dinding dada, penggunaan otot bantu pernafasan diafragma, retraksi sternal  efek anathesi yang berlebihan, obstruksi.&lt;br /&gt;3) Circulating:&lt;br /&gt; Efek peningkatan tekanan intrakranial terhadap tekanan darah bervariasi. Tekanan pada pusat vasomotor akan meningkatkan transmisi rangsangan parasimpatik ke jantung yang akan mengakibatkan denyut nadi menjadi lambat, merupakan tanda peningkatan tekanan intrakranial. Perubahan frekuensi jantung (bradikardia, takikardia yang diselingi dengan bradikardia, disritmia).&lt;br /&gt; Inspeksi membran mukosa : warna dan kelembaban, turgor kulit, balutan.&lt;br /&gt;4) Disability : berfokus pada status neurologi&lt;br /&gt; Kaji tingkat kesadaran pasien, tanda-tanda respon mata, respon motorik dan tanda-tanda vital.&lt;br /&gt; Inspeksi respon terhadap rangsang, masalah bicara, kesulitan menelan, kelemahan atau paralisis ekstremitas, perubahan visual dan gelisah.&lt;br /&gt;5) Exposure&lt;br /&gt; Kaji balutan bedah pasien terhadap adanya perdarahan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Secondary Survey : Pemeriksaan fisik&lt;br /&gt;Pasien nampak tegang, wajah menahan  sakit, lemah. Kesadaran kompos mentis,  GCS : 4-5-6,  T 120/80 mmHg, N 98 x/menit, S 374 0C, RR 20 X/menit.&lt;br /&gt;1) Abdomen.&lt;br /&gt;Inspeksi tidak ada asites, palpasi hati  teraba 2 jari bawah iga,dan limpa tidak membesar, perkusi bunyi redup, bising usus 14 X/menit. &lt;br /&gt;Distensi abdominal dan peristaltic usus adalah pengkajian yang harus dilakukan pada gastrointestinal.&lt;br /&gt;2) Ekstremitas&lt;br /&gt;Mampu mengangkat tangan dan kaki. Kekuatan otot ekstremitas atas 4-4 dan ekstremitas bawah 4-4., akral dingin dan pucat.&lt;br /&gt;3) Integumen.&lt;br /&gt;Kulit keriput, pucat. Turgor sedang&lt;br /&gt;4) Pemeriksaan neurologis&lt;br /&gt;Bila perdarahan hebat/luas dan mengenai batang otak akan terjadi gangguan pada nervus cranialis, maka dapat terjadi : &lt;br /&gt; Perubahan status mental (orientasi, kewaspadaan, perhatian, konsentrasi, pemecahan masalah, pengaruh emosi/tingkah laku dan memori).&lt;br /&gt; Perubahan dalam penglihatan, seperti ketajamannya, diplopia, kehilangan sebagian lapang pandang, foto fobia. &lt;br /&gt; Perubahan pupil (respon terhadap cahaya, simetri), deviasi pada mata. &lt;br /&gt; Terjadi penurunan daya pendengaran, keseimbangan tubuh. &lt;br /&gt; Sering timbul hiccup/cegukan oleh karena kompresi pada nervus vagus menyebabkan kompresi spasmodik diafragma. &lt;br /&gt; Gangguan nervus hipoglosus. Gangguan yang tampak lidah jatuh kesalah satu sisi, disfagia, disatria, sehingga kesulitan menelan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Tersiery Survey&lt;br /&gt;1) Kardiovaskuler&lt;br /&gt;Klien nampak lemah, kulit  dan kunjungtiva pucat dan akral hangat. Tekanan darah 120/70 mmhg, nadi 120x/menit, kapiler refill 2 detik. Pemeriksaan laboratorium: HB = 9,9 gr%,  HCT= 32 dan PLT = 235.&lt;br /&gt;2) Brain&lt;br /&gt;Klien dalam keadaan sadar, GCS: 4-5-6 (total = 15), klien nampak lemah, refleks dalam batas normal.&lt;br /&gt;3) Blader&lt;br /&gt;Klien terpasang doewer chateter urine tertampung 200 cc,  warna kuning kecoklatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. DIAGNOSA KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Ganggguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka insisi.&lt;br /&gt;2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka insisi.&lt;br /&gt;3. Resiko tinggi infeksi  berhubungan dengan higiene luka yang buruk.&lt;br /&gt;4. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan pendarahan.&lt;br /&gt;5. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan post operasi.&lt;br /&gt;6. Pola nafas inefektif berhubungan dengan efek anastesi.&lt;br /&gt;7. Bersihan jalan napas inefektif berhubungan dengan penumpukan secret.&lt;br /&gt;8. Perubahan pola eliminasi urin berhubungan dengan efek anastesi.&lt;br /&gt;9. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REFERENSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brunner and suddart. (1988). Textbook of Medical Surgical Nursing. Sixth Edition. J.B. Lippincott Campany,  Philadelpia. &lt;br /&gt;Doenges, Marilynn E. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;www.CerminDuniaKedokteran.co.id&lt;br /&gt;www.medicastore.com&lt;br /&gt;Dan dari berbagai sumber.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-3527453818406115491?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/3527453818406115491/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2011/06/askep-post-laparatomi.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/3527453818406115491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/3527453818406115491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2011/06/askep-post-laparatomi.html' title='ASKEP POST LAPARATOMI'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-7021516681982816750</id><published>2011-06-06T00:04:00.001+07:00</published><updated>2011-06-06T00:26:50.824+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keperawatan'/><title type='text'>30 Tahun HIV Ditemukan, Perjalanan Mencari Penyembuh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSNhwxeWorpb39hVSt0GhbZ6pstfAx735OWy8yh6ucQ8C1RaQMeaRr3qw"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 90px; height: 126px;" src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSNhwxeWorpb39hVSt0GhbZ6pstfAx735OWy8yh6ucQ8C1RaQMeaRr3qw" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bagi para ilmuwan, Timothy Ray Brown adalah cahaya di kegelapan. Pria Amerika dengan HIV positif ini berhasil sembuh karena transplantasi sumsum tulang. Brown yang kini lebih dikenal sebagai "Pasien Berlin" telah menjadi ikon harapan para ilmuwan untuk maju ke tahap lanjut dari perjalanan pandemi AIDS, sebuah obat, sebuah akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu ini, 30 tahun silam HIV ditemukan. Dalam rentang tahun-tahun tersebut, HIV/AIDS bukan lagi sebuah lonceng kematian. Berkat deteksi dini HIV, obat antiretroviral yang menghambat perjalanan virus, berbagai upaya untuk menghambat penyebarannya, dan 33,3 juta orang di dunia yang sekarang ini belajar hidup bersama dengan HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan panjang penyakit ini, komunitas ilmuwan global bersama-sama mengerahkan kekuatan untuk memusnahkan virus tersebut. Selain didasari oleh alasan ilmu pengetahuan, berbagai riset dilakukan juga dimaksudkan untuk tujuan uang. Terapi HIV berarti juga mengeluarkan dana yang tak sedikit untuk obat-obatan ARV yang harganya mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawatan pasien HIV di negara berkembang saja sudah menghabiskan dana sekitar 13 miliar dollar AS per tahun dan akan naik tiga kali lipat dalam 20 tahun mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam krisis ekonomi seperti sekarang, menemukan obat HIV menjadi hal yang mendesak. Ini adalah strategi jangka panjang dalam menangani AIDS. Kita harus terus berusaha, jangan berhenti sampai menemukannya," kata Francoise Barre Sinoussi, ilmuwan yang mengidentifikasi human immunodeficiency virus (HIV) dan meraih Nobel. Pasien Berlin membuktikan bahwa hal itu bukan hal yang mustahil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu datangnya obat yang dinanti tersebut, yang lebih mendesak untuk dilakukan tentunya adalah mencegah penularan virus ini. Lagi pula jika obat ini nanti dapat dibuat, belum tentu semua bisa mengaksesnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari kacamata ilmuwan, mencari obat ini adalah tujuan yang besar. Tetapi, dari sisi kesehatan publik, hal yang utama adalah menghentikan penyebaran infeksi baru. Kita membutuhkan revolusi pencegahan, ini hal yang kritikal," kata Seth Berkley, ahli epidemiologi dari AIDS Vaccine Initiative.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;Kompas.com (FOXNews)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-7021516681982816750?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/7021516681982816750/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2011/06/30-tahun-hiv-ditemukan-perjalanan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/7021516681982816750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/7021516681982816750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2011/06/30-tahun-hiv-ditemukan-perjalanan.html' title='30 Tahun HIV Ditemukan, Perjalanan Mencari Penyembuh'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-2249649098640109120</id><published>2010-07-18T12:34:00.003+07:00</published><updated>2010-07-18T12:40:25.031+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>14 Penyebab Tubuh Gampang Capek</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2009/12/08/1054061p.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 298px; height: 225px;" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2009/12/08/1054061p.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tubuh merasa lelah diselingi dengan menguap kerap terjadi ketika Anda beraktivitas. Bisa jadi, rasa kantuk yang terjadi karena Anda tidak cukup tidur, kurang energi, atau bahkan mengidap penyakit, seperti anemia. Lalu, bagaimana cara mengatasinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah 14 penyebab rasa lelah dan kiat-kiat dalam mengatasinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tidak Cukup Tidur&lt;br /&gt;Umumnya orang dewasa membutuhkan tujuh hingga delapan jam sehari untuk tidur. Apabila Anda mengantuk berat saat beraktivitas, bisa jadi karena kualitas dan kuantitas tidur Anda menurun. Hati-hati, karena kurang tidur bisa berakibat buruk pada kesehatan dan konsentrasi Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mengatasinya: buatlah prioritas waktu tidur dan jadwal teratur untuk tidur. Jauhkan laptop, ponsel, atau PDA ketika Anda tidur karena hal itu akan membantu mengurangi gangguan saat tidur.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. "Sleep Apnea"&lt;br /&gt;Beberapa orang berpikir bahwa mereka sudah cukup tidur. Namun, tak pernah berpikir kalau mereka mengalami sleep apnea. Sleep apnea adalah gangguan tidur yang ditandai dengan kesulitas napas dan terjadi berulang-ulang. Mungkin Anda tidak menyadarinya, tetapi setiap kali muncul gangguan ini kualitas tidur akan menurun. Hal ini menyebabkan Anda tetap merasa kurang tidur meski sudah menghabiskan waktu delapan jam untuk istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleep apnea juga berkaitan dengan berbagai penyakit, seperti hipertensi, gangguan jantung, diabetes, dan stroke. Sleep apnea terjadi akibat penyempitan saluran napas selama tidur. Akibatnya, pasokan oksigen akan berulang kali terhenti sepanjang malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mengatasinya: kurangi berat badan bila anda kegemukkan, berhenti merokok, dan cobalah tidur menggunakan alat bantu yang disebut CPAP yang  menjaga Anda tetap bernapas sepanjang malam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3. Kekurangan Energi&lt;br /&gt;Makan yang terlalu sedikit menyebabkan tubuh kelelahan, tetapi menyantap makanan yang salah juga dapat menjadi masalah. Diet seimbang membantu menjaga kadar gula darah Anda dalam rentang normal dan mencegah rasa lelah ketika gula darah Anda menurun.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cara mengatasinya: selalu sarapan setiap pagi dan mencoba menambahkan protein dan karbohidrat kompleks di setiap makanan. Misalnya, makan telur dengan roti gandum. Anda juga dapat mengonsumsi makanan selingan untuk menjaga energi sepanjang hari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4. Anemia&lt;br /&gt;Anemia merupakan penyebab utama kelelahan pada wanita. Mengeluarkan darah selama menstruasi dapat menyebabkan kekurangan zat besi. Sel-sel darah merah sangat diperlukan tubuh karena mereka membawa oksigen ke jaringan dan organ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mengatasinya: anemia biasa disebabkan kurangnya zat besi. Ada baiknya Anda mengakali dengan minum suplemen zat besi dan makan makanan yang kaya zat besi, seperti daging, hati, kerang, kacang-kacangan, dan sereal yang diperkaya zat besi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5. Depresi&lt;br /&gt;Anda mungkin berpikir depresi hanyalah gangguan emosi. Namun, ternyata hal ini juga berhubungan dengan gejala fisik. Salah satu gejala fisik yang paling umum adalah kelelahan, sakit kepala, dan kehilangan nafsu makan. Jika Anda tetap merasa lelah dan murung selama lebih dari dua minggu, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mengatasinya: depresi dapat diatasi melalui psikoterapi dan pengobatan secara medis. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;6. Hypothyroidism&lt;br /&gt;Tiroid adalah kelenjar kecil di pangkal leher Anda. Organ ini berfungsi mengendalikan metabolisme tubuh dan mengatur kecepatan tubuh mengubah makanan menjadi energi. Ketika kelenjar ini tidak berfungsi dengan baik dan fungsi-fungsi metabolisme dalam tubuh berjalan lambat, Anda mungkin merasa lemas dan bertambah gemuk.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cara mengatasinya: apabila tes darah menunjukkan hormon tiroid Anda sedang rendah, dokter akan meresepkan hormon sintetis untuk mengembalikan kinerja tubuh Anda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;7. Kebanyakan Menenggak kafein&lt;br /&gt;Mengonsumsi kafein dalam dosis wajar dapat meningkatkan kewaspadaan dan konsentrasi. Namun, terlalu banyak kafein dapat meningkatkan denyut jantung, tekanan darah, dan kejang. Berdasarkan penelitian, mengonsumsi kafein terlalu banyak juga dapat menyebabkan kelelahan pada beberapa orang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cara mengatasinya: secara bertahap kurangi konsumsi kopi, teh, cokelat, minuman ringan, dan setiap obat yang mengandung kafein. Menghentikan secara tiba-tiba dapat menyebabkan penarikan kafein dan kelelahan berlebihan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;8.  Infeksi Saluran Kemih&lt;br /&gt;Jika pernah mengalami infeksi saluran kemih (ISK), Anda mungkin mengalami rasa sakit seperti terbakar. Namun, infeksi ini tak selalu ditunjukkan dengan gejala tersebut. Dalam beberapa kasus, kelelahan mungkin satu-satunya tanda Anda terkena ISK. Anda dapat melakukan tes urine untuk memastikan ISK.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cara mengatasinya: periksa ke dokter. Obat-obat jenis antibiotik dapat diresepkan untuk mengatasi ISK dan kelelahan biasanya akan hilang setelah sekitar seminggu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;9. Diabetes&lt;br /&gt;Penderita diabetes umumnya memiliki kadar gula darah tinggi, tetapi gula darah ini tetap berada dalam aliran darah dan tidak masuk ke dalam sel-sel sehingga tidak dapat diubah menjadi energi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, tubuh bisa kehabisan energi meskipun Anda cukup makan. Jika Anda sering mengalami kelelahan tanpa sebab, minta dokter Anda untuk melakukan tes diabetes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mengatasinya: pengobatan diabetes dengan cara mengubah gaya hidup, seperti diet dan olahraga, terapi insulin dan obat-obatan dapat membantu tubuh dalam memproses gula.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;10. Dehidrasi&lt;br /&gt;Kelelahan bisa jadi tanda Anda terkena dehidrasi. Meskipun Anda bekerja di luar atau berkutat di atas meja, tubuh tetap membutuhkan air untuk bekerja dengan baik dan tetap tenang. Tanda-tanda orang dehidrasi ialah Anda mengalami kehausan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cara mengatasinya: minumlah air sepanjang hari sehingga urine Anda bewarna terang. Minimal dua gelas air setiap satu jam atau mengonsumsi air lebih banyak sebelum melakukan aktivitas fisik yang sudah direncanakan. Kemudian, lanjutkan latihan Anda lalu minumlah dua gelas lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;11. Penyakit Jantung&lt;br /&gt;Ketika Anda merasa kelelahan akibat kegiatan rutin, seperti membersihkan rumah atau menyiangi halaman, bisa jadi itu pertanda jantung tidak bekerja dengan baik. Jika ternyata kegiatan sehari-hari yang mudah pun semakin sulit untuk dilakukan, segeralah berkonsultasi kepada dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mengatasinya: mengubah gaya hidup, menjalani pengobatan, dan ikutilah prosedur dari terapi yang Anda jalankan untuk membuat jantung Anda pada kondisi lebih baik sekaligus mengembalikan energi Anda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;12. Kerja "Shift"&lt;br /&gt;Bekerja malam atau melakukan kerja shift dapat mengganggu jam tidur Anda. Anda mungkin merasa lelah ketika harus terjaga. Dan, Anda mungkin mengalami kesulitan tidur di siang hari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cara mengatasinya: batasi aktivitas pada siang hari ketika Anda perlu istirahat. Ciptakanlah suasana kamar tidur menjadi gelap, tenang, dan sejuk.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;13. Alergi Makanan&lt;br /&gt;Beberapa dokter percaya ketidaksadaran akan alergi pada jenis makanan tertentu dapat membuat Anda mengantuk. Jika intensitas kelelahan meningkat setelah makan, mungkin anda harus memerhatikan jenis makanan yang mungkin tak menyebabkan Anda gatal-gatal, tetapi cukup membuat Anda mengantuk.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cara mengatasinya: cobalah untuk berhenti menyantap salah satu jenis makanan untuk melihat apakah itu berkorelasi meningkatkan kelelahan pada diri Anda. Anda juga dapat meminta dokter untuk melakukan tes alergi makanan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;14. Fibromyalgia dan CFS&lt;br /&gt;Jika kelelahan Anda berlangsung lebih dari enam bulan dan sangat parah sehingga Anda tidak dapat mengatur kegiatan sehari-hari, sindrom kelelahan kronis (chronic fatigue syndrome/CFS) atau fibromyalgia adalah suatu kemungkinan. Keduanya dapat memiliki berbagai gejala, salah satu yang utama adalah kelelahan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cara mengatasinya: meski tidak ada penyembuhan cepat untuk CFS atau fibromyalgia, penderita justru mendapat keuntungan dari perubahan jadwal harian, yaitu belajar memperbaiki kebiasaan tidur menjadi lebih baik dan memulai  program latihan yang ringan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kiat Mengurangi Kelelahan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika Anda merasa lelah, tetapi tidak ada hubungannya dengan kondisi medis, mungkin salah satu solusinya adalah olahraga. Penelitian menunjukkan, orang dewasa sehat tetapi kerap merasa lelah bisa memperoleh tambahan energi signifikan dari program latihan sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah penelitian, peserta mengendarai sepeda statis selama 20 menit dengan kecepatan ringan. Melakukan jenis latihan ini selama tiga kali seminggu sudah cukup untuk mengobati kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://kompas.com"&gt;Kompas.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-2249649098640109120?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/2249649098640109120/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/07/14-penyebab-tubuh-gampang-capek.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/2249649098640109120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/2249649098640109120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/07/14-penyebab-tubuh-gampang-capek.html' title='14 Penyebab Tubuh Gampang Capek'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-8483134600001173210</id><published>2010-06-21T01:07:00.004+07:00</published><updated>2010-07-18T12:33:16.729+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><title type='text'>JetAudio Basic 8.0.6</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.cowonamerica.com/images/products/jetaudio/features_jetaudio8.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 582px; height: 221px;" src="http://www.cowonamerica.com/images/products/jetaudio/features_jetaudio8.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Selama instalasi, Anda harus berhati-hati jika Anda tidak ingin mengatur JetAudio Basic sebagai aplikasi default untuk file audio dan video. Namun, aplikasi freeware memberi Anda banyak alasan untuk membuatnya satu-satunya pemain Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antarmuka memiliki desain modern yang terlihat seperti equaliser. Anda dapat menyesuaikan setiap bagian dari program, dari CD ripping untuk konversi format, sesuka hati Anda. Program ini dapat mengkonversi file antara beberapa nomor format, serta membaca dan mengedit tag MP3. Built-in Cross-fader, Reverb, dan mode Wide-suara memberikan sentuhan yang bagus tidak ditemukan di sebagian besar MP3 player. Program ini menjadi benar-benar unik dengan jam-nya, Namun, yang dilengkapi dengan timer dan alarm. Kami juga menghargai dimasukkannya alat untuk mencari lirik lagu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://dn2.cowon.com/JetAudioInc/jetAudio/JAD8007_BASIC.exe"&gt;Download JetAudio Basic 8.0.6&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-8483134600001173210?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/8483134600001173210/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/jetaudio-basic-806.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/8483134600001173210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/8483134600001173210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/jetaudio-basic-806.html' title='JetAudio Basic 8.0.6'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-1840362760386351437</id><published>2010-06-21T00:53:00.002+07:00</published><updated>2010-06-21T01:00:53.235+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><title type='text'>Microsoft .NET Framework 4 Full Installer</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://code-inside.de/blog-in/wp-content/uploads/image89.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 178px; height: 181px;" src="http://code-inside.de/blog-in/wp-content/uploads/image89.png" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Microsoft .NET Framework  (Microsoft Dot Net Framework) adalah sebuah komponen yang dapat ditambahkan ke sistem operasi Microsoft Windows atau yang telah terintegrasi ke dalam Windows.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerangka kerja ini menyediakan sejumlah besar solusi-solusi program untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan umum suatu program baru, dan mengatur eksekusi program-program yang ditulis secara khusus untuk framework ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.NET Framework adalah kunci penawaran utama dari Microsoft, dan dimaksudkan untuk digunakan oleh sebagian besar aplikasi-aplikasi baru yang dibuat untuk platform Windows. Sehingga terkadang ada bebeapa aplikasi yang tidak dapat kita jalankan karena pada Operating System kita tidak memiliki Microsoft .NET Framework&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.NET Framework sebagai platform&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.NET seringkali juga dapat diartikan sebagai platform, yang merupakan suatu lingkungan terpadu untuk pengembangan dan eksekusi untuk berbagai macam bahasa pemrograman dan kumpulan library untuk bekerja sama membuat dan menjalankan aplikasi berbasis Windows yang lebih mudah untuk dibuat, diatur, didistribusikan, dan diintegrasikan dengan sistem jaringan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Microsoft .NET Framework 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The .NET Framework 4 is highly compatible with applications that are built with earlier .NET Framework versions, except for some changes that were made to improve security, standards compliance, correctness, reliability, and performance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.NET Framework version 4 is supported on Windows 7,  Windows Server 2003 R2; Windows Server 2003 SP2; Windows Server 2008 R2; Windows Server 2008 SP2; Windows Vista SP 2; Windows XP SP3, Windows Server 2003 SP2, Windows Vista SP1 or later. (d60pc.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://download.microsoft.com/download/9/5/A/95A9616B-7A37-4AF6-BC36-D6EA96C8DAAE/dotNetFx40_Full_x86_x64.exe"&gt;DOWNLOAD .NET Framework 4&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-1840362760386351437?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/1840362760386351437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/microsoft-net-framework-4-full.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/1840362760386351437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/1840362760386351437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/microsoft-net-framework-4-full.html' title='Microsoft .NET Framework 4 Full Installer'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-9099984331213955323</id><published>2010-06-21T00:41:00.003+07:00</published><updated>2010-06-21T00:45:47.938+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><title type='text'>Merawat Baterai Laptop Dengan BatteryCare v.0.9.7.11</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i46.tinypic.com/27xe9m0.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 333px; height: 344px;" src="http://i46.tinypic.com/27xe9m0.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Merawat Baterai Laptop Dengan BatteryCare – Agar senantiasa baterai laptop terawat dan awet, kita harus memperhatikan penggunaannya. Itu tentu saja belum cukup jika kita hanya memperhatikan dari perlakuan segi fisiknya. Beberapa diantara kita, seringkali men-charge baterai laptop lebih dari yang disarankan. Akibatnya baterai sering ngedrop jika digunakan. BatteryCare v.0.9.7.11 ini adalah satu software yang mungkin dapat membantu kita untuk me-monitoring baterai pada laptop kita,. Tools ini akan memberi informasi-informasi penting untuk kelangsungan hidup dari baterai laptop kita. Diantaranya kita akan diberitahu kapan dan berapa lama lagi daya baterai laptop akan benar-benar habis, lalu tentu saja persentase waktu yang ditunjukan pada sisa penggunaan baterai laptop. Dan yang mungkin lain hal dari tools bawaan dari windows yang kita gunakan, Software ini akan memberikan CPU Temperature, sehingga secara real time kita dapat memonitoring temperature dan informasi mengenai merek dan perusahaan pembuatnya hanya dari CPU.(daunmuda.net)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://download.softpedia.com/dl/922c1417cbf2d13c194945fc62fbab62/4c1e3df2/100131817/software/system/SetupBatteryCare.zip"&gt;DOWNLOAD BATTERY CARE&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-9099984331213955323?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/9099984331213955323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/merawat-baterai-laptop-dengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/9099984331213955323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/9099984331213955323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/merawat-baterai-laptop-dengan.html' title='Merawat Baterai Laptop Dengan BatteryCare v.0.9.7.11'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i46.tinypic.com/27xe9m0_th.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-2396984378490118984</id><published>2010-06-18T20:20:00.002+07:00</published><updated>2010-06-18T20:26:40.651+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keperawatan'/><title type='text'>Endotracheal Intubation</title><content type='html'>&lt;object width="320" height="266" class="BLOG_video_class" id="BLOG_video-27ea6d319878b30e" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/get_player"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF"&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="flashvars" value="flvurl=http://v13.nonxt4.googlevideo.com/videoplayback?id%3D27ea6d319878b30e%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1331901541%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D75EC144522E3F729D9905BE224CF4FF729EC1C33.84281DA1B9E455D767BEEB54806F1529737C0B41%26key%3Dck1&amp;amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3D27ea6d319878b30e%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3DEpHfF9uUpFanPwN7wBj03A8OlmA&amp;amp;autoplay=0&amp;amp;ps=blogger"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/get_player" type="application/x-shockwave-flash"width="320" height="266" bgcolor="#FFFFFF"flashvars="flvurl=http://v13.nonxt4.googlevideo.com/videoplayback?id%3D27ea6d319878b30e%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1331901541%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D75EC144522E3F729D9905BE224CF4FF729EC1C33.84281DA1B9E455D767BEEB54806F1529737C0B41%26key%3Dck1&amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3D27ea6d319878b30e%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3DEpHfF9uUpFanPwN7wBj03A8OlmA&amp;autoplay=0&amp;ps=blogger"allowFullScreen="true" /&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endotracheal Intubation merupakan "gold standard" untuk penanganan airway /airway management. Procedure ini dapat di lakukan pada sejumlah kasus pada patient yang mengalami penyumbatan jalan nafas, kehilangan protective reflexes, removal of pulmonary secretions and juga pada segala jenis gagal nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endotracheal Tubes (ETT) dapat dilakukan melalui hidung ataupun mulut. Masing2 cara memberikan keuntungan tersendiri sebagai contoh bahwa nasal route lebih baik di lakukan pada patient yang masih sadar dan cooperative. Sedangkan oral route lebih pada patient2 yang mengalami comatose, uncooperative dan ketika emergency intubation di butuhkan pada patient yang mengalami cardic arrest. Komplikasi menggunakan nasal tracheal intubation adalah epistaxis, paranasal sinusitis dan necrosis pada nasal mucosa. Lain halnya pada orotracheal intubation yang komplikasinya adalah trauma pada gigi, penyumbatan tube (ketika bitting tube) dan kerusakan posterior larynx.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memastikan ETT pada posisi yang benar dapat di gunakan beberapa cara diantaranya melalui direct laryngoscopic visualisation ketika tube masuk melewati vocal cords, dengan capnography, mendengarkan bilateral breath sound dan yang terakhir adalah melalui CXR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ref : http://emergencyku.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Marino, L.P .(1998). Ventilator-Dependent Patient in The Icu Book Second Edition. chap.28;pp.449-454. Williams and Wilkins; USA.&lt;br /&gt;    * Nicholson, L and O'Brien, M (2007). Intensive Care/ High Dependancy Orientation Program Introductory Learning Package. Assessing The Adequacy of Ventilation and Oxygenation. pp.9 POWH :Sydney Australia.&lt;br /&gt;    * video from youtube&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-2396984378490118984?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/2396984378490118984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/endotracheal-intubation.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/2396984378490118984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/2396984378490118984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/endotracheal-intubation.html' title='Endotracheal Intubation'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-3778458966739092866</id><published>2010-06-18T20:09:00.003+07:00</published><updated>2010-06-18T20:16:16.163+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keperawatan'/><title type='text'>Pemberian Oxygen Therapy</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.leimedicalstore.com/catalog/a660-oxygen-therapy-flowmet.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 531px;" src="http://www.leimedicalstore.com/catalog/a660-oxygen-therapy-flowmet.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oxygen (O2) merupakan obat yang harus digunakan secara tepat dan harus diberikan pada kondisi tertentu yang seharusnya memerlukan oxygen theraphy. Pada umumnya theraphy ini di berikan sebagai sebuah ukuran sementara terhadap pencegahan Hypoxaemia atau kekurangan O2 dalam darah. Walaupun demikian therapy ini tidak dapat menggantikan obat pokok yang semestinya di berikan pada kondisi tertentu seperti antibiotic dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O2 sangat di butuhkan dalam metabolisme aerobic untuk menghasilkan energy. Karena ketidakcukupan O2 dalam darah dapat mendorong penggunaan asam lactate untuk metabolisme anaerobic sehingga mengakibatkan penurunan biological energy dan penumpukan asam lactat yang sangat berbahaya pada tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikasi klinis pemberian O2 ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Henti jantung dan nafas&lt;br /&gt;    * Gagal pernafasan baik pada tipe I ( hypoxemia tanpa penumpukan CO2 misalanya asthma, pneumonia, oedema paru dan embolisme paru) ataupun tipe II (hypoxemia dengan penumpukan CO2 misalnya Bronchitis kronis, trauma dada , penurunan kesadaran akibat overdose obat dan sebagainya)&lt;br /&gt;    * Gagal jantung atau miocardial infartion&lt;br /&gt;    * Segala macam bentuk syock&lt;br /&gt;    * Keracunan CO ( carbon monoxide)&lt;br /&gt;    * Peningkatan kebutuhan metabilsme seperti pada patient luka bakar, trauma dan infeksi yang serious.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum O2 dibutuhkan ketika tekanan O2 dalam darah turun. Hal ini dapat diukur secara kasar dengan menggunakan pulse oximetry. Alat ini dapat membaca saturasi haemoglobin dalam darah artery melalui sinar detertor/ infrared. Informasi yang akurat dari pulse oximetry dapat di tunjukkan dan digambarkan pada SpO2 ( peripheral Capillary saturation of haemoglobin) daripada SaO2 ( arterial blood gas saturation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat yang digunakan Pada pemberian O2 ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Nasal catheter 2-6 l/m&lt;br /&gt;    * Simple mask 6-8 l/m&lt;br /&gt;    * Rebreathing mask 8-12/m&lt;br /&gt;    * Non-Rebreathing mask 10-15 l/m&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsentrasi Oxygen rata2 (l/m);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * 4 l/m 0.35 Fio2 (Fractional inspired oxygen concentration)&lt;br /&gt;    * 6 l/m 0.50&lt;br /&gt;    * 8 l/m 0.55&lt;br /&gt;    * 10 l/m 0.60&lt;br /&gt;    * 12 l/m 0.65&lt;br /&gt;    * 15 l/m 0.70&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://emergencyku.blogspot.com/&lt;br /&gt;Sebagian reference from Oh's Intensive care Manual 5th oleh Andrew D Bersten dan Neil Soni 2007.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-3778458966739092866?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/3778458966739092866/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/pemberian-oxygen-therapy.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/3778458966739092866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/3778458966739092866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/pemberian-oxygen-therapy.html' title='Pemberian Oxygen Therapy'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-4266404506311476</id><published>2010-06-18T19:56:00.003+07:00</published><updated>2010-06-18T20:33:24.547+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keperawatan'/><title type='text'>Ventilator Setting</title><content type='html'>Hal yang paling penting dalam pengaturan ventilator adalah memahami jenis ventilator yang di pakai terlebih dahulu karena ada beberapa product yg memakai setting yg berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ventilator adalah suatu alat yang digunakan untuk membantu sebagian atau seluruh proses ventilasi untuk mempertahankan oksigenasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikasi Pemasangan Ventilator&lt;br /&gt;Pasien dengan respiratory failure (gagal napas)&lt;br /&gt;Pasien dengan operasi teknik hemodilusi.&lt;br /&gt;Post Trepanasi dengan black out.&lt;br /&gt;Respiratory Arrest.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.carefusion.com/images/vela-2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 578px; height: 390px;" src="http://www.carefusion.com/images/vela-2.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kriteria Pemasangan Ventilator&lt;br /&gt;Tachypnic/ Respiratory rate lebih dari 30/ mnt&lt;br /&gt;PO2 &lt;70&lt;br /&gt;PCO2 &gt; 60 mmHg&lt;br /&gt;Vital capasity kurang dari 15 ml / kg BB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam-macam Ventilator.&lt;br /&gt;Menurut sifatnya ventilator dibagi tiga type yaitu:&lt;br /&gt;Volume Cycled Ventilator.&lt;br /&gt;Prinsip dasar ventilator ini adalah cyclusnya berdasarkan volume. Mesin berhenti bekerja dan terjadi ekspirasi bila telah mencapai volume yang ditentukan. Keuntungan volume cycled ventilator adalah perubahan pada komplain paru pasien tetap memberikan volume tidal yang konsisten.&lt;br /&gt;Pressure Cycled Ventilator&lt;br /&gt;Perinsip dasar ventilator type ini adalah cyclusnya menggunakan tekanan. Mesin berhenti bekerja dan terjadi ekspirasi bila telah mencapai tekanan yang telah ditentukan. Pada titik tekanan ini, katup inspirasi tertutup dan ekspirasi terjadi dengan pasif. Kerugian pada type ini bila ada perubahan komplain paru, maka volume udara yang diberikan juga berubah. Sehingga pada pasien yang setatus parunya tidak stabil, penggunaan ventilator tipe ini tidak dianjurkan.&lt;br /&gt;Time Cycled Ventilator&lt;br /&gt;Prinsip kerja dari ventilator type ini adalah cyclusnya berdasarkan wamtu ekspirasi atau waktu inspirasi yang telah ditentukan. Waktu inspirasi ditentukan oleh waktu dan kecepatan inspirasi (jumlah napas permenit)&lt;br /&gt;Normal ratio I : E (inspirasi : ekspirasi ) 1 : 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mode-Mode Ventilator.&lt;br /&gt;Mode Control.&lt;br /&gt;Pada mode kontrol mesin secara terus menerus membantu pernafasan pasien. Ini diberikan pada pasien yang pernafasannya masih sangat jelek, lemah sekali atau bahkan apnea. Pada mode ini ventilator mengontrol pasien, pernafasan diberikan ke pasien pada frekwensi dan volume yang telah ditentukan pada ventilator, tanpa menghiraukan upaya pasien untuk mengawali inspirasi. Bila pasien sadar, mode ini dapat menimbulkan ansietas tinggi dan ketidaknyamanan dan bila pasien berusaha nafas sendiri bisa terjadi fighting (tabrakan antara udara inspirasi dan ekspirasi), tekanan dalam paru meningkat dan bisa berakibat alveoli pecah dan terjadi pneumothorax. Contoh mode control ini adalah: CR (Controlled Respiration), CMV (Controlled Mandatory Ventilation), IPPV (Intermitten Positive Pressure Ventilation)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mode IMV / SIMV: Intermitten Mandatory Ventilation/Sincronized Intermitten Mandatory Ventilation.&lt;br /&gt;Pada mode ini ventilator memberikan bantuan nafas secara selang seling dengan nafas pasien itu sendiri. Pada mode IMV pernafasan mandatory diberikan pada frekwensi yang di set tanpa menghiraukan apakah pasien pada saat inspirasi atau ekspirasi sehingga bisa terjadi fighting dengan segala akibatnya. Oleh karena itu pada ventilator generasi terakhir mode IMVnya disinkronisasi (SIMV). Sehingga pernafasan mandatory diberikan sinkron dengan picuan pasien. Mode IMV/SIMV diberikan pada pasien yang sudah bisa nafas spontan tetapi belum normal sehingga masih memerlukan bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mode ASB / PS : (Assisted Spontaneus Breathing / Pressure Suport&lt;br /&gt;Mode ini diberikan pada pasien yang sudah bisa nafas spontan atau pasien yang masih bisa bernafas tetapi tidal volumnenya tidak cukup karena nafasnya dangkal. Pada mode ini pasien harus mempunyai kendali untuk bernafas. Bila pasien tidak mampu untuk memicu trigger maka udara pernafasan tidak diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CPAP : Continous Positive Air Pressure.&lt;br /&gt;Pada mode ini mesin hanya memberikan tekanan positif dan diberikan pada pasien yang sudah bisa bernafas dengan adekuat.&lt;br /&gt;Tujuan pemberian mode ini adalah untuk mencegah atelektasis dan melatih otot-otot pernafasan sebelum pasien dilepas dari ventilator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem Alarm&lt;br /&gt;Ventilator digunakan untuk mendukung hidup. Sistem alarm perlu untuk mewaspadakan perawat tentang adanya masalah. Alarm tekanan rendah menandakan adanya pemutusan dari pasien (ventilator terlepas dari pasien), sedangkan alarm tekanan tinggi menandakan adanya peningkatan tekanan, misalnya pasien batuk, cubing tertekuk, terjadi fighting, dll. Alarm volume rendah menandakan kebocoran. Alarm jangan pernah diabaikan tidak dianggap dan harus dipasang dalam kondisi siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelembaban dan suhu.&lt;br /&gt;Ventilasi mekanis yang melewati jalan nafas buatan meniadakan mekanisme pertahanan tubuh unmtuk pelembaban dan penghangatan. Dua proses ini harus digantikan dengan suatu alat yang disebut humidifier. Semua udara yang dialirkan dari ventilator melalui air dalam humidifier dihangatkan dan dijenuhkan. Suhu udara diatur kurang lebih sama dengan suhu tubuh. Pada kasus hipotermi berat, pengaturan suhu udara dapat ditingkatkan. Suhu yang terlalu itnggi dapat menyebabkan luka bakar pada trachea dan bila suhu terlalu rendah bisa mengakibatkan kekeringan jalan nafas dan sekresi menjadi kental sehingga sulit dilakukan penghisapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fisiologi Pernapasan Ventilasi Mekanik&lt;br /&gt;Pada pernafasan spontan inspirasi terjadi karena diafragma dan otot intercostalis berkontrkasi, rongga dada mengembang dan terjadi tekanan negatif sehingga aliran udara masuk ke paru, sedangkan fase ekspirasi berjalan secara pasif.&lt;br /&gt;Pada pernafasan dengan ventilasi mekanik, ventilator mengirimkan udara dengan memompakan ke paru pasien, sehingga tekanan sselama inspirasi adalah positif dan menyebabkan tekanan intra thorakal meningkat. Pada akhir inspirasi tekanan dalam rongga thorax paling positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek Ventilasi mekanik&lt;br /&gt;Akibat dari tekanan positif pada rongga thorax, darah yang kembali ke jantung terhambat, venous return menurun, maka cardiac output juga menurun. Bila kondisi penurunan respon simpatis (misalnya karena hipovolemia, obat dan usia lanjut), maka bisa mengakibatkan hipotensi. Darah yang lewat paru juga berkurang karena ada kompresi microvaskuler akibat tekanan positif sehingga darah yang menuju atrium kiri berkurang, akibatnya cardiac output juga berkurang. Bila tekanan terlalu tinggi bisa terjadi gangguan oksigenasi. Selain itu bila volume tidal terlalu tinggi yaitu lebih dari 10-12 ml/kg BB dan tekanan lebih besar dari 40 CmH2O, tidak hanya mempengaruhi cardiac output (curah jantung) tetapi juga resiko terjadinya pneumothorax.&lt;br /&gt;Efek pada organ lain:&lt;br /&gt;Akibat cardiac output menurun; perfusi ke organ-organ lainpun menurun seperti hepar, ginjal dengan segala akibatnya. Akibat tekanan positif di rongga thorax darah yang kembali dari otak terhambat sehingga tekanan intrakranial meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komplikasi Ventilasi Mekanik (Ventilator)&lt;br /&gt;Ventilator adalah alat untuk membantu pernafasan pasien, tapi bila perawatannya tidak tepat bisa, menimbulkan komplikasi seperti:&lt;br /&gt;Pada paru&lt;br /&gt;Baro trauma: tension pneumothorax, empisema sub cutis, emboli udara vaskuler.&lt;br /&gt;Atelektasis/kolaps alveoli diffuse&lt;br /&gt;Infeksi paru&lt;br /&gt;Keracunan oksigen&lt;br /&gt;Jalan nafas buatan: king-king (tertekuk), terekstubasi, tersumbat.&lt;br /&gt;Aspirasi cairan lambung&lt;br /&gt;Tidak berfungsinya penggunaan ventilator&lt;br /&gt;Kerusakan jalan nafas bagian atas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sistem kardiovaskuler&lt;br /&gt;Hipotensi, menurunya cardiac output dikarenakan menurunnya aliran balik vena akibat meningkatnya tekanan intra thorax pada pemberian ventilasi mekanik dengan tekanan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sistem saraf pusat&lt;br /&gt;Vasokonstriksi cerebral&lt;br /&gt;Terjadi karena penurunan tekanan CO2 arteri (PaCO2) dibawah normal akibat dari hiperventilasi.&lt;br /&gt;Oedema cerebral&lt;br /&gt;Terjadi karena peningkatan tekanan CO2 arteri diatas normal akibat dari hipoventilasi.&lt;br /&gt;Peningkatan tekanan intra kranial&lt;br /&gt;Gangguan kesadaran&lt;br /&gt;Gangguan tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sistem gastrointestinal&lt;br /&gt;Distensi lambung, illeus&lt;br /&gt;Perdarahan lambung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan psikologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosedur Pemberian Ventilator&lt;br /&gt;Sebelum memasang ventilator pada pasien. Lakukan tes paru pada ventilator untuk memastikan pengesetan sesuai pedoman standar. Sedangkan pengesetan awal adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Fraksi oksigen inspirasi (FiO2) 100%&lt;br /&gt;Volume Tidal: 4-5 ml/kg BB&lt;br /&gt;Frekwensi pernafasan: 10-15 kali/menit&lt;br /&gt;Aliran inspirasi: 40-60 liter/detik&lt;br /&gt;PEEP (Possitive End Expiratory Pressure) atau tekanan positif akhir ekspirasi: 0-5 Cm, ini diberikan pada pasien yang mengalami oedema paru dan untuk mencegah atelektasis. Pengesetan untuk pasien ditentukan oleh tujuan terapi dan perubahan pengesetan ditentukan oleh respon pasien yang ditujunkan oleh hasil analisa gas darah (Blood Gas)&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Kriteria Penyapihan/ Weaning ventilation :&lt;br /&gt;Pasien yang mendapat bantuan ventilasi mekanik dapat dilakukan penyapihan bila memenuhi kriteria sebagai berikut:&lt;br /&gt;Pasien tidak dalam sedative&lt;br /&gt;Spontanious breathing&lt;br /&gt;Minimal Fio2 yang di gunakan dalam ventilator (Fio2 25-30%, PEEP 8 And PS 8 )&lt;br /&gt;Kapasitas vital 10-15 ml/kg BB&lt;br /&gt;Volume tidal 4-5 ml/kg BB&lt;br /&gt;Kekuatan inspirasi 20 cm H2O atau lebih besar&lt;br /&gt;Frekwensi pernafasan kurang dari 20 kali/menit.&lt;br /&gt;Hasil ABG Po2 &gt;70 mmHg and Pco2 &lt;40 color="#ff0000"&gt;Ventilator setting untuk pasien baru :&lt;br /&gt;Untuk ICU :&lt;br /&gt;Ventilation : PVC/Time cycled&lt;br /&gt;Mode : SIMV + PPS&lt;br /&gt;PVC Pressure : 15&lt;br /&gt;Insp. Time : 1.20 Sec&lt;br /&gt;Machine Rate : 12 BPM&lt;br /&gt;Max.Flow : 160 LPM&lt;br /&gt;Fio2 : 50%&lt;br /&gt;PEEP/CPAP : 10cm&lt;br /&gt;Sensitivity : 1cm H2O&lt;br /&gt;Pos.Pres.Sup :15cm H2O&lt;br /&gt;Apnea Rate :12BPm&lt;br /&gt;High Insp.Pres: 35cm H2O&lt;br /&gt;Low Insp.Pres : 20cm H2O&lt;br /&gt;High Mech.Vol : 1000ml&lt;br /&gt;Low Mech.Vol : 400ml&lt;br /&gt;Low Spont.Vol :0 ml&lt;br /&gt;Low Minute Vol : 4.8l&lt;br /&gt;Low PEEP/CPAP : 8cm H2O&lt;br /&gt;High Resp.Rate : 35BPM&lt;br /&gt;Apnea : 30sec.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ED :&lt;br /&gt;Ventilation : Volume Cycled&lt;br /&gt;Mode : SIMV+PPS&lt;br /&gt;Tidal Volume : 700ml&lt;br /&gt;Machine Rate : 12bpm&lt;br /&gt;Peak Flow : 60 lpm&lt;br /&gt;Fio2 : 100%&lt;br /&gt;PEEP/CPAP : 5cm H2O&lt;br /&gt;Sensitivity : 1cmH2O&lt;br /&gt;Insp.Pause : 0.5sec&lt;br /&gt;Wave form&lt;br /&gt;Pos.Pres.Sup : 15 cmH2O&lt;br /&gt;Sigh Vol : 700 ml&lt;br /&gt;Sigh Rate : 0SPH&lt;br /&gt;Multiple Sighs : 1&lt;br /&gt;Apnea Rate : 12 bpm&lt;br /&gt;High Insp.Pres : 70 cmH2O&lt;br /&gt;Low Insp.Pres : 20cmH2O&lt;br /&gt;Low Mech.Vol : 600ml&lt;br /&gt;Low Spont.Vol : oml&lt;br /&gt;Low minute Vol : 4ml&lt;br /&gt;Low PEEP/CPAP : 3cmH2O&lt;br /&gt;High Resp.Rate : 30bpm&lt;br /&gt;Apnea :30 sec&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://perawatgawatdarurat.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ref ; -Orientation Book Prince of wales hospital Sydney&lt;br /&gt;-Perawat Gawat Darurat&lt;br /&gt;- Sebagian pengalaman di ICU&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-4266404506311476?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/4266404506311476/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/ventilator-setting.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/4266404506311476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/4266404506311476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/ventilator-setting.html' title='Ventilator Setting'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-5489493230127292427</id><published>2010-06-18T19:40:00.003+07:00</published><updated>2010-06-18T20:34:14.302+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keperawatan'/><title type='text'>GAGAL NAFAS</title><content type='html'>PENGERTIAN&lt;br /&gt;Kegagalan pernafasan adalah pertukaran gas yang tidak adekuat sehingga terjadi hipoksia, hiperkapnia (peningkatan konsentrasi karbon dioksida arteri), dan asidosis.&lt;br /&gt;Ventilator adalah suatu alat yang digunakan untuk membantu sebagian atau seluruh proses ventilasi untuk mempetahankan oksigenasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i.ytimg.com/vi/b3aYrQQdogs/0.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 480px; height: 360px;" src="http://i.ytimg.com/vi/b3aYrQQdogs/0.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;PENYEBAB GAGAL NAFAS&lt;br /&gt;1. Penyebab sentral&lt;br /&gt;    a.Trauma kepala : contusio cerebri&lt;br /&gt;    b.Radang otak : encephalitis&lt;br /&gt;    c.Gangguan vaskuler : perdarahan otak , infark otak&lt;br /&gt;    d.Obat-obatan : narkotika, anestesi&lt;br /&gt;2.Penyebab perifer&lt;br /&gt;   a.Kelainan neuromuskuler : GBS, tetanus, trauma cervical, muscle relaxans&lt;br /&gt;   b.Kelainan jalan nafas : obstruksi jalan nafas, asma bronchiale&lt;br /&gt;   c.Kelainan di paru : edema paru, atelektasis, ARDS&lt;br /&gt;   d.Kelainan tulang iga/thoraks: fraktur costae, pneumo thorax, haematothoraks&lt;br /&gt;   e.Kelainan jantung : kegagalan jantung kiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PATOFISIOLOGI&lt;br /&gt;Pada pernafasan spontan inspirasi terjadi karena diafragma dan otot intercostalis berkontraksi, rongga dada mengembang dan terjadi tekanan negatif sehingga aliran udara masuk ke paru, sedangkan fase ekspirasi berjalan secara pasif .&lt;br /&gt;Pada pernafasan dengan ventilasi mekanik, ventilator mengirimkan udara dengan memompakan ke paru pasien, sehingga tekanan selama inspirasi adalah positif dan menyebabkan tekanan intra thorakal meningkat. Pada akhir inspirasi tekanan dalam rongga thoraks paling positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMERIKSAAN FISIK&lt;br /&gt;( Menurut pengumpulan data dasar oleh Doengoes)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirkulasi&lt;br /&gt;- Tanda : Takikardia, irama ireguler&lt;br /&gt;- S3S4/Irama gallop&lt;br /&gt;- Daerah PMI bergeser ke daerah mediastinal&lt;br /&gt;- Hamman’s sign (bynui udara beriringan dengan denyut jantung menandakan udara di mediastinum)&lt;br /&gt;- TD : hipertensi/hipotensi&lt;br /&gt;- Nyeri/Kenyamanan&lt;br /&gt;- Gejala : nyeri pada satu sisi, nyeri tajam saat napas dalam, dapat menjalar ke leher, bahu dan abdomen, serangan tiba-tiba saat batuk&lt;br /&gt;- Tanda : Melindungi bagian nyeri, perilaku distraksi, ekspresi meringis&lt;br /&gt;Pernapasan&lt;br /&gt;- Gejala : riwayat trauma dada, penyakit paru kronis, inflamasi paru , keganasan, “lapar udara”, batuk&lt;br /&gt;- Tanda : takipnea, peningkatan kerja pernapasan, penggunaan otot asesori, penurunan bunyi napas, penurunan fremitus vokal, perkusi : hiperesonan di atas area berisi udara (pneumotorak), dullnes di area berisi cairan (hemotorak); perkusi : pergerakan dada tidak seimbang, reduksi ekskursi thorak. Kulit : cyanosis, pucat, krepitasi sub kutan; mental: cemas, gelisah, bingung, stupor&lt;br /&gt;Keamanan&lt;br /&gt;- Gejala : riwayat terjadi fraktur, keganasan paru, riwayat radiasi/kemoterapi&lt;br /&gt;Penyuluhan/pembelajaran&lt;br /&gt;- Gejala : riwayat faktor resiko keluarga dengan tuberkulosis, kanker&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Hb : dibawah 12 gr %&lt;br /&gt;- Analisa gas darah :&lt;br /&gt;pH dibawah 7,35 atau di atas 7,45&lt;br /&gt;paO2 di bawah 80 atau di atas 100 mmHg&lt;br /&gt;pCO2 di bawah 35 atau di atas 45 mmHg&lt;br /&gt;BE di bawah -2 atau di atas +2&lt;br /&gt;- Saturasi O2 kurang dari 90 %&lt;br /&gt;- Ro : terdapat gambaran akumulasi udara/cairan , dapat terlihat perpindahan letak mediastinum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIAGNOSA KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan pernafasan ventilator mekanik adalah :&lt;br /&gt;1.Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret&lt;br /&gt;2.Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan sekresi tertahan, proses penyakit&lt;br /&gt;3.Ketidakefektifan pola nafas berhubungandengan kelelahan, pengesetan ventilator yang tidak tepat, obstruksi selang ETT&lt;br /&gt;4.Cemas berhubungan dengan penyakti kritis, takut terhadap kematian&lt;br /&gt;5.Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan pemasangan selang ETT&lt;br /&gt;6.Resiko tinggi komplikasi infeksi saluran nafas berhubungan dengan pemasangan selang ETT&lt;br /&gt;7.Resiko tinggi sedera berhubungan dengan penggunaan ventilasi mekanik, selang ETT, ansietas, stress&lt;br /&gt;8.Nyeri berhubungan dengan penggunaan ventilasi mekanik, letak selang ETT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RENCANA KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret&lt;br /&gt;Tujuan : Klien akan memperlihatkan kemampuan meningkatkan dan mempertahankan keefektifan jalan nafas&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;- Bunyi nafas bersih&lt;br /&gt;- Ronchi (-)&lt;br /&gt;- Tracheal tube bebas sumbatan&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;1.Auskultasi bunyi nafas tiap 2-4 jam atau bila diperlukan&lt;br /&gt;2.Lakukan penghisapan bila terdengar ronchi dengan cara :&lt;br /&gt;    a. Jelaskan pada klien tentang tujuan dari tindakan penghisapan&lt;br /&gt;    b. Berikan oksigenasi dengan O2 100 % sebelum dilakukan penghisapan, minimal 4 – 5 x        pernafasan&lt;br /&gt;    c. Perhatikan teknik aseptik, gunakan sarung tangan steril, kateter penghisap steril&lt;br /&gt;   d. Masukkan kateter ke dalam selang ETT dalam keadaan tidak menghisap, lama penghisapan    tidak lebih 10 detik&lt;br /&gt;   e. Atur tekana penghisap tidak lebih 100-120 mmHg&lt;br /&gt;    f. Lakukan oksigenasi lagi dengan O2 100% sebelum melakukan penghisapan berikutnya&lt;br /&gt;    g. Lakukan penghisapan berulang-ulang sampai suara nafas bersih&lt;br /&gt;3.Pertahankan suhu humidifier tetap hangat ( 35 – 37,8 C)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan sekresi tertahan,proses penyakit, pengesetan ventilator yang tidak tepat&lt;br /&gt;Tujuan : Klien akan memperlihatkan kemampuan pertukaran gas yang kembali normal&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;- Hasil analisa gas darah normal :&lt;br /&gt;PH (7,35 – 7,45)&lt;br /&gt;PO2 (80 – 100 mmHg)&lt;br /&gt;PCO2 ( 35 – 45 mmHg)&lt;br /&gt;BE ( -2 - +2)&lt;br /&gt;- Tidak cyanosis&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;1.Cek analisa gas darah setiap 10 –30 mnt setelah perubahan setting ventilator&lt;br /&gt;2.Monitor hasil analisa gas darah atau oksimetri selama periode penyapihan&lt;br /&gt;3.Pertahankan jalan nafas bebas dari sekresi&lt;br /&gt;4.Monitpr tanda dan gejala hipoksia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan kelelahan, pengesetan ventilator yang tidak tepat, peningkatan sekresi, obstruksi ETT&lt;br /&gt;Tujuan : Klien akan mempertahankan pola nafas yang efektif&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;a.Nafas sesuai dengan irama ventilator&lt;br /&gt;b.Volume nafas adekuat&lt;br /&gt;c.Alarm tidak berbunyi&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;1.Lakukan pemeriksaan ventilator tiap 1-2 jam&lt;br /&gt;2.Evaluasi semua alarm dan tentukan penyebabnya&lt;br /&gt;3.Pertahankan alat resusitasi manual (bag &amp; mask) pada posisi tempat tidur sepanjang waktu&lt;br /&gt;4.Monitor slang/cubbing ventilator dari terlepas, terlipat, bocor atau tersumbat&lt;br /&gt;5.Evaluasi tekanan atau kebocoran balon cuff&lt;br /&gt;6.Masukkan penahan gigi (pada pemasangan ETT lewat oral)&lt;br /&gt;7.Amankan slang ETT dengan fiksasi yang baik&lt;br /&gt;8.Monitor suara nafas dan pergerakan ada secara teratur&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-5489493230127292427?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/5489493230127292427/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/gagal-nafas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/5489493230127292427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/5489493230127292427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/gagal-nafas.html' title='GAGAL NAFAS'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-8642733811890343639</id><published>2010-06-18T19:11:00.005+07:00</published><updated>2010-06-18T19:36:15.268+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keperawatan'/><title type='text'>Hemodinamik dan Central Venouse Pressure (CVP)</title><content type='html'>Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemantauan hemodinamik adalah suatu pengukuran terhadap sistem kardiovaskuler yang dapat dilakukan baik invasif atau noninvasive. Pemantauan memberikan informasi mengenai keadaan pembuluh darah, jumlah darah dalam tubuh dan kemampuan jantung untuk memompakan darah.  Pengkajian secara noninvasif dapat dilakukan melalui pemeriksaan, salah satunya adalah pemeriksaan vena jugularis (jugular venous pressure). Pemantauan hemodinamik secara invasif, yaitu dengan memasukkan kateter ke dalam ke dalam pembuluh darah atau rongga tubuh&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/TBtnvx2iLpI/AAAAAAAAANU/eqx3nreEN40/s1600/1331340-1331351-940865-940976.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 190px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/TBtnvx2iLpI/AAAAAAAAANU/eqx3nreEN40/s200/1331340-1331351-940865-940976.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5484091041787293330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Indikasi Pemantauan Hemodinamik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.       Shock.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.      Infark Miokard Akut (AMI), yg disertai: Gagal jantung kanan/kiri, Nyeri dada yang berulang, Hipotensi/Hipertensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.       Edema Paru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.      Pasca operasi jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.       Penyakit Katup Jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f.        Tamponade Jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g.       Gagal napas akut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h.       Hipertensi Pulmonal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i.         Sarana untuk memberikan cairan/resusitasi cairan, mengetahui reaksi pemberian obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parameter Hemodinamik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.       Tekanan vena sentral (CVP)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.      Tekanan arteri pulmonalis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.       Tekanan kapiler arteri pulmonalis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.      Tekanan atrium kiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.       Tekanan ventrikel kanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f.        Curah jantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g.       Tekanan arteri sistemik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Central Venouse Pressure&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Link: Central Venous Catheter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.scribd.com/doc/3438819/CENTRL-VENOUSE-PRESSURE-CVP#&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekanan vena sentral secara langsung merefleksikan tekanan pada atrium kanan. Secara tidak langsung menggambarkan beban awal jantung kanan atau tekanan ventrikel kanan pada akhir diastole. Menurut Gardner dan Woods nilai normal tekanan vena sentral adalah 3-8 cmH2O atau 2-6 mmHg. Sementara menurut Sutanto (2004) nilai normal CVP adalah 4 – 10 mmHg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat Penusukan Kateter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemasangan kateter CVP dapat dilakukan secara perkutan atau dengan cutdown melalui vena sentral atau vena perifer, seperti vena basilika, vena sephalika, vena jugularis interna/eksterna dan vena subklavia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang CVP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang CVP terdiri dari, gelombang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a= kontraksi atrium kanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c= dari kontraksi ventrikel kanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;x= enggambarkan relaksasi atrium triskuspid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v= penutupan katup trikuspid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;y= pembukaan katup trikuspid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Pengukuran CVP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengukuran CVP secara nonivasif dapat dilakukan dengan cara mengukur tekanan vena jugularis. Secara invasif dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: 1) memasang kateter CVP yang ditempatkan pada vena kava superior atau atrium kanan, teknik pengukuran dptemnggunakan manometer air atau transduser, 2) Melalui bagian proksimal kateter  arteri pulmonalis . Pengukuran ini hanya dapat dilakukan dengan menggunakan sistem transduser.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekanan Vena Jugularis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasien dalam posisi berbaring setengah duduk,kemudian perhatikan; 1) denyut vena jugularis interna, denyut ini tidak bisa diraba tetapi bisa dilihat. Akan tampak gel a (kontraksi atrium), c (awal kontraksi ventrikel-katup trikuspid menutup), gel v (pengisian atrium-katup trikuspid masih menutup), 2) normal,pengembungan vena setinggi manubrium sterni, 3) ila lebih tinggi bearti tekanan hidrostatik atrium kanan meningkat, misal pada gagal jantung kanan . Menurut Kadir A (2007), dalam keadaan normal vena jugularis tidak pernah membesar, bila tekanan atrium kanan (CVP) naik sampai 10 mmHg vena jugulais akan mulai membesar. Tinggi CVP= reference point tinggi atrium kanan ke angulus ludovici ditambah garis tegak lurus, jadi CPV= 5 + n cmH2O.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemantauan CVP dengan Manometer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan untuk pemasangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Persiapan pasien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Memberikan penjelasan pd klien dan lg ttg:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        tujuan pemasangan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        daerah pemasangan, &amp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        prosedur yang akan dikerjakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Persiapan alat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Kateter CVP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Set CVP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Spuit 2,5 cc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Antiseptik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Obat anaestesi lokal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Sarung tangan steril&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Bengkok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Cairan NaCl 0,9% (25 ml)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Plester&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan untuk Pengukuran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.  Persiapan Alat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Skala pegnukur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Selang penghubung (manometer line)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Standar infus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Three way stopcock&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Pipa U&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Set infus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.   Cara Merangkai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Menghubungkan set infus dg cairan NaCl 0,9%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Mengeluarkan udara dari selang infuse&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Menghubungkan skala pengukuran dengan threeway stopcock&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Menghubungkan three way stopcock dengan selang infuse&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Menghubungkan manometer line dengan three way stopcock&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Mengeluarkan udara dari manometer line&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Mengisi cairan ke skala pengukur sampai 25 cmH2O&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Menghubungkan manometer line dengan kateter yang sudah terpasang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.   Cara Pengukuran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Memberikan penjelasan kepada pasien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Megatur posisi pasien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Lavelling, adalah mensejajarkan letak jantung (atrium kanan) dengan skala pengukur atau tansduser&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Letak jantung dapat ditentukan dg cara membuat garis pertemuan antara sela iga ke empat (ICS IV) dengan garis pertengahan aksila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Menentukan nilai CVP, dengan memperhatikan undulasi pada manometer dan nilai dibaca pada akhir ekspirasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Membereskan alat-alat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Memberitahu pasien bahwa tindakan telah selesai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemantauan dengan Transduser&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilakukan pada CVP, arteri pulmonal, kapiler arteri pulmonal, dan tekanan darah arteri sistemik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.   Persiapan pasien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Memberikan penjelasan ttg: tujuan pemasangan, daerah pemasangan, dan prosedur yang akan dikerjakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Mengatur posisi pasien sesuai dengan daerah pemasangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.   Persiapan untuk penusukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Kateter sesuai kebutuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Set instrumen steril untuk tindakan invasif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Sarung tangan steril&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Antiseptik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Obat anestesi lokal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Spuit 2,5 cc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Spuit 5 cc/10 cc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Bengkok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Plester&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.    Persiapan untuk pemantauan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Monitor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Tranduser&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Alat flush&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Kantong tekanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Cairan NaCl 0,9% (1 kolf)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Heparin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Manometer line&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Spuit 1 cc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Three way stopcock&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Penyanggah tranduser/standar infus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Pipa U&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Infus set&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.   Cara Merangkai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Mengambil heparin sebanyak 500 unit kemudian memasukkannya ke dalam cairan infuse&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Menghubungkan cairan tsb dg infuse&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Mengeluarkan udara dari selang infuse&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Memasang cairan infus pada kantong tekanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Menghubungkan tranduser dg alat infuse&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Memasang threeway stopcock dg alat flush&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Menghubungkan bagian distal selang infus dengan alat flush&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Menghubungkan manometer dg threeway stopcock&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Mengeluarkan udara dari seluruh sistem alat pemantauan (untuk memudahkan beri sedikit tekanan pada kantong tekanan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Memompa kantong tekanan sampai 300 mmHg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Menghubungkan kabel transduser dengan monitor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Menghubungkan manometer dengan kateter yang sudah terpasang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Melakukan kalibrasi alat sebelumpengukuran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.   Cara Kalibrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Lavelling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Menutup threeaway ke arah pasien dan membuka threeway ke arah udara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Mengeluarkan cairan ke udara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Menekan tombol kalibrasi sampai pada monitor terlihat angka nol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Membuka threeway kearah klien dan menutup ke arah udara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Memastikan gelombang dan nilai tekanan terbaca dengan baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.healthsystem.virginia.edu/Internet/Anesthesiology-Elective/images/ALLCVKITcopy.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 500px; height: 369px;" src="http://www.healthsystem.virginia.edu/Internet/Anesthesiology-Elective/images/ALLCVKITcopy.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Peranan Perawat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.   Sebelum Pemasangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Mempersiapkan alat untuk penusukan dan alat-alat untuk pemantauan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Mempersiapkan pasien; memberikan penjelasan, tujuan pemantauan, dan mengatur posisi sesuai dg daerah pemasangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Saat Pemasangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Memelihara alat-alat selalu steril&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Memantau tanda dan gejala komplikasi yg dpt terjadi pada saat pemasangan spt gg irama jtg, perdarahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Membuat klien merasa nyaman dan aman selama prosedurdilakukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Setelah Pemasangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Mendapatkan nilai yang akurat dengan cara: 1) melakukan Zero Balance: menentukan titik nol/letak atrium, yaitu pertemuan antara garis ICS IV dengan         midaksila, 2) Zero balance: dilakukan pd setiap pergantian dinas , atau gelombang tidak sesuai dg kondisi klien, 3) melakukan kalibrasi untuk mengetahui fungsi           monitor/transduser, setiap shift, ragu terhadap gelombang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Mengkorelasikan nilai yg terlihat pada monitor dengan keadaan klinis klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Mencatat nilai tekanan dan kecenderungan perubahan hemodinamik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Memantau perubahan hemodinamik setelah pemberian obat-obatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Mencegah terjadi komplikasi &amp; mengetahui gejala &amp; tanda komplikasi (spt. Emboli udara, balon pecah, aritmia, kelebihan cairan,hematom, infeksi,penumotorak, rupture arteri pulmonalis, &amp; infark pulmonal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Memberikan rasa nyaman dan aman pada klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–        Memastikan letak alat2 yang terpasang pada posisi yang tepat dan cara memantau gelombang tekanan pada monitor dan melakukan pemeriksaan foto toraks (CVP, Swan gans).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: &lt;a href="http://lukmanrohimin.blogspot.com"&gt;Ns. Lukman,SKep,MM&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rokhaeni H. (2001). Buku Ajar Keperawatan Kardiovaskuler, Jakarta: Bidang Diklat RS Jantung Harapan Kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Altman:  Nursing Skills&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadir A. (2007). Sirkulasi Cairan Tubuh:FK UKWS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutanto M. (2004). Hemodinamik&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-8642733811890343639?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/8642733811890343639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/hemodinamik-dan-central-venouse.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/8642733811890343639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/8642733811890343639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/hemodinamik-dan-central-venouse.html' title='Hemodinamik dan Central Venouse Pressure (CVP)'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/TBtnvx2iLpI/AAAAAAAAANU/eqx3nreEN40/s72-c/1331340-1331351-940865-940976.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-5323195973458883344</id><published>2010-06-13T20:08:00.002+07:00</published><updated>2010-06-13T20:15:20.618+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keperawatan'/><title type='text'>TRAUMA KAPITIS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Lx3YYtd_hAo/SffKb5R6BBI/AAAAAAAAAXU/5P2fRLB25QU/s320/Acute_Subdural_hematoma550_ab.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 269px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Lx3YYtd_hAo/SffKb5R6BBI/AAAAAAAAAXU/5P2fRLB25QU/s320/Acute_Subdural_hematoma550_ab.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas. Di samping penanganan di lokasi kejadian dan selama transportasi korban ke rumah sakit, penilaian dan tindakan awal di ruang gawat darurat sangat menentukan penatalaksanaan dan prognosis selanjutnya.&lt;br /&gt;Tindakan resusitasi, anamnesis dan pemeriksaan fisis umum serta neurologis harus dilakukan secara serentak. Pendekatan yang sistematis dapat mengurangi kemungkinan terlewatinya evaluasi unsur vital. Tingkat keparahan cedera kepala, menjadi ringan segera ditentukan saat pasien tiba di rumah sakit.&lt;br /&gt;DEFINISI&lt;br /&gt;Trauma kapitis adalah suatu trauma mekanik yang secara langsung atau tidak langsung mengenai kepala dan mengakibatkan gangguan fungsi neurologis. (1)&lt;br /&gt;SINONIM (1)&lt;br /&gt;Cedera kepala, Cranicerebral trauma, Head injury&lt;br /&gt;PATOFISIOLOGI (1)&lt;br /&gt;Berat ringannya daerah otak yang mengalami cedera akibat trauma kapitis bergantung pada :&lt;br /&gt;1. Besar dan kekuatan benturan&lt;br /&gt;2. Arah dan tempat benturan&lt;br /&gt;3. Sifat dan keadaan kepala sewaktu menerima benturan&lt;br /&gt;Sehubungan dengan pelbagai aspek benturan tersebut maka dapat mengakibatkan lesi otak berupa :&lt;br /&gt;• Lesi bentur (Coup)&lt;br /&gt;• Lesi antara (akibat pergeseran tulang, dasar tengkorak yang menonjol/falx dengan otak, peregangan dan robeknya pembuluh darah dan lain-lain = lesi media)&lt;br /&gt;• Lesi kontra (counter coup)&lt;br /&gt;Lesi benturan otak menimbulkan beberapa kejadian berupa :&lt;br /&gt;1. Gangguan neurotransmitter sehingga terjadi blok depolarisasi pada sistem ARAS (Ascending Reticular Activating System yang bermula dari brain stem)&lt;br /&gt;2. Retensi cairan dan elektrolit pada hari pertama kejadian&lt;br /&gt;3. Peninggian tekanan intra kranial ( + edema serebri)&lt;br /&gt;4. Perdarahan petechiae parenchym ataupun perdarahan besar&lt;br /&gt;5. Kerusakan otak primer berupa cedera pada akson yang bisa merupakan peregangan ataupun sampai robeknya akson di substansia alba yang bisa meluas secara difus ke hemisfer sampai ke batang otak&lt;br /&gt;6. Kerusakan otak sekunder akibat proses desak ruang yang meninggi dan komplikasi sistemik hipotensi, hipoksemia dan asidosis&lt;br /&gt;Akibat adanya cedera otak maka pembuluh darah otak akan melepaskan serotonin bebas yang berperan akan melonggarkan hubungan antara endotel dinding pembuluh darah sehingga lebih perniabel, maka Blood Brain Barrier pun akan terganggu, dan terjadilah oedema otak regional atau diffus (vasogenik oedem serebri)&lt;br /&gt;Oedema serebri lokal akan terbentuk 30 menit sesudah mendapat trauma dan kemudian oedema akan menyebar membesar. Oedema otak lebih banyak melibatkan sel-sel glia, terutama pada sel astrosit (intraseluler) dan ekstraseluler di substansia alba. Dan ternyata oedema serebri itu meluas berturut-turut akan mengakibatkan tekanan intra kranial meninggi, kemudian terjadi kompresi dan hypoxic iskhemik hemisfer dan batang otak dan akibat selanjutnya bisa menimbulkan herniasi transtetorial ataupun serebellar yang berakibat fatal.&lt;br /&gt;Ada sekitar 60-80 % pasien yang meninggal dikarenakan menderita trantetorial herniasi dan kelainan batang otak tanpa adanya lesi primer akibat trauma langsung pada batang otak. Kerusakan yang hebat yang disertai dengan kerusakan batang otak akibata proses diatas mengakibatkan kelainan patologis nekroskortikal, demyelinisasi diffus, banyak neuron yang rusak dan proses gliosis, sehingga jika penderita tidal meninggal maka bisa terjadi suatu keadaan vegetatif dimana penderita hanya dapat membuka matanya tanpa ada daya apapun (akinetic-mutism/coma vigil, apallic state, locked in syndrome).&lt;br /&gt;Akinetic mutism coma vigil lesi terutama terjadi pada daerah basal frontal yang bilateral dan/atau daerah mesensefalon posterior. Locked in syndrome kerusakan terutama pada eferen motor pathway dan daerah depan pons. Apallic states kerusakan luas pada daerah korteks serebri.&lt;br /&gt;Sistem peredaran darah otak mempunyai sistem autoregulasi untuk mempertahankan Cerebral Blood Flow (CBF) yang optimal sehingga Tekanan Perfusi Otak (TPO) juga adekuat (TPO minimal adalah sekitar 40-50 mmHg untuk mensuplai seluruh daerah otak). Jika Tekanan Intra Kranial (TIK) meninggi maka menekan kapiler serebral sehingga terjadi serebral hipoksia diffus mengakibatkan kesadaran akan menurun.&lt;br /&gt;Peninggian TIK mengakibatkan CBF dan TPO menurun, maka akan terjadi kompensasi (Cushing respons), penekanan pada daerah medulla oblongata, hipoksia pusat vasomotor, sehingga mengakibatkan kompensasi vasokonstriksi perifer (peninggian tekanan darah sistemik) bradikardi,, pernafasan yang melambat dan muntah-muntah.&lt;br /&gt;TIK yang meninggi mengakibatkan hypoxemia dan respiratori alkalosis (PO2 menurun dan PCO2 meninggi) akibatnya terjadi vasodilatasi kapiler serebral. Selama pembuluh darah tersebut masih sensitif terhadap tekanan CO2), maka CBF dan TPO akan tercukupi.&lt;br /&gt;Jika kenaikan TIK terlalu cepat maka Cushing respons tidaklah bisa selalu terjadi. Demikian pula jika penurunan tekanan darah sistemik terlalu cepat dan terlalu rendah maka sistem autoregulasi tidak dapat berfungsi dan CBF pun akan menurun sehingga fungsi serebral terganggu.&lt;br /&gt;Selain yang tersebut diatas peninggian TIK juga dapat menyebabkan gangguan konduksi pada pusat respirasi dan pusat kardiovaskuler di batang otak. Akibatnya pols berubah cepat dan lemah serta tekanan darah sistemik akan drops menurun secara drastis. Respirasi akan berubah irreguler, melambat dan steatorous.&lt;br /&gt;Pada cedera otak berat terjadi gangguan koordinasi di antara pusat pernafasan volunter di korteks dengan pusat pernafasan automatik di batang otak. Ternyata bahwa herniasi serebellar tonsil ke bawah yang melewati foramen magnum hanya mempunyai efek yang minimal terhadap sistem kecepatan dan ritme pernafasan, kecuali jika herniasinya memang sudah terlalu besar maka tiba-tiba saja bisa terjadi respiratory arrest.&lt;br /&gt;MONITORING KLINIS(1,5)&lt;br /&gt;Untuk memudahkan para perawat memonitor secara intensif perkembangan tingkat kesadaran penderita per-jam dan per-hari secara ketat, dibuatlah suatu Skala Koma Glasgow (oleh Bryan Jennett) yang menyangkut masalah buka mata, repons verbal dan respons motorik. Pelaksanaannya sangat mudah sehingga bisa cepat di mengeti dan diterapkan oleh para perawat. Jika pengamatan tingkat kesadaran penderita trauma kapitis tidak cukup lengkap atau hanya dengan SKG, maka belumlah dapat menggambarkan keadaan neurologik penderita yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Observasi neurologik terus menerus penderita koma haruslah disertai dengan :&lt;br /&gt;1. Monitor fungsi batang otak&lt;br /&gt;Besar dan reaksi pupil&lt;br /&gt;Okulosefalik respons (Doll’s eye phenomen)&lt;br /&gt;Okulovestibuler respons/okuloauditorik respons&lt;br /&gt;2. Monitor pola pernafasan (untuk melihat lesi-proses lesi)&lt;br /&gt;Cheyne Stokes : lesi di hemisfer atau mesensefalon atas&lt;br /&gt;Central neurogenic hyperventilation : lesi dibatas mesensefalon dengan pons&lt;br /&gt;Apneustic breathing : lesi di pons&lt;br /&gt;Ataxic breathing : lesi di medulla oblongata&lt;br /&gt;3. Pemeriksaan fungsi motorik&lt;br /&gt;Kekuatan otot&lt;br /&gt;Refleks tendon, tonus otot&lt;br /&gt;4. Pemeriksaan funduskopi&lt;br /&gt;5. Pemeriksaan radiologi : X foto tengkorak, CT-Scan, MRI atau kalau perlu EEG&lt;br /&gt;Meskipun kenyataan bahwa 70 % X foto tengkorak yang dilakukan pada semua kasus trauma kapitis adalah normal tetapi demi kepentingan medikolegal X-ray foto tengkorak wajib rutin dilakukan.&lt;br /&gt;SKALA KOMA GLASGOW(1,4,5)&lt;br /&gt;Nilai&lt;br /&gt;Buka Mata Spontan 4&lt;br /&gt;Atas perintah 3&lt;br /&gt;Terhadap nyeri 2&lt;br /&gt;Tak ada reaksi 1&lt;br /&gt;Respons Verbal Orientasi baik 5&lt;br /&gt;Bingung-bingung 4&lt;br /&gt;Kata-kata ngawur 3&lt;br /&gt;Kata-kata tak dimengerti 2&lt;br /&gt;Tak ada reaksi 1&lt;br /&gt;Respons Motorik Gerak turut perintah 6&lt;br /&gt;Menghindari terhadap nyeri 5&lt;br /&gt;Flexi withdrawal 4&lt;br /&gt;Flexi abnormal 3&lt;br /&gt;Ekstensi terhadap nyeri 2&lt;br /&gt;Tak ada reaksi 1&lt;br /&gt;Dengan bantuan pemeriksaan radiologi X foto polos/Brain CT-Scan/MRI dapat melihat kelainan-kelainan berupa fraktur, edema, kontusio jaringan, hematoma intrakranial dan lain-lain.&lt;br /&gt;KLASIFIKASI(1,3,4)&lt;br /&gt;Ada beberapa jenis klasifikasi trauma kapitis, tetapi dengan pelbagai pertimbangan dari berbagai aspek, maka bagian neurologi menganut pembagian sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Trauma kapitis yang tidak membutuhkan tindakan operatif (95%) terdiri atas :&lt;br /&gt;1. Komosio serebri&lt;br /&gt;2. Kontusio serebri&lt;br /&gt;3. impressi fraktur tanpa gejala neurologis (&lt; 1 cm) 4. Fraktur basis kranii 5. Fraktur kranii tertutup b. Trauma kapitis yang memerlukan tindakan operatif (1-5%) 1. Hematoma intra kranial yang lebih besar dari 75 cc Epidural Subdural Intraserebral 2. Fraktur kranii terbuka ( + laserasio serebri) 3. Impressi fraktur dengan gejala neurologis ( &gt; 1 cm)&lt;br /&gt;4. Likuorrhoe yang tidak berhenti dengan pengobatan konservatif&lt;br /&gt;Sebagai penambah pengetahuan perlu dijelaskan bahwa ada beberapa sentra yang membagi klasifikasi atas dasar sehubungan dengan Skala Koma Glasgow-nya yaitu :&lt;br /&gt;Mild head injury SKG score : 13-15&lt;br /&gt;Moderate head injury SKG score : 9-13&lt;br /&gt;Severe head injury SKG score : &lt; 8 Jika angka SKG dibawah 8 dan komanya lebih dari 6 jam maka menunjukkan kerusakan otak yang parah dan prognosa biasanya jelek. Lebih dalam dan lama komanya juga menggambarkan atau mempunyai korelasi dengan lebih dalamnya letak kerusakan otaknya. 1. KOMOSIO SEREBRI (1,2) (gegar otak, insiden : 80 %) Komosio serebri yaitu disfungsi neuron otak sementara yang disebabkan oleh trauma kapitis tanpa menunjukkan kelainan mikroskopis jaringan otak. Patologi dan Simptomatologi Benturan pada kepala menimbulkan gelombang tekanan di dalam rongga tengkorak yang kemudian disalurkan ke arah lobang foramen magnum ke arah bawah canalis spinalis dengan demikian batang otak teregang dan menyebabkan lesi iritatif/blokade sistem reversible terhadap sistem ARAS. Pada komosio serebri secara fungsional batang otak lebih menderita daripada fungsi hemisfer. Keadaan ini bisa juga terjadi oleh karena tauma tidak langsung yaitu jatuh terduduk sehingga energi linier pada kolumna vertebralis diteruskan ke atas sehingga juga meregangkan batang otak. Akibat daripada proses patologi di atas maka terjadi gangguan kesadaran (tidak sadar kurang dari 20 menit) bisa diikuti sedikit penurunan tekanan darah, pols dan suhu tubuh. Muntah dapat juga terjadi bila pusat muntah dan keseimbangan di medula oblongata terangsang. Gejala : - pening/nyeri kepala - tidak sadar/pingsan kurang dari 20 menit - amnesia retrograde : hilangnya ingatan pada peristiwa beberapa lama sebelum kejadian kecelakaan (beberapa jam sampai beberapa hari). Hal ini menunjukkan keterlibatan/gangguan pusat-pusat di korteks lobus temporalis. - Post trumatic amnesia : (anterograde amnesia) lupa peristiwa beberapa saat sesudah trauma. Derajat keparahan trauma yang dialaminya mempunyai korelasi dengan lamanya waktu daripada retrograde amnesia, post traumatic amnesia dan masa-masa confusionnya. Amnesia ringan disebabkan oleh lesi di hipokampus, akan tetapi jika amnesianya berat dan menetap maka lesi bisa meluas dari sirkuit hipokampus ke garis tengah diensefalon dan kemudian ke korteks singulate untuk bergabung dengan lesi diamigdale atau proyeksinya ke arah garis tengah talamus dan dari situ ke korteks orbitofrontal. Amnesi retrograde dan anterograde terjadi secara bersamaan pada sebagian besar pasien (pada kontusio serebri 76 % dan komosio serebri 51 %). Amnesia retrograde lebih sering terjadi daripada amnesia retrograde. Amnesia retrograde lebih cepat pulih dibandingkan dengan amnesia anterograde. Gejala tambahan : bradikardi dan tekanan darah naik sebentar, muntah-muntah, mual, vertigo. (vertigo dirasakan berat bila disertai komosio labirin). Bila terjadi keterlibatan komosio medullae akan terasa ada transient parestesia ke empat ekstremitas. Gejal-gejala penyerta lainnya (sindrom post trauma kapitis), adalah nyeri kepala, nausea, dizziness, sensitif terhadap cahaya dan suara, iritability, kesukaran konsentrasi pikiran, dan gangguan memori. Sesudah beberapa hari atau beberapa minggu ; bisa di dapat gangguan fungsi kognitif (konsentrasi, memori), lamban, sering capek-capek, depresi, iritability. Jika benturan mengenai daerah temporal nampak gangguan kognitif dan tingkah laku lebih menonjol. Prosedur Diagnostik : 1. X foto tengkorak 2. LP, jernih, tidak ada kelaina 3. EEG normal Terapi untuk komosio serebri yaitu : istirahat, pengobatan simptomatis dan mobilisasi bertahap. Setiap penderita komosio serebri harus dirawat dan diobservasi selama minimal 72 jam. Awasi kesadarannya, pupil dan gejala neurologik fokal, untuk mengantisipasi adanya lusid interval hematom. 2. KONTUSIO SEREBRI (1,2,3) (memar otak, insiden : 15-19 %) Kontusio serebri yaitu suatu keadaan yang disebabkan trauma kapitis yang menimbulkan lesi perdarahan intersitiil nyata pada jaringan otak tanpa terganggunya kontinuitas jaringan dan dapat mengakibatkan gangguan neurologis yang menetap. Jika lesi otak menyebabkan terputusnya kontinuitas jaringan, maka ini disebut laserasio serebri. Patofisiologi dan Gejala : Pasien tidak sadar &gt; 20 menit&lt;br /&gt;Fase I = fase shock&lt;br /&gt;Keadaan ini terjadi pada awal 2 x 24 jam disebabkan :&lt;br /&gt;- kolaps vasomotorik dan kekacauan regulasi sentral vegetatif&lt;br /&gt;- temperatur tubuh menurun, kulit dingin, ekstremitas dan muka sianotik&lt;br /&gt;- respirasi dangkal dan cepat&lt;br /&gt;- nadi lambatsebentar kemudian berubah jadi cepat, lemah dan iregular&lt;br /&gt;- tekanan darah menurun&lt;br /&gt;- refleks tendon dan kulit menghilang&lt;br /&gt;- babinsky refleks positif&lt;br /&gt;- pupil dilatasi dan refleks cahaya lemah&lt;br /&gt;Fase II = fase hiperaktif central vegetatif&lt;br /&gt;- temperatur tubuh meninggi&lt;br /&gt;- pernafasan dalam dan cepat&lt;br /&gt;- takikardi&lt;br /&gt;- sekret bronkhial meningkat berlebihan&lt;br /&gt;- tekanan darah menaik lagi dan bisa lebih dari normal&lt;br /&gt;- refleks-refleks serebral muncul kembali&lt;br /&gt;Fase III = cerebral oedema&lt;br /&gt;Fase ini sama bahayanya dengan fase shock dan dapat mendatangkan kematian jika tidak ditanggulangi secepatnya.&lt;br /&gt;Fase IV = fase regenerasi/rekonvalesens&lt;br /&gt;Temperatur tubuh kembali normal, gejala fokal serebral intensitas berkurang atau menghilang kecuali lesinya luas.&lt;br /&gt;Gejala lain :&lt;br /&gt;Fokal neurologik :&lt;br /&gt;• Hemiplegia, tetraplegia, decerebrate rigidity&lt;br /&gt;• Babinsky refleks&lt;br /&gt;• Afasia, hemianopsia, kortikal blindness&lt;br /&gt;• Komplikasi saraf otak :&lt;br /&gt;- fraktur os criribroformis : gangguan N. I (olfaktorius)&lt;br /&gt;- fraktur os orbitae : gangguan N. III, IV dan VI&lt;br /&gt;- herniasi uncus, gangguan N. III&lt;br /&gt;- farktur os petrosum (hematotympani) : gangguan N. VII dan N. VIII&lt;br /&gt;- perdarahan tegmentum : batang otak ; opthalmoplegia total&lt;br /&gt;- fraktur basis kranii post : gangguan N. X, XI, XII&lt;br /&gt;• Tanda rangsang meningeal : akibat iritasi daerah yang mengalir ke arachnoid&lt;br /&gt;• Gangguan organik brain sindroma : delirium&lt;br /&gt;Kontusio Serebri pada Anak-anak&lt;br /&gt;Kontusio serebri pada anak-anak dibawah 6 tahun kadang-kadang gejalanya berbeda dengan dewasa antara lain :&lt;br /&gt;1. adanya fase latent, dimana anak tersebut tak menunjukkan kelainan kesadaran dan tingkah laku. Fase latent ini dapat berlangsung dampai 16 jam.&lt;br /&gt;2. sesudah fase latent, diikuti serangan akut gejala fokal serebral serta kehilangan kesadaran dan kejang-kejang.&lt;br /&gt;3. jika kondisi kontusionya tidak berat maka sesudah 4 hari sang anak pulih normal bermain-main seakan tidak ada apa-apa lagi.&lt;br /&gt;Hal ini disebabkan anak-anak tidak melalui fase I shock, tapi langsung ke fase II. Di duga hal tersebut dikarenakan tulang kranium anak masih elastis sehingga berfungsi sebagai shock absorber yang baik terhadap trauma.&lt;br /&gt;Diagnostik bantu :&lt;br /&gt;1. X foto tengkorak polos, Brain CT-Scan, MRI&lt;br /&gt;2. LP bercampur darah&lt;br /&gt;3. EEG abnormal&lt;br /&gt;3. EPIDURAL HEMATOM(1,2,3)&lt;br /&gt;Hematoma terjadi karena perdarahan antara tabula interna kranii dengan duramater. Insiden terjadinya 1-3 %.&lt;br /&gt;Patofisiologi dan Simptomatologi&lt;br /&gt;Hematoma ini disebabkan oleh :&lt;br /&gt;1. pecahnya arteri dan atau vena meningea media&lt;br /&gt;2. perdarahan sinus venosus : misalnya sinus sphenoparietalis, sinus sagitalis posterior. Perdarahn sinus ini bisa bersifat progresif.&lt;br /&gt;Berhubung perdarahannya kebanyakan massif atau arteriil maka lucid interval cepat antara beberapa menit, beberapa jam sampai 1-2 hari. Volume darah biasanya setelah mencapai 75 cc dan melepaskan duramater dari ikatannya pada periost baru tampak ada gejala nyata penurunan kesadaran. Lucid interval adalah waktu sadar antara terjadinya trauma sampai timbulnya penurunan kesadaran ulang. Jadi biasanya epidural hematoma sering bersamaan dengan komosio serebri atau kontusio serebri. Jika bersamaan dengan kontusio serebri berat, lusid interval tidak tampak karena gejalanya berhubungan antara superposisi dengan kontusionya.&lt;br /&gt;Pada anak-anak jarang terjadi epidural hematom sebab duramaternya masih melekat erat pada dinding periosteum kranium. Pada dewasa perlekatan duramater paling lemah di daerah temporal.&lt;br /&gt;Tanda-tanda yang paling dapat dipercaya suatu epidural hematom apabila ada gejala-gejala seperti dibawah :&lt;br /&gt;1. adanya lucid interval&lt;br /&gt;2. kesadarn yang makin menurun&lt;br /&gt;3. hemiparese yang terlambat kontralateral lesi&lt;br /&gt;4. pupil anisokor. Unilateral midriasis terjadi karena lesi N. III pada sisi akibat penekanan daripada herniasi uncus gyrus hipokampus lobus temporalis sehingga N. III terjerat&lt;br /&gt;5. babinsky unilateral kontralateral lesi (bisa juga bilateral)&lt;br /&gt;6. fraktur kranii yang menyilang pada sisi (sering di temporal)&lt;br /&gt;7. kejang&lt;br /&gt;8. bradikardi&lt;br /&gt;Jika epidural hematom terletak pada fossa kranii posterior gejalanya tidak sama dengan yang di atas, tapi sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. lusid interval tidak jelas&lt;br /&gt;2. fraktur kranii daerah oksipital&lt;br /&gt;3. kehilangan kesadarannya terjadi cepat&lt;br /&gt;4. terjadi gangguan pernafasan dan serebellum&lt;br /&gt;5. pupil isokor&lt;br /&gt;biasanya disebabkan oleh karena sinus transversus atau confluence sinuum pecah maka prognosanya jelek.&lt;br /&gt;Diagnosa bantu&lt;br /&gt;1. X foto tengkorak : ada fraktur yang menyilang&lt;br /&gt;2. Brain CT-Scan&lt;br /&gt;3. Arteriografi karotis&lt;br /&gt;4. EEG abnormal&lt;br /&gt;5. LP tekana meninggi jernih&lt;br /&gt;4. SUBDURAL HEMATOMA(1,2,3)&lt;br /&gt;Hematoma yang terbentuk karena adanya perdarahn di antara duramater dan arakhnoid. Hygroma subdural yaitu subdural hematom yang diikuti perobekan arakhnoid dan darah bergabung dengan likuor serebrospinal&lt;br /&gt;Penyebabnya adalah robeknya bridging vein (vena-vena yang menyebrang dari korteks ke sinus-sinus sagitalis superior) antara lain :&lt;br /&gt;1. trauma kapitis&lt;br /&gt;2. kaheksia&lt;br /&gt;3. gangguan diskrasia darah&lt;br /&gt;lokasi : sering di daerah frontal, parietal dan temporal.&lt;br /&gt;Subdural hematom sering bersamaan dengan kontusio serebral. Lusid interval pada subdural hematoma lebih lama daripada epidural hematom karena yang mengalami perdarahan adalah pembuluh darah venous kecil akibatnya perdarahannya tidak masif bahkan hematomanya itu sendiri bisa sebagai tampon bagi vena-vena yang robek dimana perdarahan dapat berhenti sendir.&lt;br /&gt;Klasifikasi :&lt;br /&gt;a. Akut Subdural Hematoma (SDH) : lusid interval 0-5 hari&lt;br /&gt;Akut SDH biasanya bersamaan dengan kontusio berat akibatnya lusid interval dan gejala subdural tidak terdeteksi. Biasanya diketahui pada diagnosa postmortem atau pada saat otopsi. Penderita akut SDH langsung jatuh koma, pupil anisokor dan hemiplegia kontralateral. Prognosisnya fatal.&lt;br /&gt;Diagnosis bantu :&lt;br /&gt;- CT-Scan&lt;br /&gt;- LP berdarah&lt;br /&gt;- Arteriografi karotis&lt;br /&gt;- EEG abnormal&lt;br /&gt;b. Subakut Subdural Hematoma : lusid interval 5-15 hari&lt;br /&gt;Gejala nyeri kepala, kesadaran makin lama makin menurun, pelan-pelan visus makin kabur disebabkan papil oedema. Jarang bersamaan dengan kontusio serebri. Kemudian timbul hemiplegia secara perlahan.&lt;br /&gt;Diagnosa bantu : sama dengan akut SDH&lt;br /&gt;Prognosis sangat baik jika operatif pada subdural yang besar cepat dilakukan 75 % kembali sembuh sempurna.&lt;br /&gt;c. Kronik Subdural Hematoma : lusid interval 15 hari sampai bertahun-tahun&lt;br /&gt;Pecahnya bridging vein makin lama makin besar dan hematomanya sendiri berfungsi sebagai tampon bagi vena-vena yang pecah akibatnya perdarahn berhenti, hematoma kemudian membeku dan dinding hematoma membentuk jaringan ikat kapsula sebagai pembatas di sekitar hematoma. Gumpalan darah kemudian lisis dengan osmolaritas lebih tinggi dari cairan intersitiil di sekitarnya yang bisa menarik cairan sekitarnya atas dasar beda osmolaritas. Lama kelamaan cairan jumlahnya bertambah sehingga mengakibatkan proses desak ruang dan tekanan intrakranial meninggi.&lt;br /&gt;Gejala awal :&lt;br /&gt;1. sefalgia terus menerus intermiten, sebab tertariknya duramater dan kompresi jaringan otak di daerah sekitar hematoma&lt;br /&gt;2. kesadaran makin lama makin menurun samapi koma&lt;br /&gt;3. terjadi perubahan mental dan fungsi intelelek&lt;br /&gt;4. papil oedem, pandangan makin kabur dan diplopia parese N. VI&lt;br /&gt;5. hemiparesis yang pelan-pelan&lt;br /&gt;6. pupil bisa anisokor&lt;br /&gt;7. tekanan LP meninggi&lt;br /&gt;5. INTRASEREBRAL HEMATOMA(1,2,3)&lt;br /&gt;Perdarahan dalam jaringan otak karena pecahnya arteri yang besar di dalam jaringan otak, sebagai akibat trauma kapitis berat, kontusio berat. Hematoma dapat hanya satu saja ataupun multiple.&lt;br /&gt;Jika hematoma tunggal dan letaknya di permukaan korteks, tindakan operatif dapat dilakukan. Pada semua kasus intra kranial hematoma, bila hematomanya kecil, pengobatan konservatif dapat dipertimbangkan tanpa memerlukan tindakan operatif.&lt;br /&gt;6. FRAKTUR BASIS KRANII (1,2,3)&lt;br /&gt;Fraktur basis kranii dapat dilakukan tanpa diikuti kehilangan kesadaran, kecuali memang diserta adanya komosio ataupun kontusio serebri. Gejala tergantung letak frakturnya.&lt;br /&gt;1. Fraktur basis kranii media biasanya fraktur terjadi pada os petrosum&lt;br /&gt;- keluar darah dari telinga dan likuorrhoe&lt;br /&gt;- parese N. VII dan VIII sering dijumpai&lt;br /&gt;2. Fraktur basis kranii posterior&lt;br /&gt;- unilateral/bilateral orbital hematom (Brill’s hematom)&lt;br /&gt;- gangguan N. II jika fraktur melalui foramen optikum&lt;br /&gt;- perdarahan melalui hidung dan likuorrhoe dan diikuti : Anosmia, anosmia akibat trauma bisa persistent, jarang bisa sembuh sempurna.&lt;br /&gt;3. Fraktur basis kranii posterior&lt;br /&gt;- gejala lebih berat, kesadaran menurun&lt;br /&gt;- tampak belakang telinga berwarna biru (Battle sign)&lt;br /&gt;Diagnosa bantu : 50 % fraktur basis tidak dapat dilihat pada X foto polos basis.&lt;br /&gt;PEMERIKSAAN RADIOLOGIS PADA TRAUMA KAPITIS(1)&lt;br /&gt;X Foto Tengkorak&lt;br /&gt;Fraktur tengkorak pada trauma kapitis hanya 3-15 % saja dan kasus-kasus yang ada fraktur tidak ada selalu ada kelainan intra kranial yang berarti. Namun demikian X foto polos rutin dilakukan untuk setiap kasus trauma kapitis. Ini penting sebab :&lt;br /&gt;1. Dari semua kematian akibat trauma kepala 80 % didapati fraktur tengkorak&lt;br /&gt;2. Pembuatan X foto tengkorak diperlukan untuk kepentingan medikolegal&lt;br /&gt;3. Tindakan atau pengawasan klinik ditentukan dengan melihat jenis dan lokasi fraktur&lt;br /&gt;Jenis foto :&lt;br /&gt;1. Foto antero-posterior&lt;br /&gt;2. Foto lateral&lt;br /&gt;3. Foto Towne : foto ini dibuat seperti foto AP tetapi dengan tabung rontgen diarahkan 30 derajat kraniokaudal. Foto ini penting untuk melihat fraktur di daerah oksipital yang sulit di lihat dengan foto AP&lt;br /&gt;4. Foto Waters : dibuat bila curiga ada fraktur tulang muka&lt;br /&gt;5. Foto basis kranii : dibuat bila curiga ada fraktur basis&lt;br /&gt;6. Foto tangensial : dibuat bila ada fraktur impresi, untuk melihat kedudukan pas fragmen tulang yang melesak masuk&lt;br /&gt;Keterangan gambar :&lt;br /&gt;1. epidural hematoma/subdural hematom&lt;br /&gt;2. intra serebral hematoma&lt;br /&gt;3. impresio/depressed fraktur&lt;br /&gt;4. herniasi uncus&lt;br /&gt;Jenis-jenis fraktur tengkorak : (1,2,3)&lt;br /&gt;1. Fraktur linier : garis fraktur terlihat lebih radiolusen dibandingkan dengan gambaran pembuluh darah dan sutura, dan biasanya melebar pada bagian tengah dan menyempit pada ujung-ujungnya. Perhatikan juga lokasi pembuluh darah dan sutura mempunyai lokasi anatomis tertentu.&lt;br /&gt;2. Fraktur impressi : jika impressi melebihi 1 cm dapat merobek duramater dan atau jaringan otak dibawahnya. Fraktur impressi terlihat sebagai garis atau daerah yang radiopaque dari tulang sekitarnya disebabkan bertumpuknya tulang.&lt;br /&gt;3. Fraktur diastasis sutura : tampak sebagai pelebaran sutura (dalam keadaan normal sutura tidak melebihi 2 mm)&lt;br /&gt;CT-Scan Otak(1)&lt;br /&gt;Tidak semua penderita trauma kepala dilakukan CT-Scan otak, penguasaan klinis mengenai trauma kapitis yang kuat dapat secara seleksi menentukan kapan penderita secara tepat dilakukan CT-Scan. Dari CT-Scan dapat dilihat kelainan-kelainan berupa : oedema serebri, kontusio jaringan otak, hemaroma intraserebral, epidural, subdural, fraktur dan lain-lain.&lt;br /&gt;Angiografi (1)&lt;br /&gt;Sistem rapid serial film 10 film/detik&lt;br /&gt;Memakai kontras : angiografin 65 %, conray 60, hypaque sodium dan lain-lain&lt;br /&gt;Jenis angiografi :&lt;br /&gt;- karotis (paling sering)&lt;br /&gt;- vertebralis (jarang)&lt;br /&gt;Cara melakukan dengan ;&lt;br /&gt;1. Fungsi langsung (pada a. karotis komunis, sedikit dibawah bifurcatio)&lt;br /&gt;2. Fungsi tak langsung (dengan kateter dari daerah a. femoralis) angiografi pada trauma kapitis penting untuk memperlihatkan epidural atau subdural hematomanya.&lt;br /&gt;PRIORITAS PENANGGULANGAN CEDERA KEPALA AKUT(1)&lt;br /&gt;a. Perbaiki kardiovaskular (atasi shock)&lt;br /&gt;b. Perbaiki keseimbangan respirasi, ventilasi atau jalan nafas yang baik&lt;br /&gt;c. Evaluasi tingkat kesadaran&lt;br /&gt;d. Amati jejas di kepala, apakah ada impressi fraktur, tanda-tanda fraktur basis kranii, likuorhoe, hati-hati terhadap adanya fraktur servikalis (stabilisasi leher)&lt;br /&gt;e. Amati jejas di bagian tubuh lainnya&lt;br /&gt;f. Pemeriksaan neurologik lengkap dan X fot kepala, leher, CT-Scan&lt;br /&gt;g. Perhatikan pupil&lt;br /&gt;h. Atasi oedema serebri&lt;br /&gt;i. Perbaiki keseimbangan cairan, elektrolit dan kalori&lt;br /&gt;j. Monitor tekanan intra kranial&lt;br /&gt;k. Pengobatan simptomatis atau konservatif&lt;br /&gt;l. Jika ada pemburukan kesadaran disertai perdarahan intra kranial yang lebih dari 75 cc, perlukaan tembus kranioserebral terbuka, impressi fraktur lebih dari 1 cm secepatnya dilakukan tindakan operatif&lt;br /&gt;OEDEMA SEREBRI(1)&lt;br /&gt;Meningkatnya massa jaringan otak yang disebabkan peningkatan kadar cairan intraseluler maupun ekstraseluler otak sebagai reaksi daripada proses patologik lokal atau pengaruh umum yang merusak.&lt;br /&gt;Jenis-jenis&lt;br /&gt;1. Vasogenik oedema serebri&lt;br /&gt;2. sitotoksik oedema serebri&lt;br /&gt;3. osmotik oedema serebri&lt;br /&gt;4. hidrostatik oedema serebri&lt;br /&gt;Vasogenik Sitotoksik Osmotik Hidrostatik&lt;br /&gt;Kausa BBB kapiler Sodium pump Osmotik Gangguan absorbsi LSC&lt;br /&gt;Lokalisasi Subs. alba Alba + grisea Alba + grisea Subs. Alba&lt;br /&gt;Permeabilitas vaskuler Meningkat Normal Normal Normal&lt;br /&gt;Histologis Ekstraseluler Interseluler Ekstra / intra Ekstraseluler&lt;br /&gt;Unsur Plasma Plasma Air Air + Na&lt;br /&gt;Pada oedema serebri tahap permulaan, tekanan intra kranial, tekanan perfusi otak masih dapat dikompensasi dengan mengatur otoregulasi cerebral blood flow, dan volume likuor serebro spinal. Untuk setiap penambahan 1 cc volume intra kranial tekanan intra kranial akan meningkat 10-15 mmHg.&lt;br /&gt;1. Vasogenik oedema serebri&lt;br /&gt;Lesi terutama pada sistem Blood Brain Barrier yang dibentuk dari ikatan fusi sel membran endotel kapiler pembuluh darah otak pada keadaan tertentu secara langsung dapat merusak dinding kapiler dan secara tidak langsung dapat menyebabkan pelepasan serotonin, yang mengakibatkan gangguan dan pengurangan eratnya ikatan fusi membran sel. Dengan endotel kapiler cairan plasma dapat mengalir ke jaringan otak dan mengakibatkan terjadi oedema serebri. Vasogenik oedema serebri dapat terjadi pada kasus-kasus :&lt;br /&gt;- trauma kapitis&lt;br /&gt;- stroke&lt;br /&gt;- iskhemia&lt;br /&gt;- radang : meningitis, ensefalitis&lt;br /&gt;- space occupying lesion : tumor otak&lt;br /&gt;- malignant hipertensi&lt;br /&gt;- konvulsi&lt;br /&gt;2. Sitotoksik oedema serebri&lt;br /&gt;Ini bisa terjadi bila ada gangguan sodium pump membran sel otak, akibatnya permeabilitas membran terganggu dan akan masuk cairan ke intraseluler otak&lt;br /&gt;Sitotoksik oedema serebri dapat terjadi pada kasus-kasus :&lt;br /&gt;- neonatal asphyxia&lt;br /&gt;- cardiac arrest&lt;br /&gt;- zat-zat toksik hexachlorophene, golongan alkyl metal&lt;br /&gt;3. Osmotik oedema serebri&lt;br /&gt;Bila osmolaritas plasma dikurangi 12 % atau lebih, maka cairan akan meloloskan diri dari sistem vaskuler dan menyebabkan pembengkakan otak. Ini bisa terjadi apabila membran sel masih intak. Osmotik oedema serebri ini terdapat pada kasus-kasus :&lt;br /&gt;- water intoksikasi&lt;br /&gt;- hemodialisis yang terlalu cepat&lt;br /&gt;4. Hidrostatik oedema serebri&lt;br /&gt;Ini terjadi bila jumlah cairan ekstraseluler berlebihan (cairan likuor serebrospinal). Contohnya pada hidrosefalus.&lt;br /&gt;Pengobatan Odema Serebri&lt;br /&gt;1. Hipertonic Solution Therapy&lt;br /&gt;Pengobatan cairan hipertonis bertujuan untuk mengurangi oedema serebri dengan cara perbedaan osmolaritas cairan jaringan otak dengan plasma.&lt;br /&gt;Contoh cairan hipertonik :&lt;br /&gt;a. Manitol&lt;br /&gt;b. Glyserol&lt;br /&gt;Pemberian cairan hipertonis yang berlebihan dapat menimbulkan bahaya berupa :&lt;br /&gt;• Dehidrasi berat&lt;br /&gt;• Pengeluaran Na+ dan Cl- mengakibatkan neuron rusak&lt;br /&gt;• Timbul rebound phenomen sehingga tekanan intrakranial meninggi&lt;br /&gt;• Hati-hati pada perdarahan intrakranial sebab :&lt;br /&gt;- dengan mengeriputnya jaringan otak akibat cairan hipertonis itu, maka darah akan menempati daerah yang kosong dan dengan demikian akan mengaburkan gejala perdarahan yang sebenarnya&lt;br /&gt;- cairan hipertonis bisa mempercepat proses perdarahan itu sendiri&lt;br /&gt;- cairan hipertonis bisa mencetuskan proses perdarahan baru&lt;br /&gt;Kontraindikasi :&lt;br /&gt; Renal Failure&lt;br /&gt; Hepatic Failure&lt;br /&gt; Congestive Heart Failure&lt;br /&gt;Manitol&lt;br /&gt;a. Mempunyai efek :&lt;br /&gt;- meninggikan cerebral blood flow&lt;br /&gt;- meninggikan eksresi Na+ urine&lt;br /&gt;- menurunkan tekanan likuor serebro spinal&lt;br /&gt;- diuresis secara ekstrem&lt;br /&gt;Jika berlebihan dapat menyebabkan :&lt;br /&gt;- dehidrasi berat&lt;br /&gt;- hipotensi&lt;br /&gt;- takikardi&lt;br /&gt;- hemokonsentrasi&lt;br /&gt;- overshoot obat masuk intraseluler padahal kadang di plasma sudah menurun maka bisa terjadi rebound phenomen&lt;br /&gt;b. Dosis&lt;br /&gt;Manitol 20 % dengan dosis 0,25-1 gr/KgBB diberikan cepat dalam 30-60 menit. Efek samping jika diberikan dalam dosis besar : sering nyeri kepala, chest pain. Jarang : kejang, renal failure&lt;br /&gt;Gliserol&lt;br /&gt;a. Sifat dan kegunaannya :&lt;br /&gt;- meninggikan osmolaritas plasma yang lebih berperanan untuk menarik cairan di otak dibandingkan dengan efek diuresisnya&lt;br /&gt;- dimetabolisir oleh tubuh sebagai bahan substrat energi&lt;br /&gt;- tidak mempengaruhi secara signifikan terhadap kadar gula darah dan keton bodies darah&lt;br /&gt;- tidak mempunyai efek rebound phenomen&lt;br /&gt;b. Dosis&lt;br /&gt;- per oral : 0,5-1 gr/Kg diberikan setiap 4 jam dalam larutan 50 % gliserol untuk mempertahankan kadar dalam darah. Dalam 30 menit sesudah pemberian akan terlihat efek penurunan tekanan intra kranial&lt;br /&gt;- per infus : 1 gr/Kg BB/hari dalam 10 % gliserol diberikan jangan melebihi 5 cc/menit. Efeknya akan kelihatan setelah 1 jam sesudah pemberian dan akan menetap bertahan selama 12 jam&lt;br /&gt;Jika infus diberikan dengan dosis melebihi 2,5 cc/menit maka akan terjadi efek diuresis. Jika gliserol diberikan dalam dosis besar akan mempunyai komplikasi :&lt;br /&gt; hemolisis intravaskuler&lt;br /&gt; hemoglobinuria&lt;br /&gt; gastric iritasi&lt;br /&gt; nonketotic hiperosmolar hiperglikemia&lt;br /&gt;2. Kortikosteroid&lt;br /&gt;Sifat dan kegunaannya :&lt;br /&gt;Memperbaiki membran sel yang rusak dengan cara :&lt;br /&gt;• membentuk ikatan dengan fatty acid atau phospolipid membran&lt;br /&gt;• melindungi sel otak dari anoksia&lt;br /&gt;• memperbaiki sistem sodium pump&lt;br /&gt;• memperbaiki capillary tissue junction dan intercelluler junction sehingga permeabilitas membran sel menjadi normal kembali dan akibatnya BBB pun membaik dan edema sel-sel otak berkurang&lt;br /&gt;Dosis :&lt;br /&gt;• dexamethason : initial 10 mg IV kemudian diikuti dengan pengurangan 4 mg/4 jam/hari dan pengurangan dosis secara tappering off. (diberikan dalam waktu singkat 7-10 hari)&lt;br /&gt;• methyl prednisolon sodium succinat : initial 60 mg kemudian diikuti 20 mg/6 jam kemudian taffering off&lt;br /&gt;Hati-hati pada perdarahan lambung.&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini penggunaan kortikosteroid pada oedema serebri mulai dipertanyakan. Banyak kontroversi diperdebatkan dalam penggunaannya pada kasus trauma kapitis.&lt;br /&gt;3. Barbiturat&lt;br /&gt;Berguna untuk melindungi otak dari kerusakan lebih parah dengan cara :&lt;br /&gt;a. menurunkan metabolisme otak&lt;br /&gt;b. menstabilkan membran sel&lt;br /&gt;c. menurunkan aktivitas lysozim&lt;br /&gt;d. menurunkan tekanan intra kranial&lt;br /&gt;e. menurunkan pembentukan oedema otak&lt;br /&gt;f. melindungi sel otak terhadap iskhemia&lt;br /&gt;Dosis :&lt;br /&gt;Tiopental atau pentotal : 3-5 mg/KgBB/hari yang bisa dinaikkan sampai 30-50 mg/KgBB kemudian di monitor terus kadarnya dalam plasma untuk mencapai kadar optimal 2-2,5 mg %.&lt;br /&gt;Pemberian barbiturat terapi adalah pilihan terakhir sesudah gagal dalam penggunaan hiperventilasi artifisiil, cairan hiperosmolar dan deksametason.&lt;br /&gt;4. Hipothermi&lt;br /&gt;30 derajat celcius bertujuan mengurangi metabolisme otak dan mengurangi tekanan darah. Penyulit yang timbul adalah timbulnya aritmia cordia dan asidosis biasanya ini dilakukan hanya dalam 5 hari saja.&lt;br /&gt;5. Hiperventilasi Artifisial&lt;br /&gt;Memakai alat bantu ventilator melakukan induksi hipokapnia dimana PaCO2 arteri diturunkan dan dipertahankan pada 26-28 mmHg (3,5-3,7 kPa) sehingga cerebral blood flow berkurang dan akibatnya akan menurunkan tekanan intra kranial.&lt;br /&gt;PENATALAKSANAAN(4)&lt;br /&gt;Pedoman Resusitasi dan Penilaian awal&lt;br /&gt;1. Menilai jalan napas: bersihkan jalan napas, lepaskan gigi palsu, pertahankan tulang servikal segaris dengan badan, pasang guedel, bila perlu intubasi.&lt;br /&gt;2. Menilai pernapasan: tentukan apakah pasien bernapas spontan atau tidak.&lt;br /&gt;3. Menilai sirkulasi: otak yang rusak tidak mentolerir hipotensi. Hentikan semua perdarahan. Pasang jalur intravena yang besar, ambil darah vena untuk pemeriksaan darah perifer lengkap, ureum, elektrolit, glukosa, dan analisis gas darah arteri. Berikan larutan koloid, larutan kristaloid (dekstrosa atau dekstrosa dalam salin) dapat menimbulkan eksaserbasi edema otak pasca cedera kepala.&lt;br /&gt;4. Obati kejang: Mula-mula berikan diazepam 10 mg intravena perlahan-lahan dan dapat diulangi sampai 3 kali bila masih kejang. Bila tidak berhasil dapat diberikan fenitoin 15 mg/kgBB diberikan intravena perlahan-lahan dengan kecepatan tidak melebihi 50 mg/menit.&lt;br /&gt;5. Menilai tinglcat keparahan&lt;br /&gt;Pedoman Penatalaksanaan&lt;br /&gt;1. Pada sernua pasien dengan cedera kepala dan atau leher, lakukan foto tulang belakang servikal (proyeksi antero-posterior. lateral, dan odontoid), kolar servikal baru dilepas setelah dipastikan bahwa seluruh tulang servikal Cl -C7 normal.&lt;br /&gt;2. Pada semua pasien dengan cedera kepala sedang dan berat, lakukan prosedur berikut:&lt;br /&gt;- Pasang jalur intravena dengan larutan salin normal (NaCI 0,9%) atau larutan Ringer laktat: cairan isotonis lebih efektif mengganti volume intravaskular daripada cairan hipotonis, dan larutan ini tidak menambah edema serebri.&lt;br /&gt;- Lakukan pemeriksaan: hematokrit, periksa darah perifer lengkap, trombosit, kimia darah: glukosa, ureum, dan kreatinin, masa protrombin atau masa tromboplastin parsial, skrining toksikologi dan kadar alkohol bila perlu&lt;br /&gt;3. Lakukan CT Scan dengan jendela tulang: foto rontgen kepala tidak diperlukan jika CT- Scan dilakukan, karena CT Scan ini lebih sensitif untuk mendeteksi fraktur. Pasien dengan cedera kepala ringan, sedang, atau berat, harus dievaluasi adanya:&lt;br /&gt;- Hematoma epidural&lt;br /&gt;- Darah dalarn subaraknoid dan intraventrikel&lt;br /&gt;- Kontusio dan perdarahan jaringan otak&lt;br /&gt;- Edema serebri&lt;br /&gt;- Obliterasi sisterna perimesensefalik&lt;br /&gt;- Pergeseran garis tengah&lt;br /&gt;- Fraktur kranium, cairan dalarn sinus, dan pneumosefalus.&lt;br /&gt;4. Pada pasien yang korna (skor GCS &lt;  atau pasien dengan tanda-tanda hemiasi, lakukan tindakan berikut ini :&lt;br /&gt;- Elevasi kepala 30o&lt;br /&gt;- Hiperventilasi&lt;br /&gt;- Berikan manitol 20 % 1g/kgbb intravena dalarn 20-30 menit. Dosis ulangan dapat diberikan 4-6 jam kemudian 1/4 dosis semula setiap 6 jam sampai maksimal 48 jam pertama&lt;br /&gt;- Pasang kateter Foley&lt;br /&gt;- Konsul bedah saraf bila terdapat indikasi operasi&lt;br /&gt;Penatalaksanaan Khusus&lt;br /&gt;1. Cedera kepala ringan: pasien dengan cedera kepala ini umumnya dapat dipulangkan ke rumah tanpa perlu dilakukan pemeriksaan CT Scan bila memenuhi kriteria berikut:&lt;br /&gt;- Hasil pemeriksaan neurologis (terutama status mini mental dan gaya berjalan) dalam batas normal&lt;br /&gt;- Foto servika1jelas normal&lt;br /&gt;- Ada orang yang bertanggung-jawab untuk mengamati pasien selama 24 jam pertama, dengan instruksi untuk segera kembali ke bagian gawat darurat jika timbul gejala perburukan&lt;br /&gt;Kriteria perawatan di rumah sakit:&lt;br /&gt;- Adanya darah intrakranial atau fraktur yang tampak pada CT Scan&lt;br /&gt;- Konfusi, agitasi, atau kesadaran menurun&lt;br /&gt;- Adanya tanda atau gejala neurologis fokal&lt;br /&gt;- Intoksikasi obat atau alkohol&lt;br /&gt;- Adanya penyakit medis komorbid yang nyata&lt;br /&gt;- Tidak adanya orang yang dapat dipercaya untuk mengamati pasien di rumah.&lt;br /&gt;2. Cedera kepala sedang: pasien yang menderita konkusi otak (komosio otak), dengan skala korna Glasgow 15 dan CT Scan normal, tidak pertu dirawat. Pasien ini dapat dipulangkan untuk observasi di rumah, meskipun terdapat nyeri kepala, mual, muntah, pusing, atau amnesia. Risiko timbuInya lesi intrakranial lanjut yang bermakna pada pasien dengan cedera kepala sedang adalah minimal.&lt;br /&gt;3. Cedera kepala berat: Setelah penilaian awal dan stabilisasi tanda vital, keputusan segera pada pasien ini adalah apakah terdapat indikasi intervensi bedah saraf segera (hematoma intrakranial yang besar). Jika ada indikasi, harus segera dikonsulkan ke bedah saraf untuk tindakan operasi. Penatalaksanaan cedera kepala berat seyogyanya dilakukan di unit rawat intensif.&lt;br /&gt;- Penilaian ulang jalan napas dan ventilasi&lt;br /&gt;- Monitor tekanan darah&lt;br /&gt;- Pemasangan alat monitor tekanan intrakranial pada pasien dengan skor GCS &lt; 8, bila memungkinkan.&lt;br /&gt;- Penatalaksanaan cairan: hanya larutan isotonis (salin normal atau larutan Ringer laktat) yang diberikan kepada pasien dengan cedera kepala karena air bebas tambahan dalam salin 0,45% atau dekstrosa 5 % dalam air (D5W) dapat menimbulkan eksaserbasi edema serebri.&lt;br /&gt;- Nutrisi: cedera kepala berat menimbulkan respons hipermetabolik dan katabolik, dengan keperluan 50-100% lebih tinggi dari normal.&lt;br /&gt;- Temperatur badan: demam mengeksaserbasi cedera otak dan harus diobati secara agresif dengan asetaminofen atau kompres dingin.&lt;br /&gt;- Antikejang: fenitoin 15-20 mg/kgBB bolus intravena, kemudian 300 mg/hari intravena. Jika pasien tidak menderita kejang, fenitoin harus dihentikan setelah 7- 10 hari. Steroid: steroid tidak terbukti mengubah hasil pengobatan pasien dengan cedera kepala dan dapat meningkatkan risiko infeksi, hiperglikemia, dan komplikasi lain. Untuk itu, Steroid hanya dipakai sebagai pengobatan terakhir pada herniasi serebri akut (deksametason 10 mg intravena sebap 4-6 jam selama 48-72 jam).&lt;br /&gt;- Profflaksis trombosis vena dalam&lt;br /&gt;- Profilaksis ulkus peptik&lt;br /&gt;- Antibiotik masih kontroversial. Golongan penisilin dapat mengurangi risiko meningitis pneumokok pada pasien dengan otorea, rinorea cairan serebrospinal atau udara intrakranial tetapi dapat meningkatkan risiko infeksi dengan organisme yang lebih virulen.&lt;br /&gt;- CT Scan lanjutan&lt;br /&gt;Komplikasi Cedera Kepala Berat&lt;br /&gt;1. Kebocoran cairan serebrospinal&lt;br /&gt;2. Fistel karotis-kavemosus ditandai oleh trias gejala: eksolftalmos, kemosis, dan bruit orbita, dapat timbul segera atau beberapa hari setelah cedera.&lt;br /&gt;3. Diabetes insipidus oleh kerusakan traumatik pada tangkai hipofisis.&lt;br /&gt;4. Kejang pasca trauma&lt;br /&gt;PROGNOSIS(4)&lt;br /&gt;Prognosis setelah cedera kepala sering mendapat perhatian besar, terutama pada pasien dengan cedera berat. Skor GCS waktu masuk rumah sakit memiliki nilai prognostik yang besar: skor pasien 3-4 memiliki kemungkinan meninggal 85% atau tetap dalam kondisi vegetatif, sedangkan pada pasien dengan GCS 12 atau lebih kemungkinan meninggal atau vegetatif hanya 5 – 10%. Sindrom pascakonkusi berhubungan dengan sindrom kronis nyeri kepala, keletihan, pusing, ketidakmampuan berkonsentrasi, iritabilitas, dan perubahan kepribadian yang berkembang pada banyak pasien setelah cedera kepala. Sering kali berturnpang-tindih dengan gejala depresi.&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;1. Hasan Sjahrir, Ilmu Penyakit Saraf Neurologi Khusus, Dian Rakyat, Jakarta, 2004&lt;br /&gt;2. Harsono, Kapita Selekta Neurologi, Gadjah Mada Universiti Press, Yogyakarta, 2005&lt;br /&gt;3. Mahar Mardjono, Priguna Sidharta, Neurologi Klinis Dasar, dian Rakyat, Jakarta, 2004&lt;br /&gt;4. Arif Mansjoer dkk Editor, Trauma Susunan Saraf dalam Kapita Selekta Kedokteran edisi Ketiga jilid 2, Media Aesculapius, Jakarta, 2000&lt;br /&gt;5. Robert L. Martuza, Telmo M. Aquino, Trauma dalam Manual of Neurologic Therapeutics With Essentials of Diagnosis, 3th ed, Litle Brown &amp; Co, 2000&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-5323195973458883344?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/5323195973458883344/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/trauma-kapitis.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/5323195973458883344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/5323195973458883344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/trauma-kapitis.html' title='TRAUMA KAPITIS'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Lx3YYtd_hAo/SffKb5R6BBI/AAAAAAAAAXU/5P2fRLB25QU/s72-c/Acute_Subdural_hematoma550_ab.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-4785311123892789014</id><published>2010-06-13T15:35:00.003+07:00</published><updated>2010-06-13T15:39:23.666+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keperawatan'/><title type='text'>INTRA NATAL CARE (INC)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:5Uap5ZiC3P8J3M::www.dhanvantriedu.org/images/pic-curri_ogn.jpg&amp;t=1&amp;h=225&amp;w=160&amp;usg=__oxfiffxEqDRYxCVSilW9CVrHfQc="&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 160px; height: 225px;" src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:5Uap5ZiC3P8J3M::www.dhanvantriedu.org/images/pic-curri_ogn.jpg&amp;t=1&amp;h=225&amp;w=160&amp;usg=__oxfiffxEqDRYxCVSilW9CVrHfQc=" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Defenisi Persalinan&lt;br /&gt;Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hamper cukup bulan, disusui dengan pelepasan dan pengeluaran placenta dan selaput janin dari tubuh ibu.&lt;br /&gt;B. Jenis-jenis Persalinan&lt;br /&gt;1. Persalinan spontan&lt;br /&gt;Bila persalinan berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri melalui jalan lahir&lt;br /&gt;2. Persalinan buatan&lt;br /&gt;Bila persalinan dibantu dengan tenaga dari luar misalnya ekstraksi dengan forceps atau dilakukan operasi cesarean.&lt;br /&gt;3. Persalinan anjuran&lt;br /&gt;Bila persalinan tidak dimulai dengan sendirinya, baru berlangsung setelah pemecahan ketuban, pemberian phytomenadione&lt;br /&gt;Berhubungan dengan tuanya umur kehamilan dan berat badan bayi dilahirkan dikenal beberapa istilah :&lt;br /&gt;1. Abortus&lt;br /&gt;Pengeluaran buah kehamilan sebelum kehamilan 22 minggu atau bayi dengan berat badan &lt; 500 gr&lt;br /&gt;2. Partu Immaturus&lt;br /&gt;Pengeluaran buah kehamilan antara 22 – 28 minggu atau bayi dengan berat badan 500 – 999 gr dan tidak dapat hidup diluar kandungan&lt;br /&gt;3. Partus prematurus&lt;br /&gt;Pengeluaran kehamilan 28 – 37 minggu atau bayi dengan berat badan lahir 1000 – 2500 gr.&lt;br /&gt;4. Partus serotinus (post maturitas)&lt;br /&gt;Pengeluaran kehamilan setelah kehamilan 42 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Sebab-sebab Yang Menimbulkan&lt;br /&gt;Terjadinya persalinan belum diketahui benar, yang ada hanyalah merupakan teori-teori yang kompleks antara lain :&lt;br /&gt;1. Teori penurunan hormone&lt;br /&gt;1 – 2 minggu sebelum partus mulai terjadi penurunan hormone estrogen dan progesterone.progetseron bekerja sebagai penenang otot-otot polos rahim dan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbulk his bila kadar progetsteron turun/rendah&lt;br /&gt;2. Teori distensi rahim&lt;br /&gt;Rahim yang menjadi besar dan meregang menyebabkan iskemia otot-otot rahim sehingga mengganggu sikrulasi utero placenta.&lt;br /&gt;3. Teori placenta menjadi tua&lt;br /&gt;Akan menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesterone yang menyebabkan kekejangan pada pembuluh darah.&lt;br /&gt;4. Teori iritasi mekanik&lt;br /&gt;Di belakang serviks terletak ganglon servikale,bila ganglion ini digeser dan ditekan oleh kepala janin akan timbul kontraksi uterus&lt;br /&gt;5. Induksi partus-partum dapat pula ditimbulkan dengan jalan&lt;br /&gt;a. Bagang laminaria&lt;br /&gt;Beberapa laminarian dimasukkan dalam kanalis servikalis dengan tujuan rangsang pleksus frakenhouser.&lt;br /&gt;b. Amniotomi&lt;br /&gt;Pemecagahn ketubahan&lt;br /&gt;c. Okstisosin drips&lt;br /&gt;Pemberian oksitosin menurut tetesan/infuse&lt;br /&gt;D. Faktor-faktor Yang Berperan Dalam Persalinan&lt;br /&gt;1. Kekuatan mendorong janin keluar (power)&lt;br /&gt;o His (kontraksi uterus)&lt;br /&gt;o Kontraksi otot-otot dinding perut&lt;br /&gt;o Ligamtous action terutama ligamentum retundum&lt;br /&gt;2. Faktor janin&lt;br /&gt;3. Faktor jalan lahir&lt;br /&gt;E. Keadaan-keadaan Memerlukan Spesialistis&lt;br /&gt;1. Primigravida dengan : &lt;br /&gt;o Umur diatas 30 tahun&lt;br /&gt;o TB &lt; 150 cm&lt;br /&gt;o Dengan penyakit-penyakit tertentu&lt;br /&gt;o Dengan komplikasi medis dan obstetric&lt;br /&gt;o Kelainan panggul&lt;br /&gt;o Kelainan letak janin&lt;br /&gt;2. Multigravida dengan :&lt;br /&gt;o Umur diatas 35 tahun&lt;br /&gt;o Telah punya anak lebih dari 7&lt;br /&gt;o Dengan riwayat kehamilan dan persalinan yang buruk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Tenaga Yang Mendorong Anak Keluar&lt;br /&gt;B. His &lt;br /&gt;His adalah kontraksi otot-otot rahim pada persalinan pada waktu kontraksi otot-otot rahim menguncuk sehingga menjadi tebal dan lebih pendek. Kavum uteri menjadi lebih kecil serta mendorong janin dan kantong amnion kea rah segmen bawah rahim dan serviks&lt;br /&gt;Sifat-sifat His :&lt;br /&gt;o Kontraksi simetris dan terkoordinasi&lt;br /&gt;o Fundus dominant kemudian diikuti relaksasi&lt;br /&gt;o Involunter, intermitten&lt;br /&gt;o Terasa sakit dan kadang dapat dipengaruhi dari luar secara fisik, kimia dan psikis.&lt;br /&gt;Dalam mengawasi persalinan hendaknya selalu dibuat daftar tentang His :&lt;br /&gt;o Frekuensi : obat dan jumlah his dalam waktu tertentu biasanya per 10 menit atau permenit&lt;br /&gt;o Amplitude atau intensitas : batasan kekuatan his dikukur dalam mmHg&lt;br /&gt;o Aktivitas His : adalah frekuensi dan amplitude dengan unit motexido.&lt;br /&gt;o Durasi His : adalah lamanya setiap his berlangsung diukur dengan detik&lt;br /&gt;o Datangnya his : apakah datangnya sering, teratur atau tidak&lt;br /&gt;Perubahan-perubahan akibat His :&lt;br /&gt;o Pada uterus dan serviks&lt;br /&gt;Uterus teraba keras, padat karena kontraksi hidrostatik air ketuban dan tekanan intrauterine naik serta menyebabkan serviks menjadi mendatar dan terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Pada ibu&lt;br /&gt;Rasa nyeri karena iskemia rahim dan kontraksi rahim, juga ada kenaikan nadi dan tekanan darah&lt;br /&gt;o Pada janin&lt;br /&gt;Pertukaran oksigen pada sirkulasi utero placenta kurang, maka timbul hipoksia janin, djj lambat dan kurang jelas didengar adanya iskemia fisiologis.&lt;br /&gt;Pembagian dan sifat-sifat His :&lt;br /&gt;o His pendahuluan&lt;br /&gt;a. His tidak kuat, tidak teratur&lt;br /&gt;b. Menyebabkan show&lt;br /&gt;o His pembukaan&lt;br /&gt;a. His pembukaan serviks sampai terjadi pembukaan lengkap 10 mm&lt;br /&gt;b. Mulai kuat teratur dan sakit&lt;br /&gt;o His pengeluaran/his mengedan (kala II)&lt;br /&gt;a. Sangat kuat, teratur, simetris, terkoordinasi dan lama&lt;br /&gt;b. His untuk pengeluaran janin&lt;br /&gt;c. Koordinasi bersama antara his kontraksi, otot perut, kontraksi diafragma dan ligamen&lt;br /&gt;o His pelepasan urin (Kala III)&lt;br /&gt;Kontraksi sedang untuk melepaskan dan melahirkan plasenta&lt;br /&gt;o His pengiring (Kala IV)&lt;br /&gt;Kontraksi lemah, masih relative nyeri, pengecilan dalam beberapa jam/hari&lt;br /&gt;B. Tenaga mengejan&lt;br /&gt;Setelah pembukaan lengkapdan setelah ketuban pecah, tenaga yang mendorong anak keluar setelah his,terutama disebabkan oleh otot dinding perut yang mengakibatkan peninggian tekanan intra abdomen, pada saat kepala sampai pada dasar panggul, timbul suatu refleks yang mengakibatkan pasien menutup glotisnya, mengkontraksikan otot-otot perutnya dan menekan diafragmanya ke bawah. Tenaga mengejan ini hanya dapat berhasil kalau pembukaan sudah lengkap&lt;br /&gt;C. Perubahan-perubahan pada Uterus dan Jalan Lahir Dalam Persalinan&lt;br /&gt;1. Sejak kehamilan yang lanjut uterus dengan jelas terdiri atas 2 bagian&lt;br /&gt;o Segmen atas rahim diberntuk oleh korpus uterus, berperanaktif dalam kontraksi dan dindingnya tebal dengan mulainya persalinan untuk mendorong anak keluar&lt;br /&gt;o Segmen bawah rahim terjadi dari isthmus uteri, berperan pasif dan makin tipis dengan mulainya persalinan karena diregang mengadakan relaksasi dan dilatasi serta menjadi saluran tipis&lt;br /&gt;2. Perubahan bentuk rahim&lt;br /&gt;Pada tiap kontraksi sumbu panjang rahim bertambah panjang sedangkan ukuran melintang maupun ukuran muka belakang berkurang&lt;br /&gt;o Karena ukuran melintang berkurang maka lingkaran tulang punggung anak berkurang, artinya tulang punggung menjadi lebih lurus dan dengan demikian katub atas anak tertekan pada fundus sedangkan katub bawah ditekan ke dalam pintu atas panggul&lt;br /&gt;o Karena rahim bertambah panjang, maka otot-otot memanjang dan menarik pada SBR dan serviks&lt;br /&gt;3. Faal ligament rotundum dalam persalinan&lt;br /&gt;Ligament rotundum mengandung otot polos dan kalau uterus berkontraksi otot ligament rotundum ikut berkontraksi hingga ligament menjadi pendek&lt;br /&gt;o Pada tiap kontraksi, fundus yang tadinya bersandar pada tulang punggung berpindah ke depan mendesak dinding perut ke depan.&lt;br /&gt;o Fundus uteri terlambat, sehingga waktu kontraksi fundus tidak dapat naik ke atas&lt;br /&gt;4. Perubahan pada serviks&lt;br /&gt;o Pendataran serviks&lt;br /&gt;Ialah pemendekan dari canalis servikalis, yang semula berupa saluran yang panjangnya 1 -2 cm menjadi suatu lubang saja dengan pinggir yang tipis&lt;br /&gt;o Pembukaan serviks&lt;br /&gt;Ialah pembesaran dari ostium eksternum yang tadinya berupa suatu tulang dengan diameter beberapa mm menjadi lubang yang dilalui anak kira-kira 10 cm&lt;br /&gt;Factor-faktor yang menyebabkan pembukaan serviks :&lt;br /&gt; Waktu kontraksi SBR dan serviks diregang oleh isi rahim terutama oleh air ketuban dan ini menyebabkan tarikan pada serviks&lt;br /&gt; Waktu kontraksi, bagian dari selaput yang terdapat diatas canalis servikalis menonjol ke dalam canalis servikalis dan membukanya.&lt;br /&gt; Mungkin otot-otot serviks menarik pada pingir ostium dan membesarkannya&lt;br /&gt;5. Perubahan pada vaginan dan dasar panggul&lt;br /&gt;Dalam kala I ketuban ikut meregangkan bagian atas vagina, dasar panggul diregang menjadi saluran dengan dinding yang tipis oleh bagian depan anak.&lt;br /&gt;Saat kepala sampai di vulva, lubang vagina menghadap ke depan atas, dari luar peregangan oleh bagian depan nampak pada perineum yang menonjol dan menjadi tipis sedangkan anus membuka&lt;br /&gt;II. Gerakan-gerakan anak Pada Persalinan&lt;br /&gt;A. Turunnya kepala&lt;br /&gt;o Synclitismus : sutura sagitalis terdapat ditengah-tengah dalam lahir, ialah tepat diantara symphisis dan promontorium, os parietal dan belakang sama tingginya.&lt;br /&gt;o Asyncltitismus : sutura sagitalis anak ke depan mendekati symphisis atau agak kebelakang mendekati promontorium&lt;br /&gt;Asynclitismus posterior : sutura sagitalis mendekati sympisis dan os parietal belakang lebih rendah dari os parietal depan&lt;br /&gt;Asynclitismus anterior : sutura sagitalis menedekati promontorium sehingga os parietal depan lebih rendah dari os parietal belakang &lt;br /&gt;B. Masuknya kepala&lt;br /&gt;Ini terjadi setelah kepala masuk ke dalam rongga panggul dan bersamaan dengan gerakan fleksi, putaran paksa dalam dan ekstensi&lt;br /&gt;Yang menyebabkan masuknya kepala :&lt;br /&gt;o Tekanan cairan intra uterin dan tekanan langsung oleh fundus pada bokong&lt;br /&gt;o Kekuatan mengejan dan melurusnya badan anak oleh perubahan bentuk rahim.&lt;br /&gt;C. Fleksi&lt;br /&gt;Dengan masuknya kepala biasanya juga fleksi bertambah sehingga ubun-ubun kecil jelas lebih rendah dari UUB ini disebabkan karena anak di dorong ibunya dan sebaliknya mendapat tekanan dari pinggir PAP, serviks, dinding panggul atau dasar panggul&lt;br /&gt;Keuntungan fleksi : ukuran kepala lebih kecil melalui jalan lahir diameter sub occipitus brognalitika (95 cm) menggantikan diameter sub occipitalis frontal (11 cm)&lt;br /&gt;D. Putaran paksi dalam&lt;br /&gt;Ialah pemutaran dari bagian dalam sedemikian rupa sehingga bagian terendah bagian depan memutar ke depan kebawah symphisis&lt;br /&gt;o Pada letak fleksi, bagian belakang kepala merupakan bagian terendah dari kepala.&lt;br /&gt;o Bagian terendah dari kepala ini mencari tahanan yang paling sedikit terdapat sebelah depan atas dimana terdapat meatus genitalia.&lt;br /&gt;o Ukuran terbesar dari bidang tengah panggul ialah diameter antero posterior&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://andaners.wordpress.com/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-4785311123892789014?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/4785311123892789014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/intra-natal-care-inc.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/4785311123892789014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/4785311123892789014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/intra-natal-care-inc.html' title='INTRA NATAL CARE (INC)'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-1926565807606027064</id><published>2010-06-13T15:24:00.002+07:00</published><updated>2010-06-13T15:28:06.978+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keperawatan'/><title type='text'>Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Leukemia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_COYf4t1Rlog/SumQhbE6KdI/AAAAAAAAABg/ce0Fu3MuyQs/s320/leukemia-pada-anak.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 198px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_COYf4t1Rlog/SumQhbE6KdI/AAAAAAAAABg/ce0Fu3MuyQs/s320/leukemia-pada-anak.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONSEP DASAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. PENGERTIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah dalam sumsum tulang dan limfa nadi (Reeves, 2001). Sifat khas leukemia adalah proliferasi tidak teratur atau akumulasi ssel darah putih dalam sumusm tulang, menggantikan elemen sumsum tulang normal. Juga terjadi proliferasi di hati, limpa dan nodus limfatikus, dan invasi organ non hematologis, seperti meninges, traktus gastrointesinal, ginjal dan kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. ETIOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat faktor predisposisi yang menyebabkan terjadinya leukemia yaitu :&lt;br /&gt;1. Faktor genetik : virus tertentu meyebabkan terjadinya perubahan struktur gen ( T cell leukemia-lymphoma virus/HTLV)&lt;br /&gt;2. Radiasi ionisasi : lingkungan kerja, pranatal, pengobatan kanker sebelumnya&lt;br /&gt;3. Terpapar zat-zat kimiawi seperti benzen, arsen, kloramfenikol, fenilbutazon, dan agen anti neoplastik.&lt;br /&gt;4. Obat-obat imunosupresif, obat karsinogenik seperti diethylstilbestrol&lt;br /&gt;5. Faktor herediter, misalnya pada kembar monozigot&lt;br /&gt;6. Kelainan kromosom : Sindrom Bloom’s, trisomi 21 (Sindrom Down’s), Trisomi G (Sindrom Klinefelter’s), Sindrom fanconi’s, Kromosom Philadelphia positif, Telangiektasis ataksia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. JENIS LEUKEMIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Leukemia Mielogenus Akut&lt;br /&gt;AML mengenai sel stem hematopeotik yang kelak berdiferensiasi ke semua sel Mieloid: monosit, granulosit, eritrosit, eritrosit dan trombosit. Semua kelompok usia dapat terkena; insidensi meningkat sesuai bertambahnya usia. Merupakan leukemia nonlimfositik yang paling sering terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Leukemia Mielogenus Kronis&lt;br /&gt;CML juga dimasukkan dalam sistem keganasan sel stem mieloid. Namun lebih banyak sel normal dibanding bentuk akut, sehingga penyakit ini lebih ringan. CML jarang menyerang individu di bawah 20 tahun. Manifestasi mirip dengan gambaran AML tetapi tanda dan gejala lebih ringan, pasien menunjukkan tanpa gejala selama bertahun-tahun, peningkatan leukosit kadang sampai jumlah yang luar biasa, limpa membesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Luekemia Limfositik Akut&lt;br /&gt;ALL dianggap sebagai proliferasi ganas limfoblast. Sering terjadi pada anak-anak, laki-laki lebih banyak dibanding perempuan, puncak insiden usia 4 tahun, setelah usia 15 ALL jarang terjadi. Manifestasi limfosit immatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan perifer, sehingga mengganggu perkembangan sel normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Leukemia Limfositik Kronis&lt;br /&gt;CLL merupakan kelainan ringan mengenai individu usia 50 sampai 70 tahun. Manifestasi klinis pasien tidak menunjukkan gejala, baru terdiagnosa saat pemeriksaan fisik atau penanganan penyakit lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. PATOFISIOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.Normalnya tulang marrow diganti dengan tumor yang malignan, imaturnya sel blast. Adanya proliferasi sel blast, produksi eritrosit dan platelet terganggu sehingga akan menimbulkan anemia dan trombositipenia.&lt;br /&gt;b.Sistem retikuloendotelial akan terpengaruh dan menyebabkan gangguan sistem pertahanan tubuh dan mudah mengalami infeksi.&lt;br /&gt;c.Manifestasi akan tampak pada gambaran gagalnya bone marrow dan infiltrasi organ, sistem saraf pusat. Gangguan pada nutrisi dan metabolisme. Depresi sumsum tulang yangt akan berdampak pada penurunan lekosit, eritrosit, faktor pembekuan dan peningkatan tekanan jaringan.&lt;br /&gt;d.Adanya infiltrasi pada ekstra medular akan berakibat terjadinya pembesaran hati, limfe, nodus limfe, dan nyeri persendian.&lt;br /&gt;(Suriadi, &amp; Yuliani R, 2001: hal. 175)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. TANDA DAN GEJALA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Aktivitas : kelelahan, kelemahan, malaise, kelelahan otot.&lt;br /&gt;2. Sirkulasi :palpitasi, takikardi, mur-mur jantung, membran mukosa pucat.&lt;br /&gt;3. Eliminsi : diare, nyeri tekan perianal, darah merah terang, feses hitam, penurunan haluaran urin.&lt;br /&gt;4. Integritas ego : perasaan tidak berdaya, menarik diri, takut, mudah terangsang, ansietas.&lt;br /&gt;5. Makanan/cairan: anoreksia, muntah, perubahan rasa, faringitis, penurunan BB dan disfagia&lt;br /&gt;6. Neurosensori : penurunan koordinasi, disorientasi, pusing kesemutan, parestesia, aktivitas kejang, otot mudah terangsang.&lt;br /&gt;7. Nyeri : nyeri abomen, sakit kepala, nyeri sendi, perilaku hati-hati gelisah&lt;br /&gt;8. Pernafasan : nafas pendek, batuk, dispneu, takipneu, ronkhi, gemericik, penurunan bunyi nafas&lt;br /&gt;9. Keamanan : gangguan penglihatan, perdarahan spontan tidak terkontrol, demam, infeksi, kemerahan, purpura, pembesaran nodus limfe.&lt;br /&gt;10. Seksualitas : perubahan libido, perubahan menstruasi, impotensi, menoragia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. PEMERIKSAAN PENUNJANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hitung darah lengkap : menunjukkan normositik, anemia normositik&lt;br /&gt;2. Hemoglobulin : dapat kurang dari 10 gr/100ml&lt;br /&gt;3. Retikulosit : jumlah biasaya rendah&lt;br /&gt;4. Trombosit : sangat rendah (&lt; 50000/mm)&lt;br /&gt;5. SDP : mungkin lebih dari 50000/cm dengan peningkatan SDP immatur&lt;br /&gt;6. PTT : memanjang&lt;br /&gt;7. LDH : mungkin meningkat&lt;br /&gt;8. Asam urat serum : mungkin meningkat&lt;br /&gt;9. Muramidase serum : pengikatan pada leukemia monositik akut dan mielomonositik&lt;br /&gt;10. Copper serum : meningkat&lt;br /&gt;11. Zink serum : menurun&lt;br /&gt;12. Foto dada dan biopsi nodus limfe : dapat mengindikasikan derajat keterlibatan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. PENATALAKSANAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pelaksanaan kemoterapi&lt;br /&gt;2. Irradiasi kranial&lt;br /&gt;3. Terdapat tiga fase pelaksanaan keoterapi :&lt;br /&gt;a. Fase induksi&lt;br /&gt;Dimulasi 4-6 minggu setelah diagnosa ditegakkan. Pada fase ini diberikan terapi kortikostreroid (prednison), vincristin dan L-asparaginase. Fase induksi dinyatakan behasil jika tanda-tanda penyakit berkurang atau tidak ada dan dalam sumsum tulang ditemukan jumlah sel muda kurang dari 5%.&lt;br /&gt;b. Fase Profilaksis Sistem saraf pusat&lt;br /&gt;Pada fase ini diberikan terapi methotrexate, cytarabine dan hydrocotison melaui intrathecal untuk mencegah invsi sel leukemia ke otak. Terapi irradiasi kranial dilakukan hanya pada pasien leukemia yang mengalami gangguan sistem saraf pusat.&lt;br /&gt;c. Konsolidasi&lt;br /&gt;Pada fase ini kombinasi pengobatan dilakukan unutk mempertahankan remisis dan mengurangi jumlah sel-sel leukemia yang beredar dalam tubuh. Secara berkala, mingguan atau bulanan dilakukan pemeriksaan darah lengkap untuk menilai respon sumsum tulang terhadap pengobatan. Jika terjadi supresi sumsum tulang, maka pengobatan dihentikan sementara atau dosis obat dikurangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONSEP KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. PENGKAJIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Riwayat penyakit : pengobatan kanker sebelumnya&lt;br /&gt;2. Riwayat keluarga : adanya gangguan hematologis, adanya faktor herediter misal kembar monozigot) &lt;br /&gt;3. Kaji adanya tanda-tanda anemia : kelemahan, kelelahan, pucat, sakit kepala, anoreksia, muntah, sesak, nafas cepat&lt;br /&gt;4. Kaji adanya tanda-tanda leukopenia : demam, stomatitis, gejala infeksi pernafasan atas, infeksi perkemihan; infeksi kulit dapat timbul kemerahan atau hiotam tanpa pus&lt;br /&gt;5. Kaji adanya tanda-tanda trombositopenia : ptechiae, purpura, perdarahan membran mukosa, pembentukan hematoma, purpura; kaji adanya tanda-tanda invasi ekstra medula: limfadenopati, hepatomegali, splenomegali.&lt;br /&gt;6. Kaji adanya pembesaran testis, hemAturia, hipertensi, gagal ginjal, inflamasi di sekkitar rektal dan nyeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Resiko tinggi infeksi berhubungn dengan menururnnya sistem pertahanan tubuh sekunder gangguan pematangan SDP, peningkatan jumlah limfosit immatur, imunosupresi, peneknan sumsum tulang.&lt;br /&gt;Tujuan : pasien bebas dari infeksi&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;a. Normotermia&lt;br /&gt;b. Hasil kultur negatif&lt;br /&gt;c. Peningkatan penyembuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a. Tempatkan pada ruangan yang khusus. Batasi pengunjung sesuai indikasi.&lt;br /&gt;b. Cuci tangan untuk semua petugas dan pengunjung.&lt;br /&gt;c. Awsi suhu, perhatikan hubungan antara peningkatan suhu dan pengobatan kemoterapi. Observasi demam sehubungan dengan takikardia, hipotensi, perubahan mental samar.&lt;br /&gt;d. Cegah menggigil : tingkatkan cairan, berikan mandi kompres&lt;br /&gt;e. Dorong sering mengubah posisi, napas dalam dan batuk.&lt;br /&gt;f. Auskultsi bunyi nafas, perhatikan gemericik, ronkhi; inspeksi sekresi terhadap perubahan karakteristik, contoh peningktatan sputum atau sputum kental, urine bau busuk dengan berkemih tiba-tiba atau rasa terbakar.&lt;br /&gt;g. Inspeksi kulit unutk nyeri tekan, area eritematosus; luka terbuka. Besihkan kulit dengan larutan antibakterial.&lt;br /&gt;h. Inspeksi membran mukosa mulut. Bersihkan mulut dengan sikat gigi halus.&lt;br /&gt;i. Tingkatkan kebersihan perianal. Berikan rendam duduk menggunakan betadine atau Hibiclens bila diindiksikan.&lt;br /&gt;j. Berikan periode istirahat tanpa gangguan&lt;br /&gt;k. Dorong peningkatan masukan makanan tinggi protein dan cairan.&lt;br /&gt;l. Hindari prosedur invasif (tusukan jarum dan injeksi) bila mungkin.&lt;br /&gt;m. Kolaborasi :&lt;br /&gt; Awasi pemeriksaan laboratorium misal : hitung darah lerngkap, apakah SDP turun atau tiba-tiba terjadi perubahan pada neutrofil; kultur gram/sensitivitas.&lt;br /&gt;Kaji ulang seri foto dada.&lt;br /&gt;Berikan obat sesuai indikasi contoh antibiotik.&lt;br /&gt;Hindari antipiretik yang mengandung aspirin.&lt;br /&gt;et rendah bakteri misal makanan dimasak, diprosesBerikan di&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan berlebihan : muntah, perdarahan,diare ; penurunan pemasukan cairan : mual,anoreksia ; peningkatan kebutuhan cairan : demam, hipermetabolik&lt;br /&gt;Tujuan : volume cairan terpenuhi&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;a. Volume cairan adekuat&lt;br /&gt;b. Mukosa lembab&lt;br /&gt;c. Tanda vital stabil : TD 90/60 mmHg, nadi 100 x/menit, RR 20 x/mnt&lt;br /&gt;d. Nadi teraba&lt;br /&gt;e. Haluaran urin 30 ml/jam&lt;br /&gt;f. Kapileri refill &lt; 2 detik&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a. Awasi masukan/haluaran. Hitung kehilangan cairan dan keseimbangna cairan. Perhatikan penurunan urin, ukur berat jenis dan pH urin.&lt;br /&gt;b. Timbang berat badan tiap hari&lt;br /&gt;c. Awasi TD dan frekuensi jantung&lt;br /&gt;d. Evaluasi turgor kulit, pengisian kapiler dan kondisi membran mukosa.&lt;br /&gt;e. Beri masukan cairan 3-4 L/hari&lt;br /&gt;f. Inspeksi kulit/membran mukosa untuk petekie, area ekimosis; perhatikan perdarahan gusi, darah warna karat atau samar pada feses dan urin; perdarahan lanjut dari sisi tusukan invsif.&lt;br /&gt;g. Implementasikan tindakan untuk mencegah cedera jaringan/perdarahan.&lt;br /&gt;h. Batasi perawatan oral untuk mencuci mulut bila diindikasikan&lt;br /&gt;i. Berikan diet halus.&lt;br /&gt;j. Kolaborasi :&lt;br /&gt;Berikan cairan IV sesuai indikasi&lt;br /&gt;Awasi pemeriksaan laboratorium : trombosit, Hb/Ht, pembekuan.&lt;br /&gt;Berikan SDM, trombosit, faktor pembekuan.&lt;br /&gt;Pertahankan alat akses vaskuler sentral eksternal (kateter arteri subklavikula, tunneld, port implan)&lt;br /&gt;Berikan obat sesuai indikasi : Ondansetron, allopurinol, kalium asetat atau asetat, natrium biukarbonat, pelunak feses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Nyeri berhubungan dengan agen fisikal seperti pembesaran organ/nodus limfe, sumsum tulang yang dikemas dengan sel leukemia; agen kimia pengobatan antileukemik&lt;br /&gt;Tujuan : nyeri teratasi&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;a. Pasien menyatakan nyeri hilang atau terkontrol&lt;br /&gt;b. Menunjukkan perilaku penanganan nyeri&lt;br /&gt;c. Tampak rileks dan mampu istirahat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a. Kaji keluhan nyeri, perhatikan perubahan pada derajat dan sisi (gunakan skala 0-10)&lt;br /&gt;b. Awasi tanda vital, perhatikan petunjuk non-verbal misal tegangan otot, gelisah.&lt;br /&gt;c. Berikan lingkungan tenang dan kurangi rangsangan penuh stres.&lt;br /&gt;d. Tempatkan pada posis nyaman dan sokong sendi, ekstremitas dengan bantal.&lt;br /&gt;e. Ubah posisi secara periodik dan bantu latihan rentang gerak lembut.&lt;br /&gt;f. Berikan tindakan kenyamanan ( pijatan, kompres dingin dan dukungan psikologis)&lt;br /&gt;g. Kaji ulang/tingkatkan intervensi kenyamanan pasien sendiri&lt;br /&gt;h. Evaluasi dan dukung mekanisme koping pasien.&lt;br /&gt;i. Dorong menggunakan teknik menajemen nyeri contoh latihan relaksasi/nafas dalam, sentuhan.&lt;br /&gt;j. Bantu aktivitas terapeutik, teknik relaksasi.&lt;br /&gt;k. Kolaborasi :&lt;br /&gt;Awasi kadar asam urat&lt;br /&gt;Berika obat sesuai indikasi : analgesik (asetaminofen), narkotik (kodein, meperidin, morfin, hidromorfon)&lt;br /&gt;Agen antiansietas (diazepam, lorazepam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, peningkatan laju metabolik&lt;br /&gt;Tujuan : pasien mampu mentoleransi aktivitas&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;a. Peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur&lt;br /&gt;b. Berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari sesuai tingkat kemampuan&lt;br /&gt;c. Menunjukkan penurunan tanda fisiologis tidak toleran misal nadi, pernafasan dan TD dalam batas normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;d. Evaluasi laporan kelemahan, perhatikan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas.berikan lingkungan tenang dan periode istirahat tanpa ganggaun&lt;br /&gt;e. Implementasikan teknik penghematan energi, contoh lebih baik duduk daripada berdiri, pengunaan kursi untuk madi&lt;br /&gt;f. Jadwalkan makan sekitar kemoterapi. Berikan kebersihan mulut sebelum makan dan berikan antiemetik sesuai indikasi&lt;br /&gt;g. Kolaborasi : berikan oksigen tambahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan trombositopenia&lt;br /&gt;Tujuan : pasien bebas dari gejala perdarahan&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;a. TD 90/60mmHg&lt;br /&gt;b. Nadi 100 x/mnt&lt;br /&gt;c. Ekskresi dan sekresi negtif terhadap darah&lt;br /&gt;d. Ht 40-54% (laki-laki), 37-47% ( permpuan)&lt;br /&gt;e. Hb 14-18 gr%&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;f. Pantau hitung trombosit dengan jumlah 50.000/ ml, resiko terjadi perdarahan. Pantau Ht dan Hb terhadap tanda perdarahan&lt;br /&gt;g. Minta pasien untuk mengingatkan perawat bila ada rembesan darah dari gusi&lt;br /&gt;h. Inspeksi kulit, mulut, hidung urin, feses, muntahan dan tempat tusukan IV terhadap perdarahan&lt;br /&gt;i. Pantau TV interval sering dan waspadai tanda perdarahan.&lt;br /&gt;j. Gunakan jarum ukuran kecil&lt;br /&gt;k. Jika terjadi perdarahan, tinggikan bagian yang sakit dan berikan kompres dingin dan tekan perlahan.&lt;br /&gt;l. Beri bantalan tempat tidur untuk cegh trauma&lt;br /&gt;m. Anjurkan pada pasien untuk menggunakan sikat gigi halus atau pencukur listrik.&lt;br /&gt;6. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan terhentinya aliran darah sekunder adanya destruksi SDM&lt;br /&gt;Tujuan : perfusi adekuat&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;a. Masukan dan haluaran seimbang&lt;br /&gt;b. Haluaran urin 30 ml/jam&lt;br /&gt;c. Kapileri refill &lt; 2 detik&lt;br /&gt;d. Tanda vital stabil&lt;br /&gt;e. Nadi perifer kuat terpalpasi&lt;br /&gt;f. Kulit hangat dan tidak ada sianosis&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a. Awasi tanda vital&lt;br /&gt;b. Kaji kulit untuk rasa dingin, pucat, kelambatan pengisian kapiler&lt;br /&gt;c. Catat perubahan tingkat kesadaran&lt;br /&gt;d. Pertahankan masukan cairan adekuat&lt;br /&gt;e. Evaluasi terjadinya edema&lt;br /&gt;f. Kolaborasi :&lt;br /&gt;Awasi pemeriksaan laboratorium ; GDA, AST/ALT, CPK, BUN&lt;br /&gt;Elektrolit serum, berikan pengganti sesuai indikasi&lt;br /&gt;Berikan cairan hipoosmolar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &amp; Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.&lt;br /&gt;2. Tucker, Susan Martin et al. Patient care Standards : Nursing Process, diagnosis, And Outcome. Alih bahasa Yasmin asih. Ed. 5. Jakarta : EGC; 1998&lt;br /&gt;3. Doenges, Marilynn E. Nursing Care Plans: Guidelines For Planning And Documenting Patient Care. Alih Bahasa I Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC; 1999&lt;br /&gt;4. Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease Processes. Alih Bahasa Peter Anugrah. Ed. 4. Jakarta : EGC; 1994&lt;br /&gt;5. Reeves, Charlene J et al. Medical-Surgical Nursing. Alih Bahasa Joko Setyono. Ed. I. Jakarta : Salemba Medika; 2001&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-1926565807606027064?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/1926565807606027064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/1926565807606027064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/1926565807606027064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan.html' title='Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Leukemia'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_COYf4t1Rlog/SumQhbE6KdI/AAAAAAAAABg/ce0Fu3MuyQs/s72-c/leukemia-pada-anak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-677851119371521643</id><published>2010-06-13T15:16:00.003+07:00</published><updated>2010-06-13T15:31:02.448+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keperawatan'/><title type='text'>POST CRANIOTOMY (CRANIOPHARYNGIOMA)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:sFYjj0BUR_SVeM::www.mayfieldclinic.com/Images/PE-Craniotomy_Figure2.jpg&amp;t=1&amp;h=206&amp;w=200&amp;usg=__J_Apuv577pmDmYnZAH7iqHsUmao="&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 206px;" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:sFYjj0BUR_SVeM::www.mayfieldclinic.com/Images/PE-Craniotomy_Figure2.jpg&amp;t=1&amp;h=206&amp;w=200&amp;usg=__J_Apuv577pmDmYnZAH7iqHsUmao=" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. DEFINISI&lt;br /&gt;Tumor otak adalah lesi oleh karena ada desakan ruang baik jinak maupun ganas yang tumbuh di otak, meningen dan tengkorak.&lt;br /&gt;Craniopharyngioma adalah Tumor otak yang terletak di area hipotalamus di atas sella tursica&lt;br /&gt;Craniotomy adalah Operasi untuk membuka tengkorak (tempurung kepala) dengan maksud untuk mengetahui dan memperbaiki kerusakan otak.&lt;br /&gt;B. ETIOLOGI&lt;br /&gt;Kongenital : Beberapa tumor otak tertentu seperti kraniofaringioma, teratoma, berasal dari sisa-sisa embrional yang kemudian mengalami pertumbuhan neoplastik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. MANIFESTASI KLINIK&lt;br /&gt; Manifestasi klinik umum (akibat dari peningkatan TIK, obstruksi dari CSF)&lt;br /&gt;• Sakit kepala&lt;br /&gt;• Nausea atau muntah proyektil&lt;br /&gt;• Pusing&lt;br /&gt;• Perubahan mental&lt;br /&gt;• Kejang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manifestasi klinik lokal (akibat kompresi tumor pada bagian yang spesifik dari otak)&lt;br /&gt;1. Perubahan penglihatan, misalnya: hemianopsia, nystagmus, diplopia, kebutaan, tanda-tanda  &lt;br /&gt;    papil edema.&lt;br /&gt;2. Perubahan bicara, msalnya: aphasia&lt;br /&gt;3. Perubahan sensorik, misalnya: hilangnya sensasi nyeri, halusinasi sensorik.&lt;br /&gt;4. Perubahan motorik, misalnya: ataksia, jatuh, kelemahan, dan paralisis.&lt;br /&gt;5. Perubahan bowel atau bladder, misalnya: inkontinensia, retensia urin, dan konstipasi.&lt;br /&gt;6. Perubahan dalam pendengaran, misalnya : tinnitus, deafness.&lt;br /&gt;7. Perubahan dalam seksual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. PEMERIKSAAN PENUNJANG&lt;br /&gt;Untuk membantu menentukan lokasi tumor yang tepat, sebuah deretan pengujian dilakukan. 1. CT-Scan memberikan info spesifik menyangkut jumlah, ukuran, dan kepadatan jejas  &lt;br /&gt;    tumor, serta meluasnya edema serebral sekunder. &lt;br /&gt;2. MRI membantu mendiagnosis tumor potak. Ini dilakukan untuk mendeteksi jejas tumor &lt;br /&gt;    yang kecil, alat ini juga membantu mendeteksi jejas yang kecil dan tumor-tumor didalam  &lt;br /&gt;    batang otak dan daerah hipofisis. &lt;br /&gt;3. Biopsy stereotaktik bantuan computer (3 dimensi) dapat digunakan untuk mendiagnosis &lt;br /&gt;    kedudukan tumor yang dalam dan untuk memberikan dasar-dasar pengobatan dan &lt;br /&gt;    informasi prognosis. &lt;br /&gt;4. Angiografi serebral memberikan gambaran tentang pembuluh darah serebral dan letak  &lt;br /&gt;    tumor serebral. &lt;br /&gt;5. EKG dapat mendeteksi gelombang otak abnormal pada daerah yang ditempati tumor dan &lt;br /&gt;    dapat memungkinkan untuk mengevaluasi lobus temporal pada waktu kejang. &lt;br /&gt;E. KOMPLIKASI POST OPERASI&lt;br /&gt;1.   Edema cerebral&lt;br /&gt;2.   Perdarahan subdural, epidural, dan intracerebral&lt;br /&gt;3.   Hypovolemik syok&lt;br /&gt;4.   Hydrocephalus&lt;br /&gt;5.   Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit (SIADH atau Diabetes Insipidus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.   Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.&lt;br /&gt; Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 - 14 hari setelah operasi. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru, hati, dan otak.&lt;br /&gt; Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi, ambulatif dini.&lt;br /&gt;7. Infeksi.&lt;br /&gt; Infeksi luka sering muncul pada 36 - 46 jam setelah operasi. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens, organisme; gram positif. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan. &lt;br /&gt; Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik.&lt;br /&gt;8. Kerusakan integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi.&lt;br /&gt; Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka.&lt;br /&gt; Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi.&lt;br /&gt; Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutup waktu pembedahan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;F. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.&lt;br /&gt;2. Mempercepat penyembuhan.&lt;br /&gt;3. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi.&lt;br /&gt;4. Mempertahankan konsep diri pasien.&lt;br /&gt;5. Mempersiapkan pasien pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawatan pasca pembedahan &lt;br /&gt;1. Tindakan keperawatan post operasi&lt;br /&gt;a. Monitor kesadaran, tanda-tanda vital, CVP, intake dan output&lt;br /&gt;b. Observasi dan catat sifat darai drain (warna, jumlah) drainage.&lt;br /&gt;c. Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati, jangan sampai drain tercabut.&lt;br /&gt;d. Perawatan luka operasi secara steril.&lt;br /&gt;2. Makanan&lt;br /&gt;Pada pasien pasca pembedahan biasanya tidak diperkenankan menelan makanan sesudah pembedahan. makanan yang dianjurkan pada pasien post operasi adalah makanan tinggi protein dan vitamin C. Protein sangat diperlukan pada proses penyembuhan luka, sedangkan vitamin C yang mengandung antioksidan membantu meningkatkan daya tahan tubuh untuk pencegahan infeksi.&lt;br /&gt;pembatasan diit yang dilakukan adalah NPO (nothing peroral) &lt;br /&gt;Biasanya makanan baru diberikan jika: &lt;br /&gt;• Perut tidak kembung&lt;br /&gt;• Peristaltik usus normal&lt;br /&gt;• Flatus positif&lt;br /&gt;• Bowel movement positif&lt;br /&gt;3. Mobilisasi&lt;br /&gt;Biasanya pasien diposisikan untuk berbaring ditempat tidur agar keadaanya stabil. Biasanya posisi awal adalah terlentang, tapi juga harus tetap dilakukan perubahan posisi agar tidak terjadi dekubitus. Pasien yang menjalani pembedahan abdomen dianjurkan untuk melakukan ambulasi dini. &lt;br /&gt;4. Pemenuhan kebutuhan eliminasi&lt;br /&gt;Sistem Perkemihan.&lt;br /&gt;- Kontrol volunter fungsi perkemihan kembali setelah 6 – 8 jam post anesthesia inhalasi, IV, spinal.&lt;br /&gt; Anesthesia, infus IV, manipulasi operasi  retensio urine.&lt;br /&gt;- Pencegahan : Inspeksi, Palpasi, Perkusi abdomen bawah (distensi buli-buli).&lt;br /&gt;- Dower catheter  kaji warna, jumlah urine, out put urine &lt; 30 ml / jam  komplikasi ginjal.&lt;br /&gt;Sistem Gastrointestinal.&lt;br /&gt;- Mual muntah  40 % klien dengan GA selama 24 jam pertama dapat menyebabkan stress dan iritasi luka GI dan dapat meningkatkan TIK pada bedah kepala dan leher serta TIO meningkat.&lt;br /&gt;- Kaji fungsi gastro intestinal dengan auskultasi suara usus.&lt;br /&gt;- Kaji paralitic ileus  suara usus (-), distensi abdomen, tidak flatus.&lt;br /&gt;- jumlah, warna, konsistensi isi lambung tiap 6 – 8 jam.&lt;br /&gt;- Insersi NG tube intra operatif mencegah komplikasi post operatif dengan decompresi dan drainase lambung.&lt;br /&gt;• Meningkatkan istirahat.&lt;br /&gt;• Memberi kesempatan penyembuhan pada GI trac bawah.&lt;br /&gt;• Memonitor perdarahan.&lt;br /&gt;• Mencegah obstruksi usus.&lt;br /&gt;• Irigasi atau pemberian obat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Proses penyembuhan luka&lt;br /&gt;• Fase pertama&lt;br /&gt; Berlangsung sampai hari ke 3. Batang lekosit banyak yang rusak / rapuh. Sel-sel darah baru berkembang menjadi penyembuh dimana serabut-serabut bening digunakan sebagai kerangka.&lt;br /&gt;• Fase kedua&lt;br /&gt; Dari hari ke 3 sampai hari ke 14. Pengisian oleh kolagen, seluruh pinggiran sel epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. Jaringan baru tumbuh dengan kuat dan kemerahan.&lt;br /&gt;• Fase ketiga&lt;br /&gt; Sekitar 2 sampai 10 minggu. Kolagen terus-menerus ditimbun, timbul jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali.&lt;br /&gt;• Fase keempat&lt;br /&gt; Fase terakhir. Penyembuhan akan menyusut dan mengkerut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Upaya untuk mempercepat penyembuhan luka&lt;br /&gt;1. Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin C.&lt;br /&gt;2. Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid.&lt;br /&gt;3. Pencegahan infeksi.&lt;br /&gt;4. Pengembalian Fungsi fisik.&lt;br /&gt;Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan napas dan batuk efektif, latihan mobilisasi dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Kriteria Evaluasi&lt;br /&gt;Hasil yang diharapkan setelah perawatan pasien post operasi, meliputi;&lt;br /&gt;1. Tidak timbul nyeri luka selama penyembuhan.&lt;br /&gt;2. Luka insisi normal tanpa infeksi.&lt;br /&gt;3. Tidak timbul komplikasi.&lt;br /&gt;4. Pola eliminasi lancar.&lt;br /&gt;5. Pasien tetap dalam tingkat optimal tanpa cacat.&lt;br /&gt;6. Kehilangan berat badan minimal atau tetap normal.&lt;br /&gt;7. Sebelum pulang, pasien mengetahui tentang :&lt;br /&gt;• Pengobatan lanjutan.&lt;br /&gt;• Jenis obat yang diberikan.&lt;br /&gt;• Diet.&lt;br /&gt;• Batas kegiatan dan rencana kegiatan di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. PENGKAJIAN&lt;br /&gt;a. Primary Survey&lt;br /&gt;1) Airway&lt;br /&gt; Periksa jalan nafas dari sumbatan benda asing (padat, cair) setelah dilakukan pembedahan akibat pemberian anestesi. &lt;br /&gt; Potency jalan nafas,  meletakan tangan di atas mulut atau hidung.&lt;br /&gt; Auscultasi paru  keadekwatan expansi paru, kesimetrisan.&lt;br /&gt;2) Breathing&lt;br /&gt; Kompresi pada batang otak akan mengakibatkan gangguan irama jantung, sehingga terjadi perubahan pada pola napas, kedalaman, frekuensi maupun iramanya, bisa berupa Cheyne Stokes atau Ataxia breathing. Napas berbunyi, stridor, ronkhi, wheezing ( kemungkinana karena aspirasi), cenderung terjadi peningkatan produksi sputum pada jalan napas.&lt;br /&gt; Perubahan pernafasan (rata-rata, pola, dan kedalaman). RR  &lt; 10 X / menit  depresi narcotic, respirasi cepat, dangkal  gangguan cardiovasculair atau rata-rata metabolisme yang meningkat.&lt;br /&gt; Inspeksi: Pergerakan dinding dada, penggunaan otot bantu pernafasan diafragma, retraksi sternal  efek anathesi yang berlebihan, obstruksi.&lt;br /&gt;3) Circulating:&lt;br /&gt; Efek peningkatan tekanan intrakranial terhadap tekanan darah bervariasi. Tekanan pada pusat vasomotor akan meningkatkan transmisi rangsangan parasimpatik ke jantung yang akan mengakibatkan denyut nadi menjadi lambat, merupakan tanda peningkatan tekanan intrakranial. Perubahan frekuensi jantung (bradikardia, takikardia yang diselingi dengan bradikardia, disritmia).&lt;br /&gt; Inspeksi membran mukosa : warna dan kelembaban, turgor kulit, balutan.&lt;br /&gt;4) Disability : berfokus pada status neurologi&lt;br /&gt; Kaji tingkat kesadaran pasien, tanda-tanda respon mata, respon motorik dan tanda-tanda vital.&lt;br /&gt; Inspeksi respon terhadap rangsang, masalah bicara, kesulitan menelan, kelemahan atau paralisis ekstremitas, perubahan visual dan gelisah.&lt;br /&gt;5) Exposure&lt;br /&gt; Kaji balutan bedah pasien terhadap adanya perdarahan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Secondary Survey : Pemeriksaan fisik&lt;br /&gt;Pasien nampak tegang, wajah menahan  sakit, lemah. Kesadaran somnolent, apatis,  GCS : 4-5-6,  T 120/80 mmHg, N 98 x/menit, S 374 0C, RR 20 X/menit.&lt;br /&gt;1) Abdomen.&lt;br /&gt;Inspeksi tidak ada asites, palpasi hati  teraba 2 jari bawah iga,dan limpa tidak membesar, perkusi bunyi redup, bising usus 14 X/menit. &lt;br /&gt;Distensi abdominal dan peristaltic usus adalah pengkajian yang harus dilakukan pada gastrointestinal.&lt;br /&gt;2) Ekstremitas&lt;br /&gt;Mampu mengangkat tangan dan kaki. Kekuatan otot ekstremitas atas 4-4 dan ekstremitas bawah 4-4., akral dingin dan pucat.&lt;br /&gt;3) Integumen.&lt;br /&gt;Kulit keriput, pucat. Turgor sedang&lt;br /&gt;4) Pemeriksaan neurologis&lt;br /&gt;Bila perdarahan hebat/luas dan mengenai batang otak akan terjadi gangguan pada nervus cranialis, maka dapat terjadi : &lt;br /&gt; Perubahan status mental (orientasi, kewaspadaan, perhatian, konsentrasi, pemecahan masalah, pengaruh emosi/tingkah laku dan memori).&lt;br /&gt; Perubahan dalam penglihatan, seperti ketajamannya, diplopia, kehilangan sebagian lapang pandang, foto fobia. &lt;br /&gt; Perubahan pupil (respon terhadap cahaya, simetri), deviasi pada mata. &lt;br /&gt; Terjadi penurunan daya pendengaran, keseimbangan tubuh. &lt;br /&gt; Sering timbul hiccup/cegukan oleh karena kompresi pada nervus vagus menyebabkan kompresi spasmodik diafragma. &lt;br /&gt; Gangguan nervus hipoglosus. Gangguan yang tampak lidah jatuh kesalah satu sisi, disfagia, disatria, sehingga kesulitan menelan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Tersiery Survey&lt;br /&gt;1) Kardiovaskuler&lt;br /&gt;Klien nampak lemah, kulit  dan kunjungtiva pucat dan akral hangat. Tekanan darah 120/70 mmhg, nadi 120x/menit, kapiler refill 2 detik. Pemeriksaan laboratorium: HB = 9,9 gr%,  HCT= 32 dan PLT = 235.&lt;br /&gt;2) Brain&lt;br /&gt;Klien dalam keadaan sadar, GCS: 4-5-6 (total = 15), klien nampak lemah, refleks dalam batas normal.&lt;br /&gt;3) Blader&lt;br /&gt;Klien terpasang doewer chateter urine tertampung 200 cc,  warna kuning kecoklatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. DIAGNOSA KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Ganggguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka insisi.&lt;br /&gt;2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka insisi.&lt;br /&gt;3. Resiko tinggi infeksi  berhubungan dengan higiene luka yang buruk.&lt;br /&gt;4. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan pendarahan.&lt;br /&gt;5. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan post operasi.&lt;br /&gt;6. Pola nafas inefektif berhubungan dengan efek anastesi.&lt;br /&gt;7. Bersihan jalan napas inefektif berhubungan dengan penumpukan secret.&lt;br /&gt;8. Perubahan pola eliminasi urin berhubungan dengan efek anastesi.&lt;br /&gt;9. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-677851119371521643?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/677851119371521643/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/post-craniotomy-craniopharyngioma.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/677851119371521643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/677851119371521643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/post-craniotomy-craniopharyngioma.html' title='POST CRANIOTOMY (CRANIOPHARYNGIOMA)'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-450541853202318795</id><published>2010-06-13T15:04:00.005+07:00</published><updated>2010-06-13T15:12:24.309+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>TEKNIK SAMPLING</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dlcthBIOpeI/R36wyS-mhxI/AAAAAAAAAAc/LtjIjEaEUG4/s320/Teknik+Sampling.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 221px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dlcthBIOpeI/R36wyS-mhxI/AAAAAAAAAAc/LtjIjEaEUG4/s320/Teknik+Sampling.png" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;       Sampel adalah sebagian dari populasi. Artinya tidak akan ada sampel jika tidak ada populasi. Populasi adalah keseluruhan elemen atau unsur yang akan kita teliti. Penelitian yang dilakukan atas seluruh elemen dinamakan sensus. Idealnya, agar hasil penelitiannya lebih bisa dipercaya, seorang peneliti harus melakukan sensus. Namun karena sesuatu hal peneliti bisa tidak meneliti keseluruhan elemen tadi, maka yang bisa dilakukannya adalah meneliti sebagian dari keseluruhan elemen atau unsur tadi. &lt;br /&gt;       Berbagai alasan yang masuk akal mengapa peneliti tidak melakukan sensus antara lain adalah,(a) populasi demikian banyaknya sehingga dalam prakteknya tidak mungkin seluruh elemen diteliti; (b) keterbatasan waktu penelitian, biaya, dan sumber daya manusia, membuat peneliti harus telah puas jika meneliti sebagian dari elemen penelitian; (c) bahkan kadang, penelitian yang dilakukan terhadap sampel bisa lebih reliabel daripada terhadap populasi – misalnya, karena elemen sedemikian banyaknya maka akan memunculkan kelelahan fisik dan mental para pencacahnya sehingga banyak terjadi kekeliruan. (Uma Sekaran, 1992); (d) demikian pula jika elemen populasi homogen, penelitian terhadap seluruh elemen dalam populasi menjadi tidak masuk akal, misalnya untuk meneliti kualitas jeruk dari satu pohon jeruk    &lt;br /&gt;       Agar hasil penelitian yang dilakukan terhadap sampel masih tetap bisa dipercaya dalam artian masih bisa mewakili karakteristik populasi,  maka cara penarikan sampelnya harus dilakukan secara seksama. Cara pemilihan sampel dikenal dengan nama teknik sampling atau teknik pengambilan sampel .         &lt;br /&gt;      Populasi atau universe adalah sekelompok orang, kejadian, atau benda, yang dijadikan obyek penelitian. Jika yang ingin diteliti adalah sikap konsumen terhadap satu produk tertentu, maka populasinya adalah seluruh konsumen produk tersebut. Jika yang diteliti adalah laporan keuangan perusahaan “X”, maka populasinya adalah keseluruhan laporan keuangan perusahaan “X” tersebut, Jika yang diteliti adalah motivasi pegawai di departemen “A” maka populasinya adalah seluruh pegawai di departemen “A”. Jika yang diteliti adalah efektivitas gugus kendali mutu (GKM) organisasi “Y”, maka populasinya adalah seluruh GKM organisasi “Y”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Elemen/unsur adalah setiap satuan populasi. Kalau dalam populasi terdapat 30 laporan keuangan, maka setiap laporan keuangan tersebut adalah unsur atau elemen penelitian. Artinya dalam populasi tersebut terdapat 30 elemen penelitian. Jika populasinya adalah pabrik sepatu, dan jumlah pabrik sepatu 500, maka dalam populasi tersebut terdapat 500 elemen penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat sampel yang baik&lt;br /&gt;       Secara umum, sampel yang baik adalah yang dapat mewakili sebanyak mungkin karakteristik populasi. Dalam bahasa pengukuran, artinya sampel harus valid, yaitu bisa mengukur sesuatu yang seharusnya diukur. Kalau yang ingin diukur adalah masyarakat Sunda sedangkan yang dijadikan sampel adalah hanya orang Banten saja, maka sampel tersebut tidak valid, karena tidak mengukur sesuatu yang seharusnya diukur (orang Sunda). Sampel yang valid ditentukan oleh dua pertimbangan.&lt;br /&gt;Pertama : Akurasi atau ketepatan , yaitu tingkat ketidakadaan “bias” (kekeliruan) dalam sample. Dengan kata lain makin sedikit tingkat kekeliruan yang ada dalam sampel, makin akurat sampel tersebut. Tolok ukur adanya “bias” atau kekeliruan  adalah populasi. &lt;br /&gt;Cooper dan Emory (1995) menyebutkan bahwa “there is no systematic variance” yang maksudnya adalah tidak ada keragaman pengukuran yang disebabkan karena pengaruh yang diketahui atau tidak diketahui, yang menyebabkan skor cenderung mengarah pada satu titik tertentu. Sebagai contoh, jika ingin mengetahui rata-rata luas tanah suatu perumahan, lalu yang dijadikan sampel adalah rumah yang terletak di setiap sudut jalan, maka hasil atau skor yang diperoleh akan bias. Kekeliruan semacam ini bisa terjadi pada sampel yang diambil secara sistematis&lt;br /&gt;      Contoh systematic variance yang banyak ditulis dalam buku-buku metode penelitian adalah jajak-pendapat (polling) yang dilakukan oleh Literary Digest (sebuah majalah yang terbit di Amerika tahun 1920-an) pada tahun 1936. (Copper &amp; Emory, 1995, Nan lin, 1976). Mulai tahun 1920, 1924, 1928, dan tahun 1932 majalah ini berhasil memprediksi siapa yang akan jadi presiden dari calon-calon presiden yang ada. Sampel diambil berdasarkan petunjuk dalam buku telepon dan dari daftar pemilik mobil. Namun pada tahun 1936 prediksinya salah. Berdasarkan jajak pendapat, di antara dua calon presiden (Alfred M. Landon dan Franklin D. Roosevelt), yang akan menang adalah Landon, namun meleset karena ternyata Roosevelt yang terpilih menjadi presiden Amerika.&lt;br /&gt;       Setelah diperiksa secara seksama, ternyata Literary Digest membuat kesalahan dalam menentukan sampel penelitiannya . Karena semua sampel yang diambil adalah mereka yang memiliki telepon dan mobil, akibatnya pemilih yang sebagian besar tidak memiliki telepon dan mobil (kelas rendah) tidak terwakili, padahal Rosevelt lebih banyak dipilih oleh masyarakat kelas rendah tersebut. Dari kejadian tersebut ada dua pelajaran yang diperoleh : (1), keakuratan prediktibilitas dari suatu sampel tidak selalu bisa dijamin dengan banyaknya jumlah sampel; (2) agar sampel dapat memprediksi dengan baik populasi, sampel harus mempunyai selengkap mungkin karakteristik populasi (Nan Lin, 1976).&lt;br /&gt;Kedua : Presisi. Kriteria kedua sampel yang baik adalah memiliki tingkat presisi estimasi. Presisi mengacu pada persoalan sedekat mana estimasi kita  dengan karakteristik populasi. Contoh : Dari 300 pegawai produksi, diambil sampel 50 orang. Setelah diukur ternyata rata-rata perhari, setiap orang menghasilkan 50 potong produk “X”. Namun berdasarkan laporan harian, pegawai bisa menghasilkan produk “X” per harinya rata-rata 58 unit. Artinya di antara laporan harian yang dihitung berdasarkan populasi dengan hasil penelitian yang dihasilkan dari sampel, terdapat perbedaan 8 unit. Makin kecil tingkat perbedaan di antara rata-rata populasi dengan rata-rata sampel, maka makin tinggi tingkat presisi sampel tersebut.&lt;br /&gt;         Belum pernah ada sampel yang bisa mewakili karakteristik populasi sepenuhnya. Oleh karena itu dalam setiap penarikan sampel senantiasa melekat keasalahan-kesalahan, yang dikenal dengan nama “sampling error” Presisi diukur oleh simpangan baku (standard error). Makin kecil perbedaan di antara simpangan baku yang diperoleh dari sampel (S) dengan simpangan baku dari populasi (, makin tinggi pula tingkat presisinya. Walau tidak selamanya, tingkat presisi mungkin  bisa meningkat dengan cara menambahkan jumlah sampel, karena kesalahan mungkin bisa berkurang kalau jumlah sampelnya ditambah ( Kerlinger, 1973 ). Dengan contoh di atas tadi, mungkin saja perbedaan rata-rata di antara populasi dengan sampel bisa lebih sedikit, jika sampel yang ditariknya ditambah. Katakanlah dari 50 menjadi 75.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ukuran sampel &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;         Ukuran sampel atau jumlah sampel yang diambil menjadi persoalan yang penting manakala jenis penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian yang menggunakan analisis kuantitatif. Pada penelitian yang menggunakan analisis kualitatif, ukuran sampel bukan menjadi nomor satu, karena yang dipentingkan alah kekayaan informasi. Walau jumlahnya sedikit tetapi jika kaya akan informasi, maka sampelnya lebih bermanfaat.&lt;br /&gt;         Dikaitkan dengan besarnya sampel, selain tingkat kesalahan, ada lagi beberapa faktor lain yang perlu memperoleh pertimbangan yaitu, (1) derajat keseragaman, (2) rencana analisis, (3) biaya, waktu, dan tenaga yang tersedia . (Singarimbun dan Effendy, 1989). Makin tidak seragam sifat atau karakter setiap elemen populasi, makin banyak sampel yang harus diambil.  Jika rencana analisisnya mendetail atau rinci maka jumlah sampelnya pun harus banyak. Misalnya di samping ingin mengetahui sikap konsumen terhadap kebijakan perusahaan, peneliti juga bermaksud mengetahui hubungan antara sikap dengan tingkat pendidikan. Agar tujuan ini dapat tercapai maka sampelnya harus terdiri atas berbagai jenjang pendidikan SD, SLTP. SMU, dan seterusnya.. Makin sedikit waktu, biaya , dan tenaga yang dimiliki peneliti, makin sedikit pula sampel yang bisa diperoleh. Perlu dipahami bahwa apapun alasannya, penelitian haruslah dapat dikelola dengan baik (manageable).&lt;br /&gt;          Misalnya, jumlah bank yang dijadikan populasi penelitian ada 400 buah. Pertanyaannya adalah, berapa bank yang harus diambil menjadi sampel agar hasilnya mewakili populasi?. 30?, 50? 100? 250?. Jawabnya tidak mudah. Ada yang mengatakan, jika ukuran populasinya di atas 1000, sampel sekitar 10 % sudah cukup, tetapi jika ukuran populasinya sekitar 100, sampelnya paling sedikit 30%, dan kalau ukuran populasinya 30, maka sampelnya harus 100%. &lt;br /&gt;          Ada pula yang menuliskan, untuk penelitian deskriptif, sampelnya 10% dari populasi, penelitian korelasional, paling sedikit 30 elemen populasi, penelitian perbandingan kausal, 30 elemen per kelompok, dan untuk penelitian eksperimen 15 elemen per kelompok (Gay dan Diehl, 1992).&lt;br /&gt;          Roscoe (1975) dalam Uma Sekaran (1992)  memberikan pedoman penentuan jumlah sampel sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Sebaiknya ukuran sampel di antara 30 s/d 500 elemen&lt;br /&gt;2. Jika sampel dipecah lagi ke dalam subsampel (laki/perempuan, SD?SLTP/SMU, dsb), jumlah minimum subsampel harus 30&lt;br /&gt;3. Pada penelitian multivariate (termasuk analisis regresi multivariate) ukuran sampel harus beberapa kali lebih besar (10 kali) dari jumlah variable yang akan dianalisis.&lt;br /&gt;4. Untuk penelitian eksperimen yang sederhana, dengan pengendalian yang ketat, ukuran sampel bisa antara 10 s/d 20 elemen.&lt;br /&gt;Krejcie dan Morgan (1970) dalam Uma Sekaran (1992) membuat daftar yang bisa dipakai untuk menentukan jumlah sampel sebagai berikut (Lihat Tabel)N: (Populasi, n: sampel) &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;(N)     (n) (N) (n) (N) (n)&lt;br /&gt;10 10 220 140 1200 291&lt;br /&gt;15 14 230 144 1300 297&lt;br /&gt;20 19 240 148 1400 302&lt;br /&gt;25 24 250 152 1500 306&lt;br /&gt;30 28 260 155 1600 310&lt;br /&gt;35 32 270 159 1700 313&lt;br /&gt;40 36 280 162 1800 317&lt;br /&gt;45 40 290 165 1900 320&lt;br /&gt;50 44 300 169 2000 322&lt;br /&gt;55 48 320 175 2200 327&lt;br /&gt;60 52 340 181 2400 331&lt;br /&gt;65 56 360 186 2600 335&lt;br /&gt;70 59 380 191 2800 338&lt;br /&gt;75 63 400 196 3000 341&lt;br /&gt;80 66 420 201 3500 346&lt;br /&gt;85 70 440 205 4000 351&lt;br /&gt;90 73 460 210 4500 354&lt;br /&gt;95 76 480 214 5000 357&lt;br /&gt;100 80 500 217 6000 361&lt;br /&gt;110 86 550 226 7000 364&lt;br /&gt;120 92 600 234 8000 367&lt;br /&gt;130 97 650 242 9000 368&lt;br /&gt;140 103 700 248 10000 370&lt;br /&gt;150 108 750 254 15000 375&lt;br /&gt;160 113 800 260 20000 377&lt;br /&gt;170 118 850 265 30000 379&lt;br /&gt;180 123 900 269 40000 380&lt;br /&gt;190 127 950 274 50000 381&lt;br /&gt;200 132 1000 278 75000 382&lt;br /&gt;210 136 1100 285 1000000 384&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;         Sebagai informasi lainnya, Champion (1981) mengatakan bahwa sebagian besar uji statistik selalu menyertakan rekomendasi ukuran sampel. Dengan kata lain, uji-uji statistik yang ada akan sangat efektif jika diterapkan pada sampel yang jumlahnya 30 s/d 60 atau dari 120 s/d 250. Bahkan jika sampelnya di atas 500, tidak direkomendasikan untuk menerapkan uji statistik. (Penjelasan tentang ini dapat dibaca di Bab 7 dan 8 buku Basic Statistics for Social Research, Second Edition)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik-teknik pengambilan sampel&lt;br /&gt;       Secara umum, ada dua jenis teknik pengambilan sampel yaitu, sampel acak atau random sampling / probability sampling, dan sampel tidak acak atau nonrandom samping/nonprobability sampling. Yang dimaksud dengan random sampling adalah cara pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang sama untuk diambil kepada setiap elemen populasi. Artinya jika elemen populasinya ada 100 dan yang akan dijadikan sampel adalah 25, maka setiap elemen tersebut mempunyai kemungkinan 25/100 untuk bisa dipilih menjadi sampel. Sedangkan yang dimaksud dengan nonrandom sampling atau nonprobability sampling, setiap elemen populasi tidak mempunyai kemungkinan yang sama untuk dijadikan sampel. Lima elemen populasi dipilih sebagai sampel karena letaknya dekat dengan rumah peneliti, sedangkan yang lainnya, karena jauh, tidak dipilih; artinya kemungkinannya 0 (nol).&lt;br /&gt;         Dua jenis teknik pengambilan sampel di atas mempunyai tujuan yang berbeda. Jika peneliti ingin hasil penelitiannya bisa dijadikan ukuran untuk mengestimasikan populasi, atau istilahnya adalah melakukan generalisasi maka seharusnya sampel representatif dan diambil secara acak. Namun jika peneliti tidak mempunyai kemauan melakukan generalisasi hasil penelitian maka sampel bisa diambil secara tidak acak. Sampel tidak acak biasanya juga diambil jika peneliti tidak mempunyai data pasti tentang ukuran populasi dan informasi lengkap tentang setiap elemen populasi. Contohnya, jika yang diteliti populasinya adalah konsumen teh botol, kemungkinan besar peneliti tidak mengetahui dengan pasti berapa jumlah konsumennya, dan juga karakteristik konsumen. Karena dia tidak mengetahui ukuran pupulasi yang tepat, bisakah dia mengatakan bahwa 200 konsumen sebagai sampel dikatakan “representatif”?. Kemudian, bisakah peneliti  memilih sampel secara acak, jika tidak ada informasi yang cukup lengkap tentang diri konsumen?. Dalam situasi yang demikian, pengambilan sampel dengan cara acak tidak dimungkinkan, maka tidak ada pilihan lain kecuali sampel diambil dengan cara tidak acak atau nonprobability sampling, namun dengan konsekuensi hasil penelitiannya tersebut tidak bisa digeneralisasikan. Jika ternyata dari 200 konsumen teh botol tadi merasa kurang puas, maka peneliti tidak bisa mengatakan bahwa sebagian besar konsumen teh botol merasa kurang puas terhadap the botol.&lt;br /&gt;         Di setiap jenis teknik pemilihan tersebut, terdapat beberapa teknik yang lebih spesifik lagi. Pada sampel acak (random sampling) dikenal dengan istilah simple random sampling, stratified random sampling, cluster sampling, systematic sampling, dan area sampling. Pada nonprobability sampling dikenal beberapa teknik, antara lain adalah convenience sampling, purposive sampling, quota sampling, snowball sampling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Probability/Random Sampling.&lt;br /&gt;       Syarat pertama yang harus dilakukan untuk mengambil sampel secara acak adalah memperoleh atau membuat kerangka sampel atau dikenal dengan nama “sampling frame”. Yang dimaksud dengan  kerangka sampling adalah daftar yang berisikan setiap elemen populasi yang bisa diambil sebagai sampel. Elemen populasi bisa berupa data tentang orang/binatang, tentang kejadian, tentang tempat, atau juga tentang benda. Jika populasi penelitian adalah mahasiswa perguruan tinggi “A”, maka peneliti harus bisa memiliki daftar semua mahasiswa yang terdaftar di perguruan tinggi “A “ tersebut selengkap mungkin. Nama, NRP, jenis kelamin, alamat, usia, dan informasi lain yang berguna bagi penelitiannya.. Dari daftar ini, peneliti akan bisa secara pasti mengetahui jumlah populasinya (N). Jika populasinya adalah rumah tangga dalam sebuah kota, maka peneliti harus mempunyai daftar seluruh rumah tangga kota tersebut.  Jika populasinya adalah wilayah Jawa Barat, maka penelti harus mepunyai peta wilayah Jawa Barat secara lengkap. Kabupaten, Kecamatan, Desa, Kampung. Lalu setiap tempat tersebut diberi kode (angka atau simbol) yang berbeda satu sama lainnya.&lt;br /&gt;        Di samping sampling frame, peneliti juga harus mempunyai alat yang bisa dijadikan penentu sampel. Dari sekian elemen populasi, elemen mana saja yang bisa dipilih menjadi sampel?. Alat yang umumnya digunakan adalah Tabel Angka Random, kalkulator, atau  undian. Pemilihan sampel secara acak bisa dilakukan melalui sistem undian jika elemen populasinya tidak begitu banyak. Tetapi jika sudah ratusan, cara undian bisa mengganggu konsep “acak” atau “random” itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Simple Random Sampling atau Sampel Acak Sederhana&lt;br /&gt;Cara atau teknik ini dapat dilakukan jika analisis penelitiannya cenderung deskriptif dan bersifat umum. Perbedaan karakter yang mungkin ada pada setiap unsur atau elemen  populasi tidak merupakan hal yang penting bagi rencana analisisnya. Misalnya, dalam populasi ada wanita dan pria, atau ada yang kaya dan yang miskin, ada manajer dan bukan manajer, dan perbedaan-perbedaan lainnya.  Selama perbedaan gender, status kemakmuran, dan kedudukan dalam organisasi, serta perbedaan-perbedaan lain tersebut bukan merupakan sesuatu hal yang penting dan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil penelitian, maka peneliti dapat mengambil sampel secara acak sederhana. Dengan demikian setiap unsur populasi harus mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel. Prosedurnya :&lt;br /&gt;1. Susun “sampling frame”&lt;br /&gt;2. Tetapkan jumlah sampel yang akan diambil&lt;br /&gt;3. Tentukan alat pemilihan sampel&lt;br /&gt;4. Pilih sampel sampai dengan jumlah terpenuhi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Stratified Random Sampling atau Sampel Acak Distratifikasikan&lt;br /&gt;Karena unsur populasi berkarakteristik heterogen, dan heterogenitas tersebut mempunyai arti yang signifikan pada pencapaian tujuan penelitian, maka peneliti dapat mengambil sampel dengan cara ini. Misalnya, seorang peneliti ingin mengetahui sikap manajer terhadap satu kebijakan perusahaan. Dia menduga bahwa manajer tingkat atas cenderung positif sikapnya terhadap kebijakan perusahaan tadi. Agar dapat menguji dugaannya tersebut maka sampelnya harus terdiri atas paling tidak para manajer tingkat atas, menengah, dan bawah. Dengan teknik pemilihan sampel secara random distratifikasikan, maka dia akan memperoleh manajer di ketiga tingkatan tersebut, yaitu stratum manajer atas, manajer menengah dan manajer bawah. Dari setiap stratum tersebut dipilih sampel secara acak. Prosedurnya :&lt;br /&gt;1. Siapkan “sampling frame”&lt;br /&gt;2. Bagi sampling frame tersebut berdasarkan strata yang dikehendaki&lt;br /&gt;3. Tentukan jumlah sampel dalam setiap stratum&lt;br /&gt;4. Pilih sampel dari setiap stratum secara acak.&lt;br /&gt;Pada saat menentukan jumlah sampel dalam setiap stratum, peneliti dapat menentukan secara (a) proposional, (b) tidak proposional. Yang dimaksud dengan proposional adalah jumlah sampel dalam setiap stratum sebanding dengan jumlah unsur populasi dalam stratum tersebut. Misalnya, untuk stratum manajer tingkat atas (I) terdapat 15 manajer, tingkat menengah ada 45 manajer (II), dan manajer tingkat bawah (III) ada 100 manajer. Artinya jumlah seluruh manajer adalah 160. Kalau jumlah sampel yang akan diambil seluruhnya 100 manajer, maka  untuk stratum I diambil (15:160)x100 = 9 manajer, stratum II = 28 manajer, dan stratum 3 = 63 manajer.&lt;br /&gt;Jumlah dalam setiap stratum tidak proposional. Hal ini terjadi jika jumlah unsur atau elemen di salah satu atau beberapa stratum sangat sedikit. Misalnya saja, kalau dalam stratum manajer kelas atas (I) hanya ada 4 manajer, maka peneliti bisa mengambil semua manajer dalam stratum tersebut , dan untuk manajer tingkat menengah (II) ditambah 5, sedangkan manajer tingat bawah (III), tetap 63 orang.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;3. Cluster Sampling atau Sampel Gugus&lt;br /&gt;Teknik ini biasa juga diterjemahkan dengan cara pengambilan sampel berdasarkan gugus. Berbeda dengan teknik pengambilan sampel acak yang distratifikasikan, di mana setiap unsur dalam satu stratum memiliki karakteristik yang homogen (stratum A : laki-laki semua, stratum B : perempuan semua), maka dalam sampel gugus, setiap gugus boleh mengandung unsur yang karakteristiknya berbeda-beda atau heterogen. Misalnya, dalam satu organisasi terdapat 100 departemen. Dalam setiap departemen terdapat banyak pegawai dengan karakteristik berbeda pula. Beda jenis kelaminnya, beda tingkat pendidikannya, beda tingkat pendapatnya, beda tingat manajerialnnya, dan perbedaan-perbedaan lainnya. Jika peneliti bermaksud mengetahui tingkat penerimaan para pegawai terhadap suatu strategi yang segera diterapkan perusahaan, maka peneliti dapat menggunakan cluster sampling untuk mencegah terpilihnya sampel hanya dari satu atau dua departemen saja. Prosedur :&lt;br /&gt;1. Susun sampling frame berdasarkan gugus – Dalam kasus di atas, elemennya ada 100 departemen.&lt;br /&gt;2. Tentukan berapa gugus yang akan diambil sebagai sampel&lt;br /&gt;3. Pilih gugus sebagai sampel dengan cara acak&lt;br /&gt;4. Teliti setiap pegawai yang ada dalam gugus sample&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     4. Systematic Sampling atau Sampel Sistematis&lt;br /&gt;Jika peneliti dihadapkan pada ukuran populasi yang banyak dan tidak memiliki alat pengambil data secara random, cara pengambilan sampel sistematis dapat digunakan. Cara ini menuntut kepada peneliti untuk memilih unsur populasi secara sistematis, yaitu unsur populasi yang bisa dijadikan sampel adalah yang “keberapa”.  Misalnya, setiap unsur populasi yang keenam, yang bisa dijadikan sampel. Soal “keberapa”-nya satu unsur populasi bisa dijadikan sampel tergantung pada  ukuran populasi dan ukuran sampel. Misalnya, dalam satu populasi terdapat 5000 rumah. Sampel yang akan diambil adalah 250 rumah dengan demikian interval di antara sampel kesatu, kedua, dan seterusnya adalah 25. Prosedurnya :&lt;br /&gt;5. Susun sampling frame&lt;br /&gt;6. Tetapkan jumlah sampel yang ingin diambil&lt;br /&gt;7. Tentukan K (kelas interval)&lt;br /&gt;8. Tentukan angka atau nomor awal di antara kelas interval tersebut secara acak atau random – biasanya melalui cara undian saja.&lt;br /&gt;9. Mulailah mengambil sampel dimulai dari angka atau nomor awal yang terpilih.&lt;br /&gt;10. Pilihlah sebagai sampel angka atau nomor interval berikutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Area Sampling atau Sampel Wilayah&lt;br /&gt;Teknik ini dipakai ketika peneliti dihadapkan pada situasi bahwa populasi penelitiannya tersebar di berbagai wilayah. Misalnya, seorang marketing manajer sebuah stasiun TV ingin mengetahui tingkat penerimaan masyarakat Jawa Barat atas sebuah mata tayangan, teknik pengambilan sampel dengan area sampling sangat tepat. Prosedurnya :&lt;br /&gt;1. Susun sampling frame yang menggambarkan peta wilayah (Jawa Barat) – Kabupaten, Kotamadya, Kecamatan, Desa.&lt;br /&gt;2. Tentukan wilayah yang akan dijadikan sampel (Kabupaten ?, Kotamadya?, Kecamatan?, Desa?)&lt;br /&gt;3. Tentukan berapa wilayah yang akan dijadikan sampel penelitiannya.&lt;br /&gt;4. Pilih beberapa wilayah untuk dijadikan sampel dengan cara acak atau random.&lt;br /&gt;5. Kalau ternyata masih terlampau banyak responden yang harus diambil datanya, bagi lagi wilayah yang terpilih ke dalam sub wilayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nonprobability/Nonrandom Sampling atau Sampel Tidak Acak&lt;br /&gt;        Seperti telah diuraikan sebelumnya, jenis sampel ini tidak dipilih secara acak. Tidak semua unsur atau elemen populasi mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel. Unsur populasi yang terpilih menjadi sampel bisa disebabkan karena kebetulan atau karena faktor lain yang sebelumnya sudah direncanakan oleh peneliti. &lt;br /&gt;1. Convenience Sampling atau sampel yang dipilih dengan pertimbangan kemudahan.&lt;br /&gt;Dalam memilih sampel, peneliti tidak mempunyai pertimbangan lain kecuali berdasarkan kemudahan saja. Seseorang diambil sebagai sampel karena kebetulan orang tadi ada di situ atau kebetulan dia mengenal orang tersebut. Oleh karena itu ada beberapa penulis menggunakan istilah accidental sampling – tidak disengaja – atau juga captive sample  (man-on-the-street) Jenis sampel ini sangat baik jika dimanfaatkan untuk penelitian penjajagan, yang kemudian diikuti oleh penelitian lanjutan yang sampelnya diambil secara acak (random). Beberapa kasus penelitian yang menggunakan jenis sampel ini,  hasilnya ternyata kurang obyektif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Purposive Sampling &lt;br /&gt;Sesuai dengan namanya, sampel diambil dengan maksud atau tujuan tertentu. Seseorang atau sesuatu diambil sebagai sampel karena peneliti menganggap bahwa seseorang atau sesuatu tersebut memiliki informasi yang diperlukan bagi penelitiannya. Dua jenis sampel ini dikenal dengan nama judgement dan quota sampling.&lt;br /&gt;Judgment Sampling&lt;br /&gt;Sampel dipilih berdasarkan penilaian peneliti bahwa dia adalah pihak yang paling baik untuk dijadikan sampel penelitiannya.. Misalnya untuk memperoleh data tentang bagaimana satu proses produksi direncanakan oleh suatu perusahaan, maka manajer produksi merupakan orang yang terbaik untuk bisa memberikan informasi. Jadi, judment sampling umumnya memilih sesuatu atau seseorang menjadi sampel karena mereka mempunyai “information rich”.&lt;br /&gt;Dalam program pengembangan produk (product development), biasanya yang dijadikan sampel adalah karyawannya sendiri, dengan pertimbangan bahwa kalau karyawan sendiri tidak puas terhadap produk baru yang akan dipasarkan, maka jangan terlalu berharap pasar akan menerima produk itu dengan baik. (Cooper dan Emory, 1992).&lt;br /&gt;Quota Sampling&lt;br /&gt;Teknik sampel ini adalah bentuk dari sampel distratifikasikan secara proposional, namun tidak dipilih secara acak melainkan secara kebetulan saja.&lt;br /&gt;Misalnya, di sebuah kantor terdapat pegawai laki-laki 60%  dan perempuan 40% . Jika seorang peneliti ingin mewawancari 30 orang pegawai dari kedua jenis kelamin tadi maka dia harus mengambil sampel pegawai laki-laki sebanyak 18 orang sedangkan pegawai perempuan 12 orang. Sekali lagi, teknik pengambilan ketiga puluh sampel tadi tidak dilakukan secara acak, melainkan secara kebetulan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Snowball Sampling – Sampel Bola Salju&lt;br /&gt;Cara ini banyak dipakai ketika peneliti tidak banyak tahu tentang populasi penelitiannya. Dia hanya tahu satu atau dua orang yang berdasarkan penilaiannya bisa dijadikan sampel. Karena peneliti menginginkan lebih banyak lagi, lalu dia minta kepada sampel pertama untuk menunjukan orang lain yang kira-kira bisa dijadikan sampel. Misalnya, seorang peneliti ingin mengetahui pandangan kaum lesbian terhadap lembaga perkawinan. Peneliti cukup mencari satu orang wanita lesbian dan kemudian melakukan wawancara. Setelah selesai, peneliti tadi minta kepada wanita lesbian tersebut untuk bisa mewawancarai teman lesbian lainnya. Setelah jumlah wanita lesbian yang berhasil diwawancarainya dirasa cukup, peneliti bisa mengentikan pencarian wanita lesbian lainnya. . Hal ini bisa juga dilakukan pada pencandu narkotik, para gay, atau kelompok-kelompok sosial lain yang eksklusif (tertutup)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Hasan Mustafa /2000)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-450541853202318795?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/450541853202318795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/teknik-sampling.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/450541853202318795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/450541853202318795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/teknik-sampling.html' title='TEKNIK SAMPLING'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dlcthBIOpeI/R36wyS-mhxI/AAAAAAAAAAc/LtjIjEaEUG4/s72-c/Teknik+Sampling.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-7840421279129670778</id><published>2010-06-13T01:25:00.002+07:00</published><updated>2010-06-13T01:41:20.594+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komputer'/><title type='text'>Jeratan Facebook</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh: Anggun Gunawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/05/25/1008513620X310.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 620px; height: 310px;" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/05/25/1008513620X310.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;CEO Facebook Mark Zuckerberg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketika&lt;/span&gt; saya membuat sebuah essai singkat tentang "Fenomena Facebook di Indonesia" pada bulan Maret 2009 yang lalu, Facebook sedang menapaki pencapaian spektakuler di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Terhitung sampai 22 Februari 2009, 1.333.649 user Indonesia telah terdaftar di Facebook. Menurut situs Nick Burcher, statistik 31 Maret 2009 menunjukkan peningkatkan luar biasa, 2.325.840 user. Data terakhir yang dilansir oleh Nick Burcher menyebutkan, saat ini Indonesia menduduki peringkat ketiga pengguna Facebook di bawah Amerika Serikat dan Inggris, dengan jumlah 20.775.320 user. Artinya, dalam satu tahun saja terjadi peningkatan sekitar 793 persen pengguna Facebook di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat membuat Fenomena Facebook di Indonesia, saya melihat geliat Facebook masih bisa dihentikan lewat kehadiran situs alternatif. Namun, tak ada tanda-tanda kemunculan saingan Facebook. Bagi saya, Twitter bukanlah saingan Facebook, karena para netter biasa mengabungkan kepemilikan pada dua situs yang berbeda ini. Hingga, perkembangan luar biasa Facebook tanpa disadari sudah mewabah di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya MillatFacebook.com sebagai situs reaktif atas regulasi longgar Facebook terhadap munculnya sebuah group "Everybody Draw Mohammed Day" masih sekedar riak-riak kecil di tengah keperkasaan Facebook. Sebuah laporan menyebutkan hingga tanggal 1 Juni 2010, pengguna Millatfacebook baru mencapai 124.149 member. Itupun masih didominasi oleh orang-orang Pakistan yang tak lagi bisa mengakses Facebook karena pelarangan oleh Pemerintah setempat. Di sisi lain, appearance Millatfacebook terkesan copy paste. Tak ada inovasi yang berarti kecuali penambahan fitur-fitur Islami. Jika kita bawa ke wilayah hak kekayaan intelektual, maka Millatfacebook bisa diserang dikarenakan aksi penjiplakkan nama dan bentuk contents yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaca kepada situs jejaring sosial yang dulu pernah booming di Indonesia, Friendster, yang bisa berjaya sekitar 5 tahunan di hati netter Indonesia, agaknya kejumawaan Facebook sangat sulit untuk dibendung. Jika kita menghitung naiknya grade Facebook dari awal tahun 2009, maka masih ada 4 tahun lagi untuk meruntuhkan dominasi Facebook. Itupun dengan syarat, ada pesaing lain yang lebih inovatif dan Facebook bergerak melawan common sense penggunanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sejauh ini, Facebook cukup cepat menanggapi riak-riak yang membuat orang meninggalkannya. Keluhan jaminan privasi yang banyak dikeluhkan oleh "Facebookers cerdas" (Saya menyebut Facebookers cerdas karena merekalah yang kritis terhadap kebijakan privasi Facebook, tidak seperti facebookers awam yang asal isi data dan upload foto) direspon dengan regulasi privasi yang lumayan menyenangkan. Gerakan-gerakan kebencian terhadap satu agama atau ras seperti kasus "Everybody Draw Mohammed Day" akhirnya juga dihapus, meskipun masih menunggu geliat aksi protes di berbagai penjuru dunia. Sehingga aksi angkat kaki besar-besaran dari Facebook, masih terkendali sejauh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis melihat salah satu faktor yang membuat gerakan anti Facebook bisa menjadi bola liar di Indonesia adalah keberadaan sang pemilik Facebook, Mark Zuckerberg, sebagai orang Yahudi. Konflik Palestina-Israel yang tak kunjung reda bisa menjadi migrasinya facebookers muslim di Indonesia. Faktor pemicunya adalah Mark ditenggarai sebagai donatur Israel untuk memperkuat kehadiran negara Yahudi Raya di Midle East. Tapi, dugaan ini sejauh pengetahuan penulis, belum memiliki bukti-bukti yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun ada beberapa orang yang bisa menghindarkan diri dari hiruk-pikuk Facebook, agaknya sangat sulit bagi orang yang sudah memiliki account di Facebook untuk meninggalkan situs jejaring sosial paling populer di dunia ini. Penulis melihat beberapa orang yang mencoba untuk cabut dari Facebook oleh karena motivasi agama, perlindungan privasi ataupun alasan yang lain, hanya bertahan sebentar, kemudian kembali mendaftarkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehilangan account di facebook ibarat kehilangan sim card seluler. Kehilangan banyak contact dengan berbagai relasi, baik teman kampus, teman kantor, teman lama pas SMA-SMP-SD, orang-orang populer yang bisa kita kenali lewat facebook, telah membuat orang yang selama ini "tergantung" dengan Facebook tersisih dari pergaulan luas di era global. Bahkan, beberapa teman yang kita miliki di Facebook belum tentu tersimpan nomor selulernya di handphone kita. Inilah penyebab utama (menurut penulis) yang membuat para member Facebook sulit untuk keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Facebook telah menjadi bagian tak terpisahkan bagi para netter. Gerakan anti Facebook yang saat ini mulai mengeliat karena kasus Palestina, hanya luapan emosi sesaat. Seperti persaingan di rimba belantara, maka Facebook saat ini adalah Raja Rimba Dunia Maya. Jika tak ada kompetitor kuat maka Sang Raja akan tetap berkuasa dan mempertahankan kekuasaan lewat kekuatan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk saat ini, hanya satu yang bisa saya sampaikan. Salam sukses untuk Facebook.&lt;br /&gt;(KOMPASIANA/Anggun Gunawan)&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-7840421279129670778?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/7840421279129670778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/jeratan-facebook.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/7840421279129670778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/7840421279129670778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/06/jeratan-facebook.html' title='Jeratan Facebook'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-6237961858653544784</id><published>2010-02-14T17:30:00.005+07:00</published><updated>2010-02-14T17:40:07.719+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keperawatan'/><title type='text'>Askep Kejang dan Demam Pada Anak</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3fSNOQBBpI/AAAAAAAAALU/fCpE9ODtkYY/s1600-h/kejang.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 256px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3fSNOQBBpI/AAAAAAAAALU/fCpE9ODtkYY/s320/kejang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5438046199678568082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kejang demam merupakan kejang yang terjadi pada saat seorang bayi atau anak mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf pusat. Kejang demam biasanya terjadi pada awal demam. Anak akan terlihat aneh untuk beberapa saat, kemudian kaku, kelojotan dan memutar matanya. Anak tidak responsif untuk beberapa waktu, napas akan terganggu, dan kulit akan tampak lebih gelap dari biasanya. Setelah kejang, anak akan segera normal kembali. Kejang biasanya berakhir kurang dari 1 menit, tetapi walaupun jarang dapat terjadi selama lebih dari 15 menit.&lt;br /&gt;Berdasarkan hal tersebut kelompok tertarik untuk membahas tentang penyakit kejang demam dan dapat mengaplikasikan dalam memberikan asuhan keperawatan khususnya kepada anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Tujuan penulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tujuan umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan anak pada klien dengan gangguan sistem saraf yaitu kejang demam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tujuan khusus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa dapat menjelaskan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. definisi penyakit kejang demam pada anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. etiologi penyakit kejang demam pada anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. manifestasi klinik penyakit kejang demam pada anak .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. patofisiologi penyakit kejang demam pada anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. komplikasi penyakit kejang demam pada anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. pemeriksaan diagnostik penyakit kejang demam pada anak .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. penatalaksanaan penyakit kejang demam pada anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. asuhan keperawatan yang harus diberikan pada klien dengan kejang demam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TINJAUAN TEORI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Konsep dasar Kejang Demam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengertian Kejang Demam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal lebih dari 380 C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. (Arif Mansjoer. 2000)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejang demam (febrile convulsion) ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. (Taslim. 1989)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejang Demam (KD) adalah kejang yang terjadi pada suhu badan yang tinggi. Suhu badan yang tinggi ini disebabkan oleh kelainan ekstrakranial. (Livingston, 1954)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat sementara (Hudak and Gallo,1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejang demam adalah serangan pada anak yang terjadi dari kumpulan gejala dengan demam (Walley and Wong’s edisi III,1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38° c) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam sering juga disebut kejang demam tonik-klonik, sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu awitan hypertermia yang timbul mendadak pada infeksi bakteri atau virus. (Sylvia A. Price, Latraine M. Wikson, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada saat seorang bayi atau anak mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf pusat (1,2). Hal ini dapat terjadi pada 2-5 % populasi anak. Umumnya kejang demam ini terjadi pada usia 6 bulan – 5 tahun dan jarang sekali terjadi untuk pertama kalinya pada usia &lt;&gt; 3 tahun. (Nurul Itqiyah, 2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengertian diatas dapat disimpulkan kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena peningkatan suhu tubuh yang sering di jumpai pada usia anak dibawah lima tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejang demam merupakan kelainan neurologis akut yang paling sering dijumpai pada anak. Bangkitan kejang ini terjadi karena adanya kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38oC) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium. Penyebab demam terbanyak adalah infeksi saluran pernapasan bagian atas disusul infeksi saluran pencernaan. (Ngastiyah, 1997; 229).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Etiologi Kejang Demam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab kejang demam menurut Buku Kapita Selekta Kedokteran belum diketahui dengan pasti, namun disebutkan penyebab utama kejang demam ialah demam yag tinggi. Demam yang terjadi sering disebabkan oleh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Gangguan metabolik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penyakit infeksi diluar susunan saraf misalnya tonsilitis, otitis media, bronchitis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Keracunan obat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Faktor herediter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Idiopatik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Arif Mansjoer. 2000)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Patofisiologi Kejang Demam&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3fRN7ZdHsI/AAAAAAAAALM/UxHO6HDcdXc/s1600-h/patofiskejang.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 306px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3fRN7ZdHsI/AAAAAAAAALM/UxHO6HDcdXc/s320/patofiskejang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5438045112286125762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Klasifikasi Kejang Demam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Livingston ( 1954) Kejang demam di bagi atas dua :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejang demam sederhana : Kejang demam yang berlangsung singkat. Yang digolongkan kejang demma sederhana adalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. kejang umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. waktunya singkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. umur serangan kurang dari 6 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. frekuensi serangan 1-4 kali per tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. EEG normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan menurut subbagian saraf anak FKUI, memodifikasi criteria livingston untuk membuat diagnosis kejang demam sederhana yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan sampai 4 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kejang berlangsung sebentar, tidak melebihi 15 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Kejang bersifat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Kejang timbul dalam 16 jam pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Pemeriksaan neurologist sebelum dan sesudah kejang normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu setelah suhu normal tidak menunjukkan kelainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Frekuensi bangkitan kejang dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Taslim. 1989)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Manifestasi klinis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala berupa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Suhu anak tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Anak pucat / diam saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mata terbelalak ke atas disertai kekakuan dan kelemahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Umumnya kejang demam berlangsung singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekauan atau hanya sentakan atau kekakuan fokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Serangan tonik klonik ( dapat berhenti sendiri )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Kejang dapat diikuti sementara berlangsung beberapa menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Seringkali kejang berhenti sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Arif Mansjoer. 2000)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Komplikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Taslim S. Soetomenggolo dapat mengakibatkan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kerusakan sel otak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Penurunan IQ pada kejang demam yang berlangsung lama lebih dari 15 menit dan bersifat unilateral&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kelumpuhan (Lumbatobing,1989)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Pemeriksaan laboratorium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. EEG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuktikan jenis kejang fokal / gangguan difusi otak akibat lesi organik, melalui pengukuran EEG ini dilakukan 1 minggu atau kurang setelah kejang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. CT SCAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengidentifikasi lesi serebral, mis: infark, hematoma, edema serebral, dan Abses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pungsi Lumbal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pungsi lumbal adalah pemeriksaan cairan serebrospinal (cairan yang ada di otak dan kanal tulang belakang) untuk meneliti kecurigaan meningitis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Laboratorium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darah tepi, lengkap ( Hb, Ht, Leukosit, Trombosit ) mengetahui sejak dini apabila ada komplikasi dan penyakit kejang demam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Suryati, 2008), ( Arif Mansyoer,2000), (Lumbatobing,1989)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. Penatalaksanaan Medis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada penatalaksanaan kejang demam ada 3 hal yang perlu dikerjakan yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengobatan Fase Akut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali kejang berhenti sendiri. Pada waktu kejang pasien dimiringkan untuk mencegah aspirasi ludah atau muntahan. Jalan napas harus bebas agar oksigennisasi terjami. Perhatikan keadaan vital seperti kesadaran, tekanan darah, suhu, pernapasan dan fungsi jantung. Suhu tubuh tinggi diturunkan dengan kompres air dan pemberian antipiretik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obat yang paling cepat menghentikan kejangadalah diazepam yang diberikan intravena atau intrarektal. Dosis diazepam intravena 0,3-0,5 mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1-2 mg/menit dengan dosis maksimal 20 mg. bila kejang berhenti sebelum diazepam habis, hentikan penyuntikan, tunggu sebentar, dan bila tidak timbul kejang lagi jarum dicabut. Bila diazepam intravena tidak tersedia atau pemberiannya sulit gunakan diazepam intrarektal 5 mg (BB&lt;10&gt;10kg). bila kejang tidak berhenti dapat diulang selang 5 menit kemudian. Bila tidak berhenti juga, berikan fenitoin dengan dosis awal 10-20 mg/kgBB secara intravena perlahan-lahan 1 mg/kgBb/menit. Setelah pemberian fenitoin, harus dilakukan pembilasan dengan Nacl fisiologis karena fenitoin bersifat basa dan menyebabkan iritasi vena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kejang berhenti dengan diazepam, lanjutkan dengan fenobarbital diberikan langsung setelah kejang berhenti. Dosis awal untuk bayi 1 bulan -1 tahun 50 mg dan umur 1 tahun ke atas 75 mg secara intramuscular. Empat jama kemudian diberikan fenobarbital dosis rumat. Untuk 2 hari pertama dengan dosis 8-10 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis, untuk hari-hari berikutnya dengan dosis 4-5 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis. Selama keadaan belum membaik, obat diberikan secara suntikan dan setelah membaik per oral. Perhatikan bahwa dosis total tidak melebihi 200mg/hari. Efek sampingnya adalah hipotensi,penurunan kesadaran dan depresi pernapasan. Bila kejang berhenti dengan fenitoin,lanjutkna fenitoin dengan dosis 4-8mg/KgBB/hari, 12-24 jam setelah dosis awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mencari dan mengobati penyebab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan cairan serebrospinalis dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang pertama. Walaupun demikian kebanyakan dokter melakukan pungsi lumbal hanya pada kasus yang dicurigai sebagai meningitiss, misalnya bila ada gejala meningitis atau kejang demam berlangsung lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pengobatan profilaksis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 2 cara profilaksis, yaitu (1) profilaksis intermiten saat demam atau (2) profilaksis terus menerus dengan antikonvulsan setiap hari. Untuk profilaksis intermiten diberian diazepam secara oral dengan dosis 0,3-0,5 mg/kgBB/hari dibagi menjadi 3 dosis saat pasien demam. Diazepam dapat diberikan pula secara intrarektal tiap 8 jam sebanyak 5mg (BB&lt;10kg)&gt;10kg) setiap pasien menunjukkan suhu lebih dari 38,5 0 C. efek samping diazepam adalah ataksia, mengantuk dan hipotonia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profilaksis terus menerus berguna untuk mencegah berulangnya kejang demam berat yang dapat menyebabkan kerusakan otak tapi tidak dapat mencegah terjadinya epilepsy dikemudian hari. Profilaksis terus menerus setiap hari dengan fenobarbital 4-5mg.kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis. Obat lain yang dapat digunakan adalah asam valproat dengan dosis 15-40 mg/kgBB/hari. Antikonvulsan profilaksis selama 1-2 tahun setelah kejang terakhir dan dihentikan bertahap selama 1-2 bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profilaksis terus menerus dapat dipertimbangkan bila ada 2 kriteria (termasuk poin 1 atau 2) yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan neurologist atau perkembangan (misalnya serebral palsi atau mikrosefal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kejang demam lebih dari 15 menit, fokal, atau diikuti kelainan neurologist sementara dan menetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ada riwayat kejang tanpa demma pada orang tua atau saudara kandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. bila kejang demam terjadi pada bayi berumur kurang dari 12 bulan atau terjadi kejang multiple dalam satu episode demam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila hanya mmenuhi satu criteria saja dan ingin memberikan obat jangka panjang maka berikan profilaksis intermiten yaitu pada waktu anak demam dengan diazepam oral atau rectal tuap 8 jam disamping antipiretik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( Arif Mansyoer,2000)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Konsep asuhan keperawatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengkajian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Doenges (1993 ) dasar data pengkajian pasien adalah :&lt;br /&gt;a. Aktifitas / Istirahat&lt;br /&gt;Gejala : Keletihan, kelemahan umum&lt;br /&gt;Keterbatasan dalam beraktifitas / bekerja yang ditimbulkan oleh diri sendiri / orang terdekat / pemberi asuhan kesehatan atau orang lain.&lt;br /&gt;Tanda : Perubahan tonus / kekuatan otot&lt;br /&gt;Gerakan involunter / kontraksi otot ataupun sekelompok otot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Sirkulasi&lt;br /&gt;Gejala : Iktal : Hipertensi, peningkatan nadi sianosis&lt;br /&gt;Posiktal : Tanda vital normal atau depresi dengan penurunan nadi dan pernafasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Eliminasi&lt;br /&gt;Gejala : Inkontinensia episodik.&lt;br /&gt;Tanda : Iktal : Peningkatan tekanan kandung kemih dan&lt;br /&gt;tonus sfingter.&lt;br /&gt;Posiktal : Otot relaksasi yang menyebabkan inkontenensia ( baik urine / fekal ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Makanan dan cairan&lt;br /&gt;Gejala : Sensitivitas terhadap makanan, mual / muntah yang&lt;br /&gt;berhubungan dengan aktifitas kejang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Neurosensori&lt;br /&gt;Gejala : Riwayat sakit kepala, aktifitas kejang berulang, pingsan, pusing. Riwayat trauma kepala, anoksia dan infeksi cerebral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Nyeri / kenyaman&lt;br /&gt;Gejala : Sakit kepala, nyeri otot / punggung pada periode posiktal.&lt;br /&gt;Tanda : Sikap / tingkah laku yang berhati –hati.&lt;br /&gt;Perubahan pada tonus otot.&lt;br /&gt;Tingkah laku distraksi / gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Pernafasan&lt;br /&gt;Gejala : Fase iktal : gigi mengatup, sianosis, pernafasan menurun / cepat, peningkatan sekresi mukus.&lt;br /&gt;Fase posiktal : apnea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pemeriksaan diagnostik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Periksa darah / lab : Hb. Ht, Leukosit, Trombosit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. EEG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Lumbal punksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. CT-SCAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Diagnosa keperawatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tidak Efektinya Bersihan Jalan Nafas b.d Peningkatan Sekresi Mukus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Gangguan volume cairan kurang dari kebutuhann tubuh b.d peningkatan suhu tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Resiko tinggi kejang berulang b.d riwayat kejang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Perubahan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Intervensi keperawatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dx 1 Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan kebutuhan cairan klien terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- TTV stabil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Menunjukkan adanya keseimbangan cairan seperti output urin adekuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Turgor kulit baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- membrane mukosa mulut lembab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ukur dan catat jumlah muntah yang dikleuarkan, warna, konsistensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R/ : menentukan kehilangan dan kebutuhan cairan tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berikan makanan dan cairan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R/ : memnuhi kebutuhan makan dan minum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berikan support verbal dalam pemberian cairan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R/ : meningkatkan konsumsi cairan klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kolaborasi berikan pengobatan seperti obat antimual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R/ : menurunkan dan menghentikan muntah klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pantau Hasil Pemeriksaan Laboratorium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R/ Untuk mengetahui status cairan klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dx 2 Tidak Efektinya Bersihan Jalan Nafas b.d Peningkatan Sekresi Mukus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan bersihan jalan nafas efektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-sekresi mukus berkurang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- tak kejang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- gigi tak menggigit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ukur Tanda-tanda vital klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R/ : untuk mengetahui status keadaan klien secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Lakukan penghisapan lendir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R/ : menurunkan resiko aspirasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Letakan klien pada posisi miring dan permukaan datar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R/ : mencegah lidah jatuh kebelakang dan menyumbat jalan nafas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tanggalkan pakaian pada daerah leher atau dada dan abdomen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R/ : untuk memfasilitasi usaha bernafas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dx. 3 Gangguan volume cairan kurang dari kebutuhann tubuh b.d peningkatan suhu tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan : Keseimbangan cairan terpenuhi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Observasi TTV (suhu tubuh) tiap 4 jam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R/ peningkatan suhu tubuh dari yang normal membutuhkan penambahan cairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hitung Intak &amp; Output setiap pergantian shift.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R/ Untuk mengetahui keseibangan cairan klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Anjurkan pemasukan/minum sesuai program.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R/ membantu mencagah kekurangan cairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kolaborasi pemeriksaan lab : Ht, Na, K.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R/ mencerminkan tingkat / derajat dehidrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dx. 4 Resiko tinggi kejang berulang b.d riwayat kejang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan : Agar tidak terjadi kejang berulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Observasi TTV (suhu tubuh) tiap 4 jam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R/ peningkatan suhu tubuh dapat mengakibatkan kejang berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Observasi tanda-tanda kejang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R/ untuk dapat menentukan intervensi dengan segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kolaborasi pemberian obat anti kejang /konvulsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R/ menanggulangi kejang berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Dx. 5 Perubahan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan : Peningkatan status nutrisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tingkatkan intake makanan dengan menjaga privasi klien, mengurangi gangguan seperti bising/berisik, menjaga kebersihan ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R/ cara khusus meningkatkan napsu makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bantu klien makan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R/ membantu klien makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. selingi makan dengan minum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R/ memudahkan makanan untuk masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Monitor hasil lab seperti HB, Ht&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R/ : Monitor status nutrisi klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Atur posisi semifowler saat memberikan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R/ : Mengurangi regurtasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Evaluasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kekurangan volume cairan tidak terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bersihan Jalan Nafas kembali efektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Keseimbangan kebutuhan cairan klien tercukupi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Resiko tinggi kejang berulang tidak terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. kebutuhan Nutrisi klien dapat terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CONTOH GAMBARAN KASUS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Gambaran kasus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien An. D umur 3 tahun 6 bulan dirawat di RSF dari tanggal 10 Juni 2008 dengan keluhan kejang demam selama dirumah 3 kali selama 24 jam, kejang pertama ± 15 menit, kejang kedua ±10 menit, kejang ketiga ± 5 menit, tangan dan kaki mengepal pada saat kejang, suhu klien 39,5O C. Keadaan umum klien lemah,nadi 120x/menit, RR 26 kali/menit, Suhu 39,5O C, klien terlihat gelisah, ubun-ubun besar cekung, mukosa mulut kering, BB saat masuk RS IGD 9,5 kg,Berat badan saat ini 8,1 kg, Lingkar lengan atas 14 cm (ideal 16 cm) ,Tb 75 cm, muntah sebanyak ½ aqua geas (120cc) berisi cairan kuning kecoklatan, sebelum &amp; saat dirawat klien tidak mau makan. Intake klen minum sebanyak 300 cc &amp; infuse 400 cc, total 700 cc, Output BAK&amp;BAB :340 cc, Iwl 110 cc, Total :450 cc, Balance : 250 cc Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 10 Juni 2008 Hb: 11,6 g/dl (N:13,2-17,3 g/dl), Ht: 38% (N:31-59%), Leukosit : 13.500/ul, Trombosit: 81 ribu/ul, Eritrosit: 3.51 juta/ul. Leukosit: 13.500/µL(N= 6.000 – 17.500/µL), Trombosit : 400.000 /µL (N= 150.000 – 440.000/µL), Eritrosit : 5juta/µL(N= 3,60 – 5,20 juta/µL), Natrium : 131 mmol/L (N= 135 – 145 mmol/L), Kalium: 2,4 mmol/L (N= 3,5 – 5,5 mmol/L), Clorida : 100 mmol/L (N= 98 – 105 mmol/L)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Diagnosa, Intervensi, Implementasi dan Evaluasi Keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari data diatas penulis mengangkat tiga diagnosa keperawatan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 1 : Kekurangan Volume cairan b.d mual dan muntah. Ditandai dengan : DS : -. DO : keadaan umum lemah, mucosa mulut kering,konjungtiva anemis, capilarry refill 3 detik, muntah ± ½ aqua gelas (120cc) berisi cairan kuning kecoklatan, Nadi :120x/menit, RR 26x/menit, Suhu : 39,5º C, Hasil Lab 10 Juni 2008 Natrium: 131 mmol/L (N= 135 – 145 mmol/L), Kalium: 2,4 mmol/L (N= 3,5 – 5,5 mmol/L), Clorida : 100 mmol/L (N= 98 – 105 mmol/L).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencanaan keperawatan : Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam kebutuhan cairan klien terpenuhi. Kriteria hasil : Tanda – tanda vital dalam batas normal :N : 60 – 80 x / mnt, S : 36º - 37ºC, RR : 16 – 20 x / mnt, mukosa mulut lembab, muntah teratasi,konjungtiva tidak anemis, capilarry refill &lt; style=""&gt; hasil laboratorium normal Natrium: 135 – 145 mmol/L, Kalium: 3,5 – 5,5 mmol/L, Clorida : N= 98 – 105 mmol/L.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi : Ukur dan catat jumlah muntah yang dikleuarkan, warna, konsistensi. Berikan makanan dan cairan, Berikan support verbal dalam pemberian cairan, Kolaborasi berikan pengobatan seperti obat antimual, Pantau Hasil Pemeriksaan Laboratorium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implementasi : Ukur dan catat jumlah muntah yang dikleuarkan, warna, konsistensi. Berikan makanan dan cairan, Berikan support verbal dalam pemberian cairan, Kolaborasi berikan pengobatan seperti obat antimual, Pantau Hasil Pemeriksaan Laboratorium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi akhir : S : Klien mengatakan sudah dapat minum. O : Tanda – tanda vital dalam batas normal :N : 60 – 80 x / mnt, S : 36º - 37ºC, RR : 16 – 20 x / mnt, mukosa mulut lembab, muntah teratasi, Lingkar lengan atas ideal 16 cm, hasil laboratorium normal Natrium: 135 – 145 mmol/L, Kalium: 3,5 – 5,5 mmol/L, Clorida : N= 98 – 105 mmol/L.. A: Masalah kekurangan cairan dapat teratasi. P : hentikan intervenís&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat Ditandai dengan data – data sebagai berikut : DS: Ibu klien mengatakan sebelum dan saat dirawat tidak napsu makan. DO: K.U: lemah, BB awal mei 2008 9,5 kg saat masuk RS IGD 8,1 kg, muntah ½ gelas Aqua(120cc), Lingkar lengan atas 14 cm ( ideal 16 cm), Hasil Laboratorium tanggal 10 Juni 2008 Hb: 11,6 g/dl (N:13,2-17,3 g/dl), Ht: 38% (N:31-59%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencanaan keperawatan, Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperwatan 3 x 24 jam nutrisi terpenuhi dan berat badan meningkat. Kriteria hasil : BB naik 0.25kg(ideal 12kg), mual dan muntah klien dapat teratasi, napsu makan bertambah, Hb&amp;Ht dalam batas normal (Hb:10.8-15.6 g/dl &amp; Ht: 35-43%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi : Tingkatkan intake makanan dengan menjaga privasi klien, mengurangi gangguan seperti bising/berisik, menjaga kebersihan ruangan. Bantu klien makan, selingi makan dengan minum, Monitor hasil lab seperti HB &amp; Ht, Atur posisi semifowler saat memberikan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implementasi : Tingkatkan intake makanan dengan menjaga privasi klien, mengurangi gangguan seperti bising/berisik, menjaga kebersihan ruangan. Bantu klien makan, selingi makan dengan minum, Monitor hasil lab seperti HB &amp; Ht, Atur posisi semifowler saat memberikan makanan. Evaluasi akhir : S: ibu mengatakan susu diberikan sesuai jadwal. O : BB naik 0.3 Kg jadi 9.5kg Hb: 9.2g/dl, Ht: 30%, A : masalah kekurangan nutrisi belum teratasi. P : lanjutkan intervensi Dx.2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 3 : Resiko injuri berhubungan dengan kejang berulang. Ditandai dengan data – data sebagai berikut : DS : ibu klien bertanya penanganan kejang. DO : penghalang tempat tidur tidak terpasang, S : 38.3ºC, N: 124x/menit, RR:42X/menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencanaan keperawatan : Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam injuri tidak terjadi. Kriteria hasil : orang tua dapat mengidentifikasi faktor yang dapat menimbulkan cidera, mampu melakukan penanganan kejang, menunjukan koping positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi : berikan posisi yang aman, memasang pengaman tempat tidur, memberikan penjelasan kepada orang tua tentang penanganan kejang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implementasi : observasi suhu(penyebab kejang), memberikan posisi yang aman, memberikan penjelaan kepada orang tua tentang penanganan kejang..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi akhir : S : ibu klien mengatakan sudah tidak terjadi kejang, sudah memasang penghalang. O : S : 37,2ºC, N: 124x/menit, RR: 42X/menit. Klien tidak kejang, pengaman tempat tidur sudah terpasang dengan baik A : masalah resiko injuri tidak terjadi. P: Lanjutkan intervensi Dx.2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab ini penulis akan membahas contoh asuhan keperawatan pada An.D yang mengalami kejang demam yang telah divas pada bab III serta memberikan saran untuk masalah keperawatan yang harus diintervensi serta berkesinambungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dari hasil pengkajian pada An. D menurut contoh gambaran kasus diatas mendapatkan hasil data yang sesuai dengan teori yaitu seperti adanya kejang demam yang disebabkan demam yang tinggi yaitu dengan suhu 39,5º , tidak ada respon verbal, frekuensi pernapasan meningkat 26 x/menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Diagnosa keparawatan yang ditemukan pada klien sesuai gambaran kasus diatas yaitu : Kekurangan Volume cairan b.d mual dan muntah, Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat, Resiko injuri berhubungan dengan kejang berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Intervensi keperawatan pada An. D telah disusun sesuai dengan teori atau konsep dasar asuhan keperawatan. Intervensi meliputi juga tindakan yang dilakukan secara mandiri dan kolaborasi dengan tim kesehatan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Implementsi keperawatan yang dilakukan sesuai dengan intervensi yang dibuat dan disesuaikan dengan keadaan klien yang terjadi di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Adapun evaluasi akhir dari keseluruhan asuhan keperawatan yang telah diberikan. Evaluasi dilaksanakan secara sumatif yaitu dengan memberikan kesimpulan dari hasil pelaksanaan asuhan keperawatan secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Saran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan ini penulis akan mengemukakan beberapa saran sebagai bahan masukan yang bermanfaat bagi usaha peningkatan mutu pelayanan asuhan keperawatan yang akan datang, diantaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dalam melakukan asuhan keperawatan, perawat mengetahui atau mengerti tentang rencana keperawatan pada pasien dengan kejang demam, pendokumentasian harus jelas dan dapat menjalin hubungan yang baik dengan klien dan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dalam rangka mengatasi masalah resiko injuri pada klien dengan kejang demam maka tugas perawat yang utama hádala sering memantau frekuensi pernapsan anak, memperhatikan posisi anak, pengaman pada tempat tidur anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Untuk keluarga diharapkan selalu membantu dan memotivasi klien dalam proses penyembuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lumbantobing. 1989. Penatalaksanaan Mutakhir Kejang Pada Anak.Jakarta : FKUI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mansjoer, arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi III vol. 1. Jakarta : Media Aesculapius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngastiyah, 1997, Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Kesehatan Anak, Jilid 2, hal 847. Cetakan ke 9. 2000 bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doenges, E, Marilyn. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;khaidirmuhaj (http://khaidirmuhaj.blogspot.com/2009/02/askep-anak-kejang-demam.html)&lt;br /&gt;http://www.kuliah-keperawatan.co.cc/2009/04/kejang-demam.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-6237961858653544784?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/6237961858653544784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/askep-kejang-dan-demam-pada-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/6237961858653544784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/6237961858653544784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/askep-kejang-dan-demam-pada-anak.html' title='Askep Kejang dan Demam Pada Anak'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3fSNOQBBpI/AAAAAAAAALU/fCpE9ODtkYY/s72-c/kejang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-8612402881791565062</id><published>2010-02-12T22:56:00.002+07:00</published><updated>2010-02-12T23:52:46.454+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>SEJARAH VALENTINE</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3V7EHk_YsI/AAAAAAAAAK0/TnEeOGNL2ZI/s1600-h/anti-valentine.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 185px; height: 180px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3V7EHk_YsI/AAAAAAAAAK0/TnEeOGNL2ZI/s320/anti-valentine.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437387435803632322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah sejarah valentine yang saya dapatkan dari sebuah milis. Selamat membaca tulisan berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, belum ada kesepakatan final di antara para sejarawan tentang apa yang sebenarnya terjadi yang kemudian diperingati sebagai hari Valentine. Dalam buku ‘Valentine Day, Natal, Happy New Year, April Mop, Hallowen: So What?” (Rizki Ridyasmara, Pusaka Alkautsar, 2005), sejarah Valentine Day dikupas secara detil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah salinannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak versi tentang asal dari perayaan Hari Valentine ini. Yang paling populer memang kisah dari Santo Valentinus yang diyakini hidup pada masa Kaisar Claudius II yang kemudian menemui ajal pada tanggal 14 Februari 269 M. Namun ini pun ada beberapa versi. Yang jelas dan tidak memiliki silang pendapat adalah kalau kita menelisik lebih jauh lagi ke dalam tradisi paganisme (dewa-dewi) Romawi Kuno, sesuatu yang dipenuhi dengan legenda, mitos, dan penyembahan berhala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pandangan tradisi Roma Kuno, pertengahan bulan Februari memang sudah dikenal sebagai periode cinta dan kesuburan. Dalam tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari disebut sebagai bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Roma kuno, 15 Februari dikenal sebagai hari raya Lupercalia, yang merujuk kepada nama salah satu dewa bernama Lupercus, sang dewa kesuburan. Dewa ini digambarkan sebagai laki-laki yang setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman Roma Kuno, para pendeta tiap tanggal 15 Februari akan melakukan ritual penyembahan kepada Dewa Lupercus dengan mempersembahkan korban berupa kambing kepada sang dewa. Setelah itu mereka minum anggur dan akan lari-lari di jalan-jalan dalam kota Roma sambil membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Para perempuan muda akan berebut untuk disentuh kulit kambing itu karena mereka percaya bahwa sentuhan kulit kambing tersebut akan bisa mendatangkan kesuburan bagi mereka. Sesuatu yang sangat dibanggakan di Roma kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno yang berlangsung antara tanggal 13-18 Februari, di mana pada tanggal 15 Februari mencapai puncaknya. Dua hari pertama (13-14 Februari), dipersembahkan untuk dewi cinta (Queen of Feverish Love) bernama Juno Februata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ini, para pemuda berkumpul dan mengundi nama-nama gadis di dalam sebuah kotak. Lalu setiap pemuda dipersilakan mengambil nama secara acak. Gadis yang namanya ke luar harus menjadi kekasihnya selama setahun penuh untuk bersenang-senang dan menjadi obyek hiburan sang pemuda yang memilihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, 15 Februari, mereka ke kuil untuk meminta perlindungan Dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara ini, para lelaki muda melecut gadis-gadis dengan kulit binatang. Para perempuann itu berebutan untuk bisa mendapat lecutan karena menganggap bahwa kian banyak mendapat lecutan maka mereka akan bertambah cantik dan subur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara paganisme (berhala) ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani. Antara lain mereka mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati Santo Valentine yang kebetulan meninggal pada tanggal 14 Februari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang siapa sesungguhnya Santo Valentinus sendiri, seperti telah&lt;br /&gt;disinggung di muka, para sejarawan masih berbeda pendapat. Saat ini&lt;br /&gt;sekurangnya ada tiga nama Valentine yang meninggal pada 14 Februari. Seorang di antaranya dilukiskan sebagai orang yang mati pada masa Romawi. Namun, ini pun tidak pernah ada penjelasan yang detil siapa sesungguhnya “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II yang memerintahkan Kerajaan Roma berang dan memerintahkan agar menangkap dan memenjarakan Santo Valentine karena ia dengan berani menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih, sembari menolak menyembah tuhan-tuhannya orang Romawi. Orang-orang yang bersimpati pada Santo Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi kedua menceritakan, Kaisar Claudius II menganggap tentara muda&lt;br /&gt;bujangan lebih tabah dan kuat di dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Sebab itu kaisar lalu melarang para pemuda yang menjadi tentara untuk menikah. Tindakan kaisar ini diam-diam mendapat tentangan dari Santo Valentine dan ia secara diam-diam pula menikahkan banyak pemuda hingga ia ketahuan dan ditangkap. Kaisar Cladius memutuskan hukuman gantung bagi Santo Valentine. Eksekusi dilakukan pada tanggal 14 Februari 269 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi Kirim Kartu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, tradisi mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan&lt;br /&gt;langsung dengan Santo Valentine. Pada tahun 1415 M, ketika Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St. Valentine tanggal 14 Februari, ia mengirim puisi kepada isterinya di Perancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Geoffrey Chaucer, penyair Inggris, peristiwa itu dikaitkannya dengan&lt;br /&gt;musim kawin burung-burung dalam puisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” yang sampai sekarang masih saja terdapat di banyak kartu ucapan atau dinyatakan langsung oleh pasangannya masing-masing? Ken Sweiger mengatakan kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang mempunyai persamaan dengan arti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat, dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini sebenarnya pada zaman Romawi Kuno ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disadari atau tidak, demikian Sweiger, jika seseorang meminta orang lain atau pasangannya menjadi “To be my Valentine?”, maka dengan hal itu sesungguhnya kita telah terang-terangan melakukan suatu perbuatan yang dimurkai Tuhan, istilah Sweiger, karena meminta seseorang menjadi “Sang Maha Kuasa” dan hal itu sama saja dengan upaya menghidupkan kembali budaya pemujaan kepada berhala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi atau lelaki rupawan setengah telanjang yang bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia begitu rupawan sehingga diburu banyak perempuan bahkan dikisahkan bahwa ibu kandungnya sendiri pun tertarik sehingga melakukan incest dengan anak kandungnya itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silang sengketa siapa sesungguhnya Santo Valentine sendiri juga terjadi di&lt;br /&gt;dalam Gereja Katolik sendiri. Menurut gereja Katolik seperti yang ditulis&lt;br /&gt;dalam The Catholic Encyclopedia (1908), nama Santo Valentinus paling tidak merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda, yakni:&lt;br /&gt;seorang pastur di Roma, seorang uskup Interamna (modern Terni), dan seorang martir di provinsi Romawi Afrika. Koneksi antara ketiga martir ini dengan Hari Valentine juga tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Paus Gelasius II, pada tahun 496 menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui secara pasti mengenai martir-martir ini, walau demikian Gelasius II tetap menyatakan tanggal 14 Februari tiap tahun sebagai hari raya peringatan Santo Valentinus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mengatakan, Paus Gelasius II sengaja menetapkan hal ini untuk&lt;br /&gt;menandingi hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus di Via Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Jenazah itu kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke Gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak dalam sebuah prosesi khusyuk dan dibawa ke sebuah altar tinggi di dalam gereja. Pada hari itu, sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta. Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 dengan alasan sebagai bagian dari sebuah usaha gereja yang lebih luas untuk menghapus santo dan santa yang asal-muasalnya tidak bisa dipertanggungjawabkan karena hanya berdasarkan mitos atau legenda. Namun walau demikian, misa ini sampai sekarang masih dirayakan oleh kelompok-kelompok gereja tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas sudah, Hari Valentine sesungguhnya berasal dari mitos dan legenda&lt;br /&gt;zaman Romawi Kuno di mana masih berlaku kepercayaan paganisme (penyembahan berhala). Gereja Katolik sendiri tidak bisa menyepakati siapa sesungguhnya Santo Valentine yang dianggap menjadi martir pada tanggal 14 Februari. Walau demikian, perayaan ini pernah diperingati secara resmi Gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia dan dilarang secara resmi pada tahun 1969. Beberapa kelompok gereja Katolik masih menyelenggarakan peringatan ini tiap tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepentingan Bisnis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pun Hari Valentine masih dihidup-hidupkan hingga sekarang, bahkan ada kesan kian meriah, itu tidak lain dari upaya para pengusaha yang bergerak di bidang pencetakan kartu ucapan, pengusaha hotel, pengusaha bunga, pengusaha penyelenggara acara, dan sejumlah pengusaha lain yang telah meraup keuntungan sangat besar dari event itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sengaja, lewat kekuatan promosi dan marketingnya, meniup-niupkan Hari Valentine Day sebagai hari khusus yang sangat spesial bagi orang yang dikasihi, agar dagangan mereka laku dan mereka mendapat laba yang amat sangat besar. Inilah apa yang sering disebut oleh para sosiolog sebagai industrialisasi agama, di mana perayaan agama oleh kapitalis dibelokkan menjadi perayaan bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta Kemaksiatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Christendom adalah sebutan lain untuk tanah-tanah atau negeri-negeri Kristen di Barat. Awalnya hanya merujuk pada daratan Kristen Eropa seperti Inggris, Perancis, Belanda, Jerman, dan sebagainya, namun dewasa ini juga merambah ke daratan Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang biasanya mengira perayaan Hari Valentine berasal dari Amerika. Namun sejarah menyatakan bahwa perayaan Hari Valentine sesungguhnya berasal dari Inggris. Di abad ke-19, Kerajaan Inggris masih menjajah wilayah Amerika Utara. Kebudayaan Kerajaan inggris ini kemudian diimpor oleh daerah koloninya di Amerika Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika, kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 – 1904) dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar. Mr. Howland mendapat ilham untuk memproduksi kartu di Amerika dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. Upayanya ini kemudian diikuti oleh pengusaha-pengusaha lainnya hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 2001, The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) tiap tahun mengeluarkan penghargaan “Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary” kepada perusahaan pencetak kartu terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Howland memproduksi kartu ucapan Happy Valentine di Amerika, produksi kartu dibuat secara massal di selutuh dunia. The Greeting Card Association memperkirakan bahwa di seluruh dunia, sekitar satu milyar kartu Valentine dikirimkan per tahun. Ini adalah hari raya terbesar kedua setelah Natal dan Tahun Baru (Merry Christmast and The Happy New Year), di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama juga memperkirakan bahwa para perempuanlah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu di Amerika&lt;br /&gt;mengalami diversifikasi. Kartu ucapan yang tadinya memegang titik sentral, sekarang hanya sebagai pengiring dari hadiah yang lebih besar. Hal ini sering dilakukan pria kepada perempuan. Hadiah-hadiahnya bisa berupa bunga mawar dan coklat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan kepada perempuan pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika Serikat dan beberapa negara Barat, sebuah kencan pada hari Valentine sering ditafsirkan sebagai permulaan dari suatu hubungan yang serius. Ini membuat perayaan Valentine di sana lebih bersifat ‘dating’ yang&lt;br /&gt;sering di akhiri dengan tidur bareng (perzinaan) ketimbang pengungkapan rasa kasih sayang dari anak ke orangtua, ke guru, dan sebagainya yang tulus dan tidak disertai kontak fisik. Inilah sesungguhnya esensi dari Valentine Day.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan Valentine Day di negara-negara Barat umumnya dipersepsikan sebagai hari di mana pasangan-pasangan kencan boleh melakukan apa saja, sesuatu yang lumrah di negara-negara Barat, sepanjang malam itu. Malah di berbagai hotel diselenggarakan aneka lomba dan acara yang berakhir di masing-masing kamar yang diisi sepasang manusia berlainan jenis. Ini yang dianggap wajar, belum lagi party-party yang lebih bersifat tertutup dan menjijikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikut Mengakui Yesus sebagai Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap tahun menjelang bulan Februari, banyak remaja Indonesia yang notabene mengaku beragama Islam ikut-ikutan sibuk mempersiapkan perayaan Valentine. Walau sudah banyak di antaranya yang mendengar bahwa Valentine Day adalah salah satu hari raya umat Kristiani yang mengandung nilai-nilai akidah Kristen, namun hal ini tidak terlalu dipusingkan mereka. “Ah, aku kan ngerayaain Valentine buat fun-fun aja…, ” demikian banyak remaja Islam bersikap. Bisakah dibenarkan sikap dan pandangan seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan Hari Valentine memuat sejumlah pengakuan atas klaim dogma dan ideologi Kristiani seperti mengakui “Yesus sebagai Anak Tuhan” dan lain sebagainya. Merayakan Valentine Day berarti pula secara langsung atau tidak, ikut mengakui kebenaran atas dogma dan ideologi Kristiani tersebut, apa pun alasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jika ada seorang Muslim yang ikut-ikutan merayakan Hari Valentine, maka diakuinya atau tidak, ia juga ikut-ikutan menerima pandangan yang mengatakan bahwa “Yesus sebagai Anak Tuhan” dan sebagainya yang di dalam Islam sesungguhnya sudah termasuk dalam perbuatan musyrik, menyekutukan Allah SWT, suatu perbuatan yang tidak akan mendapat ampunan dari Allah SWT. Naudzubillahi min dzalik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut, ”&lt;br /&gt;Demikian bunyi hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah juga berkata, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT sendiri di dalam Qur’an surat Al-Maidah ayat 51 melarang umat&lt;br /&gt;Islam untuk meniru-niru atau meneladani kaum Yahudi dan Nasrani, “Hai&lt;br /&gt;orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-8612402881791565062?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/8612402881791565062/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/sejarah-valentine.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/8612402881791565062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/8612402881791565062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/sejarah-valentine.html' title='SEJARAH VALENTINE'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3V7EHk_YsI/AAAAAAAAAK0/TnEeOGNL2ZI/s72-c/anti-valentine.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-1654173244726406060</id><published>2010-02-12T21:49:00.002+07:00</published><updated>2010-02-12T22:56:07.956+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>Hukum Merayakan Valentine dalam Islam</title><content type='html'>Sejarah Valentine Days.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut data dari Ensiklopedi Katolik, nama Valentinus diduga bisa merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara ketiga martir ini dengan hari raya kasih sayang (valentine) tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santo atau Orang Suci yang di maksud yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Pastur di Roma&lt;br /&gt;    * Uskup Interamna (modern Terni)&lt;br /&gt;    * Martir di provinsi Romawi Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti dari emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine (14 Februari), di mana peti dari emas diarak dalam sebuah prosesi dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu dilakukan sebuah misa yang khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3V5pw-CafI/AAAAAAAAAKs/n0iwdrUK-pM/s1600-h/t.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 1px; height: 1px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3V5pw-CafI/AAAAAAAAAKs/n0iwdrUK-pM/s320/t.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437385883546446322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari raya Valentine Days ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santo yang asal-muasalnya tidak jelas, meragukan dan hanya berbasis pada legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum Merayakan Valentine Dalam Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam, artinya, ” Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut ” (HR. At-Tirmidzi) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata, ” Memberikan ucapan selamat terhadap acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut HARAM “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa ? karena berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah subhanahu wata’ala. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah subhanahu wata’ala dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad al-Utsaimin ketika ditanya tentang Valentine’s Day mengatakan, ” Merayakan Hari Valentine itu tidak boleh ”, karena alasan berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Ia merupakan hari raya bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari’at Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua : Ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salaf shalih (pendahulu kita) -semoga Allah meridhai mereka-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kasus : ada seorang gadis mengatakan bahwa ia tidak mengikuti keyakinan mereka, hanya saja hari Valentine tersebut secara khusus memberikan makna cinta dan suka citanya kepada orang-orang yang memperingatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku!! Ini adalah suatu kelalaian, mengadakan pesta pada hari tersebut bukanlah sesuatu yang sepele, tapi lebih mencerminkan pengadopsian nilai-nilai Barat yang tidak memandang batasan normatif dalam pergaulan antara pria dan wanita sehingga saat ini kita lihat struktur sosial mereka menjadi porak-poranda. Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan. Semoga Allah subhanahu wata’ala melindungi kaum muslimin dari segala fitnah (ujian hidup), yang tampak ataupun yang tersembunyi dan semoga meliputi kita semua dengan bimbingan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ayat lainnya, artinya, ” Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Mujadilah: 22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kesimpulan dari hukum Perayaan Valentine adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim dilarang untuk meniru-niru kebiasan orang-orang di luar Islam, apalagi jika yang ditiru adalah sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan, pemikiran dan adat kebiasaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa mengucapkan selamat terhadap acara kekufuran adalah lebih besar dosanya dari pada mengucapkan selamat kepada kemaksiatan seperti meminum minuman keras dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haram hukumnya umat Islam ikut merayakan Hari Raya orang-orang di luar Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Valentine’s Day adalah Hari Raya di luar Islam untuk memperingati pendeta St. Valentin yang dihukum mati karena menentang Kaisar yang melarang pernikahan di kalangan pemuda. Oleh karena itu tidak boleh ummat Islam memperingati hari Valentine’s tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://mymoen.wordpress.com/2010/02/12/sejarah-valentine-day-dan-hukum-merayakannya-dalam-islam/"&gt;Sumber&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-1654173244726406060?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/1654173244726406060/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/hukum-merayakan-valentine-dalam-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/1654173244726406060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/1654173244726406060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/hukum-merayakan-valentine-dalam-islam.html' title='Hukum Merayakan Valentine dalam Islam'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3V5pw-CafI/AAAAAAAAAKs/n0iwdrUK-pM/s72-c/t.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-5269758702266178899</id><published>2010-02-12T00:38:00.002+07:00</published><updated>2010-02-12T00:41:12.134+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><title type='text'>Winamp 5.57 Pro - The Ultimate Media Player</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3RBKMwbyOI/AAAAAAAAAKk/wvJmAzeW9FA/s1600-h/winamp-pro.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 122px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3RBKMwbyOI/AAAAAAAAAKk/wvJmAzeW9FA/s320/winamp-pro.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437042293621901538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Winamp Player sebagai aplikasi pemutar audi dan video kini tela merilis versi Winamp 5.57. Dengan versi yang baru ini tentu mempunyai kinerja yang lebih baik dari versi sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun kini telah banyak tersedia Aplikasi Pemutar Audio lainnya, Winamp tetap banyak digunakan, salah satu faktornya karena Winamp mempunyai tampilan yang menarik dan didukung olehbanyak skins yang dapatanda download secara gratis di situs resminya atau dari Aplikasi Winamp&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nullsoft Winamp is a fast, flexible, high-fidelity media player for Windows. Winamp supports playback of many audio (MP3, OGG, AAC, WAV, MOD, XM, S3M, IT, MIDI, etc) and video types (AVI, ASF, MPEG, NSV), custom appearances called skins (supporting both classic Winamp 1.x/2.x skins and Winamp 3 freeform skins), audio visualization and audio effect plug-ins (including two industry dominating visualization plug-ins), an advanced media library, Internet radio and TV support, CD ripping, and CD burning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * The Full version plays MP3s, AAC, WMA, and more; Compatible with Winamp 2 Plug-ins; Full Support for classic and modern skins; Plays Videos; has a Powerful Media Library; Browse Internet Radio &amp; TV Stations; Integrated Internet Music Videos &amp; Songs; Bundled Visualizations; and Burn &amp; Rip CDs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * The LITE version plays MP3s, AAC, WMA, and more. It is compatible with Winamp 2 Plug-ins and has full support for classic skins.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Winamp Player Features :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Plays Music and Video Files (aacPlus, MP3, AAC, WMA and more!)&lt;br /&gt;    * Compatible with Winamp 2 Plug-ins&lt;br /&gt;    * Full Support for Classic and Modern Skins&lt;br /&gt;    * Plays Videos (NSV, WMV, and more!)&lt;br /&gt;    * Powerful Media Library&lt;br /&gt;    * Browse SHOUTcast Radio &amp; TV Stations&lt;br /&gt;    * Browse Winamp Music Videos &amp; Songs&lt;br /&gt;    * Integrated AOL Video Content (News, Sports, Movies &amp; more)&lt;br /&gt;    * AOL Radio Featuring XM&lt;br /&gt;    * SHOUTcast Wire (podcast directory)&lt;br /&gt;    * Predixis MusicMagic (dynamic playlisting)&lt;br /&gt;    * Bundled Visualizations&lt;br /&gt;    * Burn CDs (Limited to 2x - 48x in Pro!)&lt;br /&gt;    * Rips CDs (Limited to 8x aacPlus, AAC, WMA - Unlimited aacPlus, AAC, WMA and MP3 in Pro!)&lt;br /&gt;    * 50 free mp3s from Emusic&lt;br /&gt;    * Includes Winner of the Internet&lt;br /&gt;    * Surround Music Project!&lt;br /&gt;    * Includes an MP3 of ‘Mercy Me’ by Alkaline Trio&lt;br /&gt;    * Rip/Encode music into aacPlus, AAC, WMA, or MP3!&lt;br /&gt;    * Burn CDs up to 48x!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk Install :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Download dan ekstrak&lt;br /&gt;    * Lakukan Installasi pada file winamp557_pro_all.exe&lt;br /&gt;    * Ketika selesai melakukan installasi. gunakan file Serial.txt agar Winamp menjadi Full Versi&lt;br /&gt;    * Ketika memasukan serial, internet harus dalam keadaan mati&lt;br /&gt;    * Finished&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://d60pc.info/hosting/Winamp5.57Pro-d60pc.com.rar"&gt;Download here&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d60pc.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-5269758702266178899?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/5269758702266178899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/winamp-557-pro-ultimate-media-player.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/5269758702266178899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/5269758702266178899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/winamp-557-pro-ultimate-media-player.html' title='Winamp 5.57 Pro - The Ultimate Media Player'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3RBKMwbyOI/AAAAAAAAAKk/wvJmAzeW9FA/s72-c/winamp-pro.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-1321496529854081958</id><published>2010-02-12T00:31:00.002+07:00</published><updated>2010-02-12T00:36:02.474+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><title type='text'>Your Uninstaller Pro 2010 - Version 7.0.2010.11</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3Q_dxGUdxI/AAAAAAAAAKc/iReM-oesIPU/s1600-h/youruninstaller.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 83px; height: 80px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3Q_dxGUdxI/AAAAAAAAAKc/iReM-oesIPU/s320/youruninstaller.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437040430771631890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang kita ketahui pada OS Windows terdapat menu Uninstall Program pada Control Panel. Tapi feature default (bawaan) yang di miliki oleh windows ini belum sangat sempurna ketika membersihkan dan meremove sebuah software. Dan terkadang terdapat beberapa software atau program yang tidak dapat di hapus/remove melalui Control panel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Your Uninstaller PRO 2010 (YU PRO 2010) adalah sebuah software Uninstaller yang handal dan bagus. Program ini dapat membuang software atau program yang pernah kita install di PC kita secara complete dan benar-benar bersih. Untuk system kerjanya software ini juga sangat cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Your Uninstaller 2010 ketika remove program, lengkap dengan menghapus data registry dan database yang terkait dengan software tersebut. Jadi ketika kita menghapus/remove sebuah software akan benar-benar bersih tanpa meninggalkan file sampah yang dapat menyebabkan system komputer kita menjadi lambat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Your Uninstaller kini hadir dengan versi terbaru mereka : Your Uninstaller 2010 . Pada versi terbaru ini telah ditambahkan fitur-fitur baru yang menakjubkan. Your Uninstaller 2010 juga hadir dengan tampilan baru yang menarik dan membuat para penggunanya lebih mudah untuk mengoperasikan program ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Softwares ini jika dari situs resminya dihargai dengan $39.99. Tapi disini kita bisa menggunakannya dengan GRATIS tanpa perlu keluar membeli softwares ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Overview :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Your Uninstaller! is a complete solution for uninstallation tasks. Monitor, analysis, cleanup and rebuild. Makes your PC clean and stable. With advanced uninstall scripts, Your Uninstaller! can solve most uninstall problems.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As the industry’s leading uninstaller program, world’s the 1st Drag&amp;Uninstall™ uninstaller under the Windows platform, using Your Uninstaller! has never been this easy. Imagine! Just a drag-drop and the unwanted program will be completely removed - no any trace left!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What’s New in version 2010 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Windows 7 Support&lt;br /&gt;    * 64 Bit Platform Support&lt;br /&gt;    * Core Level Optimization&lt;br /&gt;    * Re-designed User Interface&lt;br /&gt;    * New Hunter Mode&lt;br /&gt;    * Quick Uninstall Mode&lt;br /&gt;    * Different Scan Levels&lt;br /&gt;    * More…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Key features :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Fix invalid uninstallations in one click.&lt;br /&gt;    * Full system scan after a program being uninstalled for complete removal.&lt;br /&gt;    * Force removal of a program.&lt;br /&gt;    * Keep system stable and clean with various system tools.&lt;br /&gt;    * Easy to Use. No expert knowledge required.&lt;br /&gt;    * Windows XP, Windows Vista and Windows 7 Compatible.&lt;br /&gt;    * Safe and Trusted.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk Install YU PRO 2010  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Lakukan installasi pada file yusetup2010.exe yang sudah anda download di situs ini&lt;br /&gt;    * Ketika selesai, tutup kembali software Your Uninstaller PRO 2008 ini.&lt;br /&gt;    * Lalu buka dan jalankan YU Pro 2010&lt;br /&gt;    * Masuk ke menu &gt; help &gt; enter code&lt;br /&gt;    * Masukkan data regristasi yang sebelumnya telah kita dapatkan (file serials.txt)&lt;br /&gt;    * Finish&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Completely Uninstall :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Your Uninstaller! completely takes the place of Windows Add/Remove program, while offering you many more features. Your Uninstaller can list “hidden” programs that you can’t view using the Windows Add/Remove program. The standard Add/Remove program often can’t uninstall applications completely-leaving broken registry keys and unused files on the hard disk. Big registries and large numbers of unnecessary files make system slow. Your Uninstaller! clears broken keys and files in seconds using SmartUninstall™! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://d60pc.info/hosting/YourUninstaller-PRO-2010-d60pc.rar"&gt;Download Here&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d60pc.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-1321496529854081958?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/1321496529854081958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/your-uninstaller-pro-2010-version.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/1321496529854081958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/1321496529854081958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/your-uninstaller-pro-2010-version.html' title='Your Uninstaller Pro 2010 - Version 7.0.2010.11'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3Q_dxGUdxI/AAAAAAAAAKc/iReM-oesIPU/s72-c/youruninstaller.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-6450423073997595232</id><published>2010-02-12T00:13:00.008+07:00</published><updated>2010-02-12T00:24:57.821+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>Perempuan Aceh Menuntut Pembebasan Tahanan Politik</title><content type='html'>Senin, 08 Februari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banda Aceh - Dalam aksinya mendukung tiga tahun Pemerintahan Aceh di bawah Gubernur Irwandi Yusuf dan wakilnya Muhammad Nazar, Senin (08/02), ribuan perempuan juga menuntut pemerintah pusat untuk membebaskan tahanan politik yang saat ini masih ditahan di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3Q8zMYuPVI/AAAAAAAAAKE/y7ypaMC_alQ/s1600-h/11.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3Q8zMYuPVI/AAAAAAAAAKE/y7ypaMC_alQ/s320/11.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437037500338945362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Koordinator Aksi, Nurmasyitah Ali, mengatakan sampai saat ini, hampir lima tahun Kesepakatan Damai (MoU) Helsinki ditandatangani Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), masih banyak persoalan yang mengganjal. “Salah satunya adalah persoalan tahanan politik Aceh yang masih mendekam di penjara,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya, kata dia, mereka telah dibebaskan sesuai dengan MoU Helsinki poin 3.1.2 yang berbunyi: Narapidana dan tahanan politik yang ditahan akibat konflik akan dibebaskan tanpa syarat secepat mungkin dan selambat-lambatnya 15 hari sejak penandatangan nota kesepahaman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3Q89E4zsOI/AAAAAAAAAKM/gA2JBVWKoTc/s1600-h/2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3Q89E4zsOI/AAAAAAAAAKM/gA2JBVWKoTc/s320/2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437037670124728546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Nurmasyitah, ada tiga orang tahanan politik yang masih ditahan, yaitu Ismuhadi bin Jafar (LP Cipinang Jakarta), Irwan bin Ilyas (LP Narkotika Jakarta Timur) dan Ibrahim bin Hasan (LP Narkotika Jakarta Timur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihaknya meminta pemerintah pusat untuk segera membebaskan tanpa syarat para tahanan politik Aceh tersebut. Mereka juga meminta eksekutif dan legislatif Aceh untuk mendesak pusat terkait hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3Q9GFpigSI/AAAAAAAAAKU/YJ_zE142QpQ/s1600-h/3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3Q9GFpigSI/AAAAAAAAAKU/YJ_zE142QpQ/s320/3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437037824947945762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi mendukung tiga tahun pemerintahan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dan wakilnya Muhammad Nazar berlansung lancar. Ribuan massa perempuan yang datang dari beberapa kabupaten/kota di Aceh, melakukan aksi dengan pengawalan ketat polisi. Jalan protokol di Banda Aceh macet dari tadi pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMPOInteraktif.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-6450423073997595232?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/6450423073997595232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/perempuan-aceh-menuntut-pembebasan_12.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/6450423073997595232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/6450423073997595232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/perempuan-aceh-menuntut-pembebasan_12.html' title='Perempuan Aceh Menuntut Pembebasan Tahanan Politik'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3Q8zMYuPVI/AAAAAAAAAKE/y7ypaMC_alQ/s72-c/11.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-7168776556420186537</id><published>2010-02-11T23:50:00.001+07:00</published><updated>2010-02-11T23:52:02.763+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keperawatan'/><title type='text'>Bahaya Rokok untuk Perokok Pasif Kedua</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3Q1pBAJDdI/AAAAAAAAAIM/bAc0298eXZ4/s1600-h/1651591p.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 298px; height: 225px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3Q1pBAJDdI/AAAAAAAAAIM/bAc0298eXZ4/s320/1651591p.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437029628902968786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Efek rokok memang sungguh buruk, tak hanya bagi si pengisap, tetapi juga untuk perokok pasif pertama dan kedua. Perokok pasif pertama adalah orang yang kebetulan berada satu ruangan dengan perokok dan ikut menghirup asapnya. Sedangkan perokok pasif kedua adalah orang lain yang terkena residu asap rokok tersebut melalui pakaian, rambut, mobil, atau apa pun yang terkena hembusan asap tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut para peneliti, residu asap rokok bisa sangat berbahaya untuk anak-anak yang mungkin akan menjilat atau menyentuh permukaan benda-benda yang terpapar asap tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para peneliti di Lawrence Berkley National Laboratory di California ini mempelajari nikotin yang terserap di materi di dalam ruangan, atau interior di dalam mobil perokok. Hasilnya menunjukkan bahwa menghindar dari ruangan dimana banyak orang sedang merokok tidak cukup melindungi kesehatan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Hugo Destaillats, seorang ahli kimia lingkungan yang tergabung dalam studi tersebut, mengatakan, "Karena kontak berulang dengan permukaan -seperti pakaian, kulit, perabotan- dan debu, bayi dan anak-anak akan terkena risikonya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penemuan yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Scientists ini, menyarankan agar Anda sebisa mungkin tidak menyentuh karpet tua, kursi, tirai, atau benda-benda lain yang mungkin sudah terpapar tembakau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Anda yang merokok, ubahlah sikap Anda yang egois. Jangan lagi merokok di ruang tertutup (termasuk di dalam kendaraan umum), atau ruang terbuka bila memang masih ada orang di sekitar Anda. Setiap orang berhak atas udara yang bersih, jadi hargailah mereka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompas.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-7168776556420186537?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/7168776556420186537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/bahaya-rokok-untuk-perokok-pasif-kedua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/7168776556420186537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/7168776556420186537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/bahaya-rokok-untuk-perokok-pasif-kedua.html' title='Bahaya Rokok untuk Perokok Pasif Kedua'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3Q1pBAJDdI/AAAAAAAAAIM/bAc0298eXZ4/s72-c/1651591p.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-9037272460072678107</id><published>2010-02-11T23:46:00.001+07:00</published><updated>2010-02-11T23:48:21.414+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komputer'/><title type='text'>Bergelombang, Eee PC Seashell Edisi Karim Rashid</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3Q0qLV6beI/AAAAAAAAAIE/lglHlbd2aYg/s1600-h/1651591p.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 298px; height: 224px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3Q0qLV6beI/AAAAAAAAAIE/lglHlbd2aYg/s320/1651591p.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437028549346880994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pasar netbook tahun ini banjir produk. Aneka merek dan model tak henti-henti mengalir ke pasar. Maka setiap produsen harus berpikir keras dalam merancang netbook-nya agar bisa langsung memikat hati konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah begini, urusan desain pun tak lagi bisa disepelekan. Maka Asus pun mengkaryakan Karim Rashid, desainer kondang AS yang sudah menelurkan 3000 desain dan memperoleh 300 penghargaan di 150 negara. Hasilnya diwujudkan pada Eee PC 1008P Karim Rashid Collection.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu melihatnya, kita akan tahu bahwa netbook dengan prosesor Intel Atom N450 ini berbeda. Warna casingnya mencuri perhatian. Pink, tapi hot pink yang mengilap, bukan pink yang kalem. Maklum yang ini ditujukan untuk para wanita yang sadar fashion dan selalu ingin jadi pusat perhatian. Namun bagi kaum adam, tersedia warna yang lebih kalem, yakni coklat. Tepatnya coffee brown dengan glitter emas pada bagian bawah dan lapisan lembut dari bahan cat karet tembus cahaya di bagian atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memegang koleksi Karim Rashid ini, kita akan merasa lain, sekaligus nyaman. Sebab casing-nya yang bercorak garis-garis itu bergelombang! “Ini bertema human sense dengan penekanan vision dan touch. Jika disentuh, gelombangnya menyenangkan sekali,” kata Henry Lim (Product Manager, Asus Indonesia) saat memperkenalkan Eee PC 1008P Karim Rashid Collection di Jakarta tadi siang. Potongan in-mold-nya pun telah diukur dan diuji dengan ketepatan tak tertandingi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat membukanya, terlihat bahwa LCD 10,1”-nya tanpa bingkai. Yang juga lain adalah touchpad-nya yang juga seakan-akan menyatu dengan palmrest. Namun pola bertitik-titik akan mengingatkan Anda di mana letak touchpad tersebut. Keyboard-nya sendiri disebutkan ergonomis dengan model chiclet. O ya, di sisi kanan panel keyboard ada tandatangan Karim dengan tinta emas, sebagai bukti bahwa netbook ini dirancang oleh desainer kondang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spesifikasi Eee PC 1008P sendiri tak banyak beda dengan netbook berprosesor Atom N450 lainnya. RAM DDR32 1GB, WLAN 802.11 b/g/n, Bluetooth, Webcam 1,3 megapixel, speaker stereo, port VGA, 2 port USB 2.0, port LAN, jack audio, card reader serta sistem operasi Windows 7 dan harddisk 250/320 SATA2. Namun Asus juga menyediakan storage WebStorage 500GB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang istimewa, netbook dengan dimensi 26,2x18x2,62 cm ini menggunakan baterai Li-Polimer yang tipis dan ramah lingkungan. Karena itulah bobot netbook ini cukup ringan, 1,45kg. Dan kendati baterainya 3-cell, daya tahannya disebutkan mencapai 6 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin memilikinya? Jika ya, silakan siapkan dana US$ 479.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompas.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-9037272460072678107?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/9037272460072678107/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/bergelombang-eee-pc-seashell-edisi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/9037272460072678107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/9037272460072678107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/bergelombang-eee-pc-seashell-edisi.html' title='Bergelombang, Eee PC Seashell Edisi Karim Rashid'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3Q0qLV6beI/AAAAAAAAAIE/lglHlbd2aYg/s72-c/1651591p.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-4122989651654045873</id><published>2010-02-11T23:31:00.005+07:00</published><updated>2010-02-11T23:38:57.465+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komputer'/><title type='text'>Apple iPad Tablet Features And Specifications</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3Qxpsl2LYI/AAAAAAAAAHk/MniFK-E2Tmo/s1600-h/ipad-box.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 125px; height: 95px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3Qxpsl2LYI/AAAAAAAAAHk/MniFK-E2Tmo/s320/ipad-box.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437025242557328770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apple has officially announced its new magical, revolutionary device for surfing the web, reading and sending email, viewing photos, watching movies or videos, listening to music, playing games, reading e-books and so forth, which named as Apple iPad (previously rumored as Apple iTablet or Apple iSlate).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3QyDa2Fd0I/AAAAAAAAAH0/AWEStkivdqY/s1600-h/ipad.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 185px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3QyDa2Fd0I/AAAAAAAAAH0/AWEStkivdqY/s320/ipad.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437025684470200130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apple iPad is able to run virtually all of the 140,000 apps from the App Store – from games to productivity apps and much more, featuring 12 next-generation, innovative multi-touch applications that work in both portrait and landscape. The iPad is available in 2 versions – Wi-Fi and Wi-Fi + 3G models.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3QxzucWBeI/AAAAAAAAAHs/9EPgAx_OQyw/s1600-h/ipad-1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 53px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3QxzucWBeI/AAAAAAAAAHs/9EPgAx_OQyw/s320/ipad-1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437025414853035490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“iPad is our most advanced technology in a magical and revolutionary device at an unbelievable price,” commented Steve Jobs, CEO for Apple. “iPad creates and defines an entirely new category of devices that will connect users with their apps and content in a much more intimate, intuitive and fun way than ever before.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;iWork&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In addition, Apple also announced a new version of iWork desktop-class productivity suite for the iPad, which includes Pages, Keynote and Numbers apps that have been completely redesigned for Apple iPad, allowing users to create incredible presentations with animations and transitions, word processing documents, and spreadsheets with charts, functions and formulas by directly touching the words and images on the Multi-Touch display. iWork will costs $9.99.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3QyStL0VXI/AAAAAAAAAH8/ApNZnyj7smM/s1600-h/ipad-2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 91px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3QyStL0VXI/AAAAAAAAAH8/ApNZnyj7smM/s320/ipad-2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437025947091228018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unique Features And Specifications Of Apple iPad :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Large 9.7-inch LED-backlit wide Multi-Touch screen (1024 x 768 pixels resolution) with IPS (in-plane switching) technology and fingerprint-resistant oleophobic coating&lt;br /&gt;    * Extremely powerful, power efficient 1GHz Apple A4 system-on-a-chip&lt;br /&gt;    * Customizable Home Screen provides users one-tap access to everything on iPad&lt;br /&gt;    * Spotlight Search allows users to search across Apple iPad, and its built-in apps including Mail, Contacts, Calendar, iPod and Notes&lt;br /&gt;    * Browse and buy music, TV shows, podcasts on your iPad by just tap on the iTunes Store icon&lt;br /&gt;    * Safari web browser lets users navigate through the Internet easily&lt;br /&gt;    * Bluetooth 2.1 + EDR technology and Wi-Fi (802.11 a/b/g/n) connectivity&lt;br /&gt;    * Based on latest iPhone OS 3.2&lt;br /&gt;    * Support speeds up to 7.2 Mbps on HSDPA networks (Wi-Fi + 3G model only)&lt;br /&gt;    * Built-in 25Whr rechargeable lithium polymer battery supports up to 10 hours of battery life&lt;br /&gt;    * 30-pin dock connector lets users connect to new iPad accessories such as Camera Connection Kit or Keyboard Dock&lt;br /&gt;    * Support variety of languages including English, French, German, Japanese, Dutch, Italian, Spanish, Simplified Chinese and Russian&lt;br /&gt;    * Integrated speaker, microphone, accelerometer, ambient light sensor and digital compass&lt;br /&gt;    * A-GPS (Wi-Fi + 3G model) or cellular (Wi-Fi + 3G model)&lt;br /&gt;    * Available in 3 variants of flash memory capacities – 16GB, 32GB and 64GB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Complete list of features and specifications can be found on Apple website&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;iBooks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furthermore, the company also introduced a great and convenient way to browse, buy and read books on Apple iPad – iBooks app, which includes Apple’s new iBookstore that features books from major and independent publishers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There are various iPad accessories that will be launched by Apple together with iPad. And, check out iPad video demo and keynote address VOD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The new Apple iPad which measures 9.56 x 7.47 x 0.5 inches and weights about 1.5 pounds is expected to be available by March 2010 starting at an affordable price of $499. View the full price list of Apple iPad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apple iPad Price&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3Qxaw4J9jI/AAAAAAAAAHc/47x1KVa-15c/s1600-h/ipad-price.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 112px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3Qxaw4J9jI/AAAAAAAAAHc/47x1KVa-15c/s320/ipad-price.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437024986009826866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;International price will be announced at a later date. And, consumers likely to be able to purchase iPad at slightly below the official price listed above, due to discount and promotion by retailers. Overall, the higher end model of iPad Wi-Fi + 3G model is $130 more expensive than the non-3G model. And, the price of iPad does not included 3G data plan, where iPad users have to sign up separately with AT&amp;T, with the following price. The price for iPad, especially Wi-Fi + 3G model may be lower if there is subsidized version be sold on contract.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AT &amp; T 3G Data Plan Price&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;250 MB per Month Plan: $14.99 / month&lt;br /&gt;Unlimited Plan: $29.99 /month&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-4122989651654045873?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/4122989651654045873/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/apple-ipad-tablet-features-and.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/4122989651654045873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/4122989651654045873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/apple-ipad-tablet-features-and.html' title='Apple iPad Tablet Features And Specifications'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3Qxpsl2LYI/AAAAAAAAAHk/MniFK-E2Tmo/s72-c/ipad-box.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-4438614585099762232</id><published>2010-02-11T23:21:00.002+07:00</published><updated>2010-02-11T23:28:57.044+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komputer'/><title type='text'>Internet Download Manager 5.18</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3QvtHySixI/AAAAAAAAAHU/Sqg9CfSrh-k/s1600-h/idm-logo.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 125px; height: 164px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3QvtHySixI/AAAAAAAAAHU/Sqg9CfSrh-k/s320/idm-logo.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437023102373628690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Internet Download Manager merupakan sebuah pilihan yang sangat tepat untuk kita sebagai Download Accelerator dan Download Manger, Karena dapat meningkatkan kecepatan download ketika anda mengunduh suatu file di internet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet Download Manager saat ini sudah pada versi IDM 5.18 Build 8. Dengan versi terbaru ini tentu telah dilakukan beberapa perbaikan dan meningkatkan kinerja Program Internet Download Manager. Jika selama ini anda sudah terbiasamenjadikan IDM sebagai Download Manager, maka rasanya anda perlu untuk melakukan update.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet Download Manager 5.18 has a smart download logic accelerator that features intelligent dynamic file segmentation and safe multipart downloading technology to accelerate your downloads. Unlike other download accelerators and managers that segment files before downloading starts, Internet Download Manager segments downloaded files dynamically during download process. Internet Download Manager reuses available connections without additional connect and login stages to achieve better acceleration performance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet Download Manager supports proxy servers, ftp and http protocols, firewalls, redirects, cookies, authorization, MP3 audio and MPEG video content processing. IDM integrates seamlessly into Microsoft Internet Explorer, Netscape, MSN Explorer, AOL, Opera, Mozilla, Mozilla Firefox, Mozilla Firebird, Avant Browser, MyIE2, and all other popular browsers to automatically handle your downloads. You can also drag and drop files, or use Internet Download Manager from command line. Internet Download Manager can dial your modem at the set time, download the files you want, then hang up or even shut down your computer when it’s done.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What’s new in version 5.18 build 8 - Released : Jan 25, 2010 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Fixed several bugs&lt;br /&gt;    * Added Windows 7 support&lt;br /&gt;    * Fixed critical bugs&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk Install IDM 5.18 Build 8 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Download dan ekstrak IDM v 5.18 Build 8 &lt;a href="http://d60pc.info/hosting/Internet.Download.Manager.v5.18.8.www.d60pc.com.rar"&gt;disini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;    * Lakukan proses installasi pada file idman518.exe&lt;br /&gt;    * Jika sebelumnya sudah terinstall IDM versi lama bisa menimpa dan melanjutkan installasi dengan file installer IDM yang baru&lt;br /&gt;    * Setelah proses installasi selesai, tutup/exit program ini. Lihat juga di system tray pojok kanan bawah, apabila masih ada logo IDM klik kanan pilih exit&lt;br /&gt;    * Copy file UNREAL Patch 5.xx(2009-07-10).exe kedalam folder installasi yang biasanya terdapat di : C:\Program Files\Internet Download Manager&lt;br /&gt;    * Kemudian jalankan file tersebut. Jika anda menggunakan Windows vista dan Windows 7, jalankan sebagai Run As Administrator&lt;br /&gt;    * Finished&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.d60pc.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-4438614585099762232?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/4438614585099762232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/internet-download-manager-518.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/4438614585099762232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/4438614585099762232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/internet-download-manager-518.html' title='Internet Download Manager 5.18'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3QvtHySixI/AAAAAAAAAHU/Sqg9CfSrh-k/s72-c/idm-logo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-253114426793150158</id><published>2010-02-11T23:08:00.003+07:00</published><updated>2010-02-11T23:23:46.189+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komputer'/><title type='text'>Facebook Chat Emoticon</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3QszAvqw4I/AAAAAAAAAHM/X6mJTHCeTcs/s1600-h/facebook-emoticons.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 266px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3QszAvqw4I/AAAAAAAAAHM/X6mJTHCeTcs/s320/facebook-emoticons.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437019905027916674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Facebook ChatBar adalah sebuah addons untuk firefox yang memberikan anda sebuah set daftar Emoticons dibagian atas jendela chatting yang dengan mudah dapat anda klik untuk memasukkan kedalam teks ketika melakukan chat dengan teman facebook anda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya saya juga sudah posting tips seperti ini, namun dengan cara yang terdahulu kadang List Emoticons tidak tampil. Dengan Addons Facebook Chatbar masalah tidak tampil Emoticons bisa teratasi karena addons ini tanpa menggunakan Grease Monkey + Script.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya List Emoticons ini tentu chatting di FB makin seru dan asik. Trik ini hanya dapat digunakan pada Browser Firefox. Untuk mendapatkan addon ini bisa di alamat : &lt;a href="https://addons.mozilla.org/en-US/firefox/addon/14013"&gt;https://addons.mozilla.org/en-US/firefox/addon/14013&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk para pengunjung d60pc yang mempunyai account Facebook. Jangan lupa untuk bergabung di Fans Club : www.d60pc.com ya. Semoga dengan adanya halaman Fans Club di Facebook akan membuat para pengunjung situs d60pc saling kenal dan mudah untuk saling bertukar informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.d60pc.com/2010/02/03/facebook-chat-emoticons-facebook-chatbar/"&gt;klik disini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-253114426793150158?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/253114426793150158/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/facebook-chatbar-adalah-sebuah-addons.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/253114426793150158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/253114426793150158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/facebook-chatbar-adalah-sebuah-addons.html' title='Facebook Chat Emoticon'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/S3QszAvqw4I/AAAAAAAAAHM/X6mJTHCeTcs/s72-c/facebook-emoticons.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-7355333372647060138</id><published>2010-02-11T09:49:00.001+07:00</published><updated>2010-02-11T21:14:42.932+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keperawatan'/><title type='text'>LAPORAN PENDAHULUAN DIARE</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;A. Pengertian&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Beberapa pengertian diare:&lt;br/&gt;1. Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cairan, dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari keadaan normal yakni 100-200 ml sekali defekasi (Hendarwanto, 1999).&lt;br/&gt;2. Menurut WHO (1980) diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari.&lt;br/&gt;3. Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat bercampur lendir dan darah (Ngastiyah, 1997).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;B. Penyebab&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;1. Faktor infeksi&lt;br/&gt;a. Infeksi enteral; infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare, meliputi infeksi bakteri (Vibrio, E. coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dsb), infeksi virus (Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dll), infeksi parasit (E. hystolytica, G.lamblia, T. hominis) dan jamur (C. albicans).&lt;br/&gt;b. Infeksi parenteral; merupakan infeksi di luar sistem pencernaan yang dapat menimbulkan diare seperti: otitis media akut, tonsilitis, bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;2. Faktor Malabsorbsi&lt;br/&gt;Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Intoleransi laktosa merupakan penyebab diare yang terpenting pada bayi dan anak. Di samping itu dapat pula terjadi malabsorbsi lemak dan protein.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;3. Faktor Makanan:&lt;br/&gt;Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi, beracun dan alergi terhadap jenis makanan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;4. Faktor Psikologis&lt;br/&gt;Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut dan cemas).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;C. Patofisiologi&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah:&lt;br/&gt;1. Gangguan osmotik&lt;br/&gt;Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam lumen usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektroloit ke dalam lumen usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;2. Gangguan sekresi&lt;br/&gt;Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam lumen usus dan selanjutnya timbul diare kerena peningkatan isi lumen usus.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;3. Gangguan motilitas usus&lt;br/&gt;Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya dapat timbul diare pula.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;D. Manifestasi Klinis&lt;br/&gt;Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah, demam, tenesmus, hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut. Akibat paling fatal dari diare yang berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah kematian akibat dehidrasi yang menimbulkan renjatan hipovolemik atau gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang berlanjut. Seseoran yang kekurangan cairan akan merasa haus, berat badan berkurang, mata cekung, lidah kering, tulang pipi tampak lebih menonjol, turgor kulit menurun serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air yang isotonik.&lt;br/&gt;Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya dengan asam karbonat berkurang mengakibatkan penurunan pH darah yang merangsang pusat pernapasan sehingga frekuensi pernapasan meningkat dan lebih dalam (pernapasan Kussmaul)&lt;br/&gt;Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan dengan tanda-tanda denyut nadi cepat (&amp;gt; 120 x/menit), tekanan darah menurun sampai tidak terukur. Pasien mulai gelisah, muka pucat, akral dingin dan kadang-kadang sianosis. Karena kekurangan kalium pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung.&lt;br/&gt;Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun sampai timbul oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatsi akan timbul penyulit nekrosis tubulus ginjal akut yang berarti suatu keadaan gagal ginjal akut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;E. Penatalaksanaan&lt;br/&gt;Prinsip Penatalaksanaan&lt;br/&gt;Penatalaksanaan diare akut karena infeksi pada orang dewasa terdiri atas:&lt;br/&gt;1. Rehidrasi sebagai prioritas utama terapi.&lt;br/&gt;2. Tata kerja terarah untuk mengidentifkasi penyebab infeksi.&lt;br/&gt;3. Memberikan terapi simtomatik&lt;br/&gt;4. Memberikan terapi definitif.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;em&gt;ad.1. Rehidrasi sebagai prioritas utama terapi.&lt;br/&gt;&lt;/em&gt;Ada 4 hal yang penting diperhatikan agar dapat memberikan rehidrasi yang cepat dan akurat, yaitu:&lt;br/&gt;1) Jenis cairan yang hendak digunakan.&lt;br/&gt;Pada saat ini cairan Ringer Laktat merupakan cairan pilihan karena tersedia cukup banyak di pasaran meskipun jumlah kaliumnya rendah bila dibandingkan dengan kadar kalium tinja. Bila RL tidak tersedia dapat diberiakn NaCl isotonik (0,9%) yang sebaiknya ditambahkan dengan 1 ampul Nabik 7,5% 50 ml pada setiap satu liter NaCl isotonik. Pada keadaan diare akut awal yang ringan dapat diberikan cairan oralit untuk mencegah dehidrasi dengan segala akibatnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;2) Jumlah cairan yang hendak diberikan.&lt;br/&gt;Pada prinsipnya jumlah cairan pengganti yang hendak diberikan harus sesuai dengan jumlah cairan yang keluar dari badan. Jumlah kehilangan cairan dari badan dapat dihitung dengan cara/rumus:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;- Mengukur BJ Plasma&lt;br/&gt;Kebutuhan cairan dihitung dengan rumus:&lt;br/&gt;BJ Plasma – 1,025&lt;br/&gt;———————- x BB x 4 ml&lt;br/&gt;0,001&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;- Metode Pierce&lt;br/&gt;Berdasarkan keadaan klinis, yakni:&lt;br/&gt;* diare ringan, kebutuhan cairan = 5% x kg BB&lt;br/&gt;* diare sedang, kebutuhan cairan = 8% x kg BB&lt;br/&gt;* diare ringan, kebutuhan cairan = 10% x kg BB&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;- Metode Daldiyono&lt;br/&gt;Berdasarkan skoring keadaan klinis sebagai berikut:&lt;br/&gt;* Rasa haus/muntah = 1&lt;br/&gt;* BP sistolik 60-90 mmHg = 1&lt;br/&gt;* BP sistolik &amp;lt;60 mmHg = 2&lt;br/&gt;* Frekuensi nadi &amp;gt;120 x/mnt = 1&lt;br/&gt;* Kesadaran apatis = 1&lt;br/&gt;* Kesadaran somnolen, sopor atau koma = 2&lt;br/&gt;* Frekuensi napas &amp;gt;30 x/mnt = 1&lt;br/&gt;* Facies cholerica = 2&lt;br/&gt;* Vox cholerica = 2&lt;br/&gt;* Turgor kulit menurun = 1&lt;br/&gt;* Washer women's hand = 1&lt;br/&gt;* Ekstremitas dingin = 1&lt;br/&gt;* Sianosis = 2&lt;br/&gt;* Usia 50-60 tahun = 1&lt;br/&gt;* Usia &amp;gt;60 tahun = 2&lt;br/&gt;Kebutuhan cairan =&lt;br/&gt;Skor&lt;br/&gt;——– x 10% x kgBB x 1 ltr&lt;br/&gt;15&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;3) Jalan masuk atau cara pemberian cairan&lt;br/&gt;Rute pemberian cairan pada orang dewasa meliputi oral dan intravena. Larutan orali dengan komposisi berkisar 29 g glukosa, 3,5 g NaCl, 2,5 g NaBik dan 1,5 g KCl stiap liternya diberikan per oral pada diare ringan sebagai upaya pertama dan juga setelah rehidrasi inisial untuk mempertahankan hidrasi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;4) Jadual pemberian cairan&lt;br/&gt;Jadual rehidrasi inisial yang dihitung berdasarkan BJ plasma atau sistem skor diberikan dalam waktu 2 jam dengan tujuan untuk mencapai rehidrasi optimal secepat mungkin. Jadual pemberian cairan tahap kedua yakni untuk jam ke-3 didasarkan pada kehilangan cairan selama 2 jam fase inisial sebelumnya. Dengan demikian, rehidrasi diharapkan lengkap pada akhir jam ke-3.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;2. Tata kerja terarah untuk mengidentifkasi penyebab infeksi&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;br/&gt;Untuk mengetahui penyebab infeksi biasanya dihubungkan dengan dengan keadaan klinis diare tetapi penyebab pasti dapat diketahui melalui pemeriksaan biakan tinja disertai dengan pemeriksaan urine lengkap dan tinja lengkap.&lt;br/&gt;Gangguan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa diperjelas melalui pemeriksaan darah lengkap, analisa gas darah, elektrolit, ureum, kreatinin dan BJ plasma.&lt;br/&gt;Bila ada demam tinggi dan dicurigai adanya infeksi sistemik pemeriksaan biakan empedu, Widal, preparat malaria serta serologi Helicobacter jejuni sangat dianjurkan. Pemeriksaan khusus seperti serologi amuba, jamur dan Rotavirus biasanya menyusul setelah melihat hasil pemeriksaan penyaring.&lt;br/&gt;Secara klinis diare karena infeksi akut digolongkan sebagai berikut:&lt;br/&gt;1) Koleriform, diare dengan tinja terutama terdiri atas cairan saja.&lt;br/&gt;2) Disentriform, diare dengan tinja bercampur lendir kental dan kadang-kadang darah.&lt;br/&gt;Pemeriksaan penunjang yang telah disinggung di atas dapat diarahkan sesuai manifestasi klnis diare.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;3. Memberikan terapi simtomatik&lt;br/&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Terapi simtomatik harus benar-benar dipertimbangkan kerugian dan keuntungannya. Antimotilitas usus seperti Loperamid akan memperburuk diare yang diakibatkan oleh bakteri entero-invasif karena memperpanjang waktu kontak bakteri dengan epitel usus yang seyogyanya cepat dieliminasi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;em&gt;4. Memberikan terapi definitif.&lt;br/&gt;&lt;/em&gt;Terapi kausal dapat diberikan pada infeksi:&lt;br/&gt;1) Kolera-eltor: Tetrasiklin atau Kotrimoksasol atau Kloramfenikol.&lt;br/&gt;2) V. parahaemolyticus,&lt;br/&gt;3) E. coli, tidak memerluka terapi spesifik&lt;br/&gt;4) C. perfringens, spesifik&lt;br/&gt;5) A. aureus : Kloramfenikol&lt;br/&gt;6) Salmonellosis: Ampisilin atau Kotrimoksasol atau golongan Quinolon seperti Siprofloksasin&lt;br/&gt;7) Shigellosis: Ampisilin atau Kloramfenikol Helicobacter: Eritromisin&lt;br/&gt;9) Amebiasis: Metronidazol atau Trinidazol atau Secnidazol&lt;br/&gt;10) Giardiasis: Quinacrine atau Chloroquineitiform atau Metronidazol&lt;br/&gt;11) Balantidiasis: Tetrasiklin&lt;br/&gt;12) Candidiasis: Mycostatin&lt;br/&gt;13) Virus: simtomatik dan suportif&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;G. Konsep Keperawatan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;1. Pengkajian (Anak Usia 3 Tahun)&lt;br/&gt;a. Keluhan Utama : Buang air berkali-kali dengan konsistensi encer&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;b. Riwayat Kesehatan Sekarang&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;Pada umumnya anak masuk Rumah Sakit dengan keluhan buang air cair berkali-kali baik disertai atau tanpa dengan muntah, tinja dpat bercampur lendir dan atau darah, keluhan lain yang mungkin didapatkan adalah napsu makan menurun, suhu badan meningkat, volume diuresis menurun dan gejala penurunan kesadaran&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;c. Riwayat Kesehatan Masa Lalu&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;Meliputi pengkajian riwayat :&lt;br/&gt;1) Prenatal&lt;br/&gt;Kehamilan yang keberapa, tanggal lahir, gestasi (fulterm, prematur, post matur), abortus atau lahir hidup, kesehatan selama sebelumnya/kehamilan, dan obat-obat yang dimakan serta imunisasi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;2) Natal&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;Lamanya proses persalinan, tempat melahirkan, obat-obatan, orang yang menolong persalinan, penyulit persalinan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;3) Post natal&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;Berat badan nomal 2,5 Kg – 4 Kg, Panjang Badan normal 49 -52 cm, kondisi kesehatan baik, apgar score , ada atau tidak ada kelainan kongenital.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;4) Feeding&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;Air susu ibu atau formula, umur disapih (2 tahun), jadwal makan/jumlahnya, pengenalan makanan lunak pada usia 4-6 bulan, peubahan berat-badan, masalah-masalah feeding (vomiting, colic, diare), dan penggunaan vitamin dan mineral atau suplemen lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;5) Penyakit sebelumnya&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Penyebabnya, gejala-gejalanya, perjalanan penyakit, penyembuhan, kompliksi, insiden penyakit dalam keluarga atau masyarakat, respon emosi terhadap rawat inap sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;6) Alergi&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;Apakah pernah menderita hay fever, asthma, eksim. Obat-obatan, binatang, tumbuh-tumbuhan, debu rumah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;7) Obat-obat terakhir yang didapat&lt;br/&gt;Nama, dosis, jadwal, lamanya, alasan pemberian.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Imunisasi&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;Polio, hepatitis, BCG, DPT, campak, sudah lengkap pada usia 3 tahun, reaksi yang terjadi adalah biasanya demam, pemberian serum-serum lain, gamma globulin/transfusi, pemberian tubrkulin test dan reaksinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;9) Tumbuh Kembang&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Berat waktu lahir 2, 5 Kg – 4 Kg. Berat badan bertambah 150 – 200 gr/minggu, TB bertambah 2,5 cm / bulan, kenaikan ini terjadi sampai 6 bulan. Gigi mulai tumbuh pada usia 6-7 bulan, mulai duduk sendiri pada usia 8-9 bulan, dan bisa berdiri dan berjalan pada usia 10-12 bulan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;d. Riwayat Psikososial&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;Anak sangat menyukai mainannya, anak sangat bergantung kepada kedua orang tuanya dan sangat histeris jika dipisahkan dengan orang tuanya. Usia 3 tahun (toddlers) sudah belajar bermain dengan teman sebaya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;e. Riwayat Spiritual&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Anak sudah mengenal beberapa hal yang bersifat ritual misalnya berdoa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;f. Reaksi Hospitalisasi&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;1. Kecemasan akan perpisahan : kehilangan interaksi dari keluarga dan lingkungan yang dikenal, perasaan tidak aman, cemas dan sedih&lt;br/&gt;2. Perubahan pola kegiatan rutin&lt;br/&gt;3. Terbatasnya kemampuan untuk berkomunikasi&lt;br/&gt;4. Kehilangan otonomi&lt;br/&gt;5. Takut keutuhan tubuh&lt;br/&gt;6. Penurunan mobilitas seperti kesempatan untuk mempelajari dunianya dan terbatasnya kesempatan untuk melaksanakan kesenangannya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;g. Aktivitas Sehari-Hari&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;1. Kebutuhan cairan pada usia 3 tahun adalah 110-120 ml/kg/hari&lt;br/&gt;2. Output cairan :&lt;br/&gt;(a) IWL (Insensible Water Loss)&lt;br/&gt;(1) Anak : 30 cc / Kg BB / 24 jam&lt;br/&gt;(2) Suhu tubuh meningkat : 10 cc / Kg BB + 200 cc (suhu tubuh – 36,8 oC)&lt;br/&gt;(b) SWL (Sensible Water Loss) adalah hilangnya cairan yang dapat diamati, misalnya berupa kencing dan faeces. Yaitu :&lt;br/&gt;(1) Urine : 1 – 2 cc / Kg BB / 24 jam&lt;br/&gt;(2) Faeces : 100 – 200 cc / 24 jam&lt;br/&gt;3. Pada usia 3 tahun sudah diajarkan toilet training.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;h. Pemeriksaan Fisik&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;a) Tanda-tanda vital&lt;br/&gt;Suhu badan : mengalami peningkatan&lt;br/&gt;Nadi : cepat dan lemah&lt;br/&gt;Pernafasan : frekuensi nafas meningkat&lt;br/&gt;Tekanan darah : menurun&lt;br/&gt;b) Antropometri&lt;br/&gt;Pemeriksaan antropometri meliputi berat badan, Tinggi badan, Lingkaran kepala, lingkar lengan, dan lingkar perut. Pada anak dengan diare mengalami penurunan berat badan.&lt;br/&gt;c) Pernafasan&lt;br/&gt;Biasanya pernapasan agak cepat, bentuk dada normal, dan tidak ditemukan bunyi nafas tambahan.&lt;br/&gt;d) Cardiovasculer&lt;br/&gt;Biasanya tidak ditemukan adanya kelainan, denyut nadi cepat dan lemah.&lt;br/&gt;e) Pencernaan&lt;br/&gt;Ditemukan gejala mual dan muntah, mukosa bibir dan mulut kering, peristaltik usus meningkat, anoreksia, BAB lebih 3 x dengan konsistensi encer&lt;br/&gt;f) Perkemihan&lt;br/&gt;Volume diuresis menurun.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;g) Muskuloskeletal&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;Kelemahan fisik akibat output yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;h) Integumen&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;lecet pada sekitar anus, kulit teraba hangat, turgor kulit jelek&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;i) Endokrin&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;Tidak ditemukan adanya kelaianan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;J) Penginderaan&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;Mata cekung, Hidung, telinga tidak ada kelainan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;k) Reproduksi&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;Tidak mengalami kelainan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;l) Neorologis&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;Dapat terjadi penurunan kesadaran.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;2. Pemeriksaan Tingkat Perkembangan&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;1) Motorik Kasar&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;Sudah bisa naik/turun tangga tanpa dibantu, mamakai baju dengan bantuan, mulai bisa bersepeda roda tiga.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;2) Motorik Halus&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;Menggambat lingkaran, mencuci tangan sendiri dan menggosok gigi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;3) Personal Sosial&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Sudah belajar bermain dengan teman sebayanya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;4. Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;a. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta intake terbatas (mual).&lt;br/&gt;b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d gangguan absorbsi nutrien dan peningkatan peristaltik usus.&lt;br/&gt;c. Nyeri (akut) b.d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.&lt;br/&gt;d. Kecemasan keluarga b.d perubahan status kesehatan anaknya&lt;br/&gt;e. Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b.d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif.&lt;br/&gt;f. Kecemasan anak b.d perpisahan dengan orang tua, lingkungan yang baru&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;5. Rencana Keperawatan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Dx.1  Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta intake terbatas (mual)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Tujuan   :    Kebutuhan cairan akan terpenuhi dengan kriteria tidak ada tanda-tanda dehidrasi    &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;table border='0' style='border-collapse:collapse'&gt;&lt;colgroup&gt;&lt;col style='width:246px'/&gt;&lt;col style='width:277px'/&gt;&lt;/colgroup&gt;&lt;tbody valign='top'&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  outset 0.75pt; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Intervensi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  outset 0.75pt; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Rasional&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Berikan cairan oral dan parenteral sesuai dengan program rehidrasiPantau intake dan output.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Sebagai upaya rehidrasi untuk mengganti cairan yang keluar bersama feses.Memberikan informasi status keseimbangan cairan untuk menetapkan kebutuhan cairan pengganti.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt; K&lt;/strong&gt;aji tanda vital, tanda/gejala dehidrasi dan hasil pemeriksaan laboratorium&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Menilai status hidrasi, elektrolit dan keseimbangan asam basa&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Kolaborasi pelaksanaan terapi definitif&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Pemberian obat-obatan secara kausal penting setelah penyebab diare diketahui&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Dx.2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien dan peningkatan peristaltik usus.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Tujuan   :  Kebutuhan nutrisi  terpenuhi dengan kriteria terjadi peningkatan bera badan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;table border='0' style='border-collapse:collapse'&gt;&lt;colgroup&gt;&lt;col style='width:246px'/&gt;&lt;col style='width:277px'/&gt;&lt;/colgroup&gt;&lt;tbody valign='top'&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  outset 0.75pt; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Intervensi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  outset 0.75pt; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Rasional&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Pertahankan tirah baring dan pembatasan aktivitas selama fase akut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Menurunkan kebutuhan metabolik&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Pertahankan status puasa selama fase akut (sesuai program terapi) dan segera mulai pemberian makanan per oral setelah kondisi klien mengizinkan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Pembatasan diet per oral mungkin ditetapkan selama fase akut untuk menurunkan peristaltik sehingga terjadi kekurangan nutrisi. Pemberian makanan sesegera mungkin penting setelah keadaan klinis klien memungkinkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Bantu pelaksanaan pemberian makanan sesuai dengan program diet&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Memenuhi kebutuhan nutrisi klien&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Kolaborasi pemberian nutrisi parenteral sesuai indikasi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Mengistirahatkan kerja gastrointestinal dan mengatasi/mencegah kekurangan nutrisi lebih lanjut&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Dx.3  : Nyeri (akut) b/d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;				&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Tujuan :     Nyeri berkurang dengan kriteria tidak terdapat lecet pada perirektal&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;table border='0' style='border-collapse:collapse'&gt;&lt;colgroup&gt;&lt;col style='width:246px'/&gt;&lt;col style='width:277px'/&gt;&lt;/colgroup&gt;&lt;tbody valign='top'&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  outset 0.75pt; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Intervensi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  outset 0.75pt; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Rasional&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Atur posisi yang nyaman bagi klien, misalnya dengan lutut fleksi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Menurunkan tegangan permukaan abdomen dan mengurangi nyeri&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Lakukan aktivitas pengalihan untuk memberikan rasa nyaman seperti masase punggung dan kompres hangat abdomen&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Meningkatkan relaksasi, mengalihkan fokus perhatian kliendan meningkatkan kemampuan koping&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Bersihkan area anorektal dengan sabun ringan dan airsetelah defekasi dan berikan perawatan kulit&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Melindungi kulit dari keasaman feses, mencegah iritasi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Kolaborasi pemberian obat analgetika dan atau antikolinergik sesuai indikasi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Analgetik sebagai agen anti nyeri dan antikolinergik untuk menurunkan spasme traktus GI dapat diberikan sesuai indikasi klinis&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Kaji keluhan nyeri dengan &lt;em&gt;Visual Analog Scale &lt;/em&gt;(skala 1-5), perubahan karakteristik nyeri, petunjuk verbal dan non verbal&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Mengevaluasi perkembangan nyeri untuk menetapkan intervensi selanjutnya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Dx.4 : Kecemasan keluarga b/d perubahan status kesehatan anaknya.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;				&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Tujuan   :  Keluarga mengungkapkan kecemasan berkurang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;table border='0' style='border-collapse:collapse'&gt;&lt;colgroup&gt;&lt;col style='width:246px'/&gt;&lt;col style='width:277px'/&gt;&lt;/colgroup&gt;&lt;tbody valign='top'&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  outset 0.75pt; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Intervensi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  outset 0.75pt; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Rasional&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Dorong keluarga klien untuk membicarakan kecemasan dan berikan umpan balik tentang mekanisme koping yang tepat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Membantu mengidentifikasi penyebab kecemasan dan alternatif pemecahan masalah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah yang umum terjadi pada orang tua klien yang anaknya mengalami masalah yang sama&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Membantu menurunkan stres dengan mengetahui bahwa klien bukan satu-satunya orang yang mengalami masalah yang demikian&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Ciptakan lingkungan yang tenang, tunjukkan sikap ramah tamah dan tulus dalam membantu klien.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Mengurangi rangsang eksternal yang dapat memicu peningkatan kecemasan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Dx.5  : Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Tujuan   :    Keluarga akan mengerti tentang penyakit dan pengobatan anaknya, serta mampu mendemonstrasikan perawatan anak di rumah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;table border='0' style='border-collapse:collapse'&gt;&lt;colgroup&gt;&lt;col style='width:246px'/&gt;&lt;col style='width:277px'/&gt;&lt;/colgroup&gt;&lt;tbody valign='top'&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  outset 0.75pt; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Intervensi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  outset 0.75pt; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Rasional&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Kaji kesiapan keluarga klien mengikuti pembelajaran, termasuk pengetahuan tentang penyakit dan perawatan anaknya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental serta latar belakang pengetahuan sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Jelaskan tentang proses penyakit anaknya, penyebab dan akibatnya terhadap gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari aktivitas sehari-hari.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Pemahaman tentang masalah ini penting untuk meningkatkan partisipasi keluarga klien dan keluarga dalam proses perawatan klien&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Jelaskan tentang tujuan pemberian obat, dosis, frekuensi dan cara pemberian serta efek samping yang mungkin timbul&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Meningkatkan pemahaman dan partisipasi keluarga klien dalam pengobatan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Jelaskan dan tunjukkan cara perawatan perineal setelah defekasi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Meningkatkan kemandirian dan kontrol keluarga klien terhadap kebutuhan perawatan diri anaknya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Dx. 6 : Kecemasan anak b.d Perpisahan dengan orang tua, lingkugan yang baru&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Tujuan     :    Kecemasan anak berkurang dengan kriteria memperlihatkan tanda-tanda kenyamanan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;table border='0' style='border-collapse:collapse'&gt;&lt;colgroup&gt;&lt;col style='width:246px'/&gt;&lt;col style='width:277px'/&gt;&lt;/colgroup&gt;&lt;tbody valign='top'&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  outset 0.75pt; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Intervensi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  outset 0.75pt; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Rasional&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Anjurkan pada keluarga untuk selalu mengunjungi klien dan berpartisipasi dalam perawatn yang dilakukan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Mencegah stres yang berhubungan dengan perpisahan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Berikan sentuhan dan berbicara pada anak sesering mungkin&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Memberikan rasa nyaman dan mengurangi stress&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  outset 0.75pt; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt' vAlign='middle'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Lakukan stimulasi sensory atau terapi bermain sesuai dengan ingkat perkembangan klien&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  outset 0.75pt; border-right:  outset 0.75pt'&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan secara optimun&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;6. Implementasi&lt;br/&gt;Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana tindakan yang telah direncanakan sebelumnya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;7. Evaluasi&lt;br/&gt;Evaluasi merupakan pengukuran keberhasilan sejauhmana tujuan tersebut tercapai. Bila ada yang belum tercapai maka dilakukan pengkajian ulang, kemudian disusun rencana, kemudian dilaksanakan dalam implementasi keperawatan lalau dievaluasi, bila dalam evaluasi belum teratasi maka dilakukan langkah awal lagi dan seterusnya sampai tujuan tercapai.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Reference&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;				&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;A.H. Markum, 1991, Buku Ajar Kesehatan Anak, jilid I, Penerbit FKUI&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Ngastiyah, 997, Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Price &amp;amp; Wilson 1995, Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Buku 1, Ed.4, EGC, Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Soetjiningsih 1998, Tumbuh Kembang Anak, EGC, Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Soeparman &amp;amp; Waspadji, 1990, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Ed. Ke-3, BP FKUI, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Suharyono, 1986, Diare Akut, lembaga Penerbit Fakultas Kedokteran UI, Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Whaley &amp;amp; Wong, 1995, Nursing Care of Infants and Children, fifth edition, Clarinda company, USA.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;SUMBER : Klik  &lt;a href='http://iwansaing.wordpress.com/2007/12/10/asuhan-keperawatan-pada-klien-anak-dengan-diare/'&gt;ini&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-7355333372647060138?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/7355333372647060138/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/laporan-pendahuluan-diare.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/7355333372647060138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/7355333372647060138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/laporan-pendahuluan-diare.html' title='LAPORAN PENDAHULUAN DIARE'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-308115651846974690</id><published>2010-01-30T22:49:00.001+07:00</published><updated>2010-02-11T21:14:42.932+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keperawatan'/><title type='text'>Konsep Dasar Skizofrenia Paranoid dan Waham Kebesaran</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;1.    Pengertian &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang kronik, pada orang yang mengalaminya tidak dapat menilai realitas dengan baik dan pemahaman diri buruk (Kaplan dan Sadock, 1997). Gejalanya dibagi menjadi 2 kelompok yaitu primer yang meliputi perubahan proses pikir, gangguan emosi, kemauan, dan otisme. Sedangkan gejala sekunder meliputi waham, halusinasi, gejala katatonik. Gejala sekunder merupakan manifestasi untuk menyesuaikan diri terhadap gangguan primer. Skizofrenia dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu simplex, hebefrenik, katatonik, paranoid, tak terinci, residual (Maslim, 2000). Dari beberapa jenis skizofrenia diatas, terdapat skizofrenia paranoid. Jenis ini ditandai oleh keasyikan (preokupasi) pada satu atau lebih waham atau halusinasi, dan tidak ada perilaku pada tipe terdisorganisasi atau katatonik. Secara klasik skizofrenia tipe paranoid ditandai terutama oleh adanya waham kebesaran atau waham kejar, jalannya penyakit agak konstan (Kaplan dan Sadock, 1998). Pikiran melayang (Flight of ideas) lebih sering terdapat pada mania, pada skizofrenia lebih sering inkoherensi (Maramis, 1998). Kriteria waktunya berdasarkan pada teori Townsend (1998), yang mengatakan kondisi klien jiwa sulit diramalkan, karena setiap saat dapat berubah.&lt;br/&gt;Waham menurut Maramis (1998), Keliat (1998) dan Ramdi (2000) menyatakan bahwa itu merupakan suatu keyakinan tentang isi pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang kebudayaannya, keyakinan tersebut dipertahankan secara kokoh dan tidak dapat diubah-ubah. Mayer-Gross dalam Maramis (1998) membagi waham dalam 2 kelompok, yaitu primer dan sekunder. Waham primer timbul secara tidak logis, tanpa penyebab dari luar. Sedangkan waham sekunder biasanya logis kedengarannya, dapat diikuti dan merupakan cara untuk menerangkan gejala-gejala skizofrenia lain, waham dinamakan menurut isinya, salah satunya adalah waham kebesaran&lt;br/&gt;Waham kebesaran adalah waham peningkatan kemampuan, kekuatan, pengetahuan, identitas, atau hubungan khusus dengan dewa atau orang terkenal (Kaplan dan Sadock, 1997). Pendapat ini juga didukung oleh Kusuma (1997) yang menyatakan bahwa derajat waham kebesaran dapat terentang pembesar- besaran yang ringan sampai karakteristik sesungguhnya dari waham kebesaran psikotik. Isi waham umpamanya pasien telah melakukan penemuan yang penting atau memiliki bakat yang tidak diketahui atau kesehatan yang sangat baik.&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;2.    Etiologi&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;a.    Predeposisi&lt;br/&gt;1)    Biologi&lt;br/&gt;Skizofrenia paranoid disebabkan kelainan susunan saraf pusat, yaitu pada diensefalon/ oleh perubahan-perubahan post mortem/ merupakan artefak pada waktu membuat sediaan. Gangguan endokrin juga berpengaruh, pada teori ini dihubungkan dengan timbulnya skizofrenia pada waktu pubertas, waktu kehamilan atau puerperium dan waktu klimaterium. Begitu juga dengan gangguan metabolisme, hal ini dikarenakan pada orang yang mengalami skizofrenia tampak pucat dan tidak sehat, ujung ekstremitas sianosis, nafsu makan berkurang dan berat badan menurun. Teori ini didukung oleh Adolf Meyer yang menyatakan bahwa suatu konstitusi yang inferior/ penyakit badaniah dapat mempengaruhi timbulnya skizofrenia paranoid (Maramis, 1998).&lt;br/&gt;Menurut Schebel (1991) dalam Townsend (1998) juga mengatakan bahwa skizofrenia merupakan kecacatan sejak lahir, terjadi kekacauan dari sel-sel piramidal dalam otak, dimana sel-sel otak tersusun rapi pada orang normal.&lt;br/&gt;Gangguan neurologis yang mempengaruhi sistem limbik dan ganglia basalis sering berhubungan dengan kejadian waham. Waham oleh karena gangguan neurologis yang tidak disertai dengan gangguan kecerdasan, cenderung memiliki waham yang kompleks. Sedangkan waham yang disertai dengan gangguan kecerdasan sering kali berupa waham sederhana (kaplan dan Sadock, 1997).&lt;br/&gt;2)    Psikologis&lt;br/&gt;Menurut Carpenito (1998), klien dengan waham memproyeksikan perasaan dasarnya dengan mencurigai. Pada klien dengan waham kebesaran terdapat perasaan yang tidak adekuat serta tidak berharga. Pertama kali mengingkari perasaannya sendiri, kemudian memproyeksikan perasaannya kepada lingkungan dan akhirnya harus menjelaskan kepada orang lain. Apa yang seseorang pikirkan tentang suatu kejadian mempengaruhi perasaan dan perilakunya. Beberapa perubahan dalam berpikir, perasaan atau perilaku akan mengakibatkan perubahan yang lain. Dampak dari perubahan itu salah satunya adalah halusinasi,dapat muncul dalam pikiran seseorang karena secara nyata mendengar, melihat, merasa, atau mengecap fenomena itu, sesuai dengan waktu, kepercayaan yang irrasional menghasilkan ketidakpuasan yang ironis, menjadi karakter yang "Wajib" dan "Harus.&lt;br/&gt;3)    Genetik&lt;br/&gt;Faktor keturunan juga menentukan timbulnya skizofrenia. Hal ini dibuktikan dengan penelitian pada keluarga-keluarga yang menderita skizofrenia dan terutama anak kembar satu telur. Angka kesakitan bagi saudara tiri sebesar 0,9 – 1,8%, saudara kandung 7 – 15%, anak dengan salah satu orang tua yang mengalami skizofrenia 7 – 16%, bila kedua orang tua mengalami skizofrenia 40 – 68%, kembar dua telur (heterozygot) 2-15%, kembar satu telur (monozygot) 61-86% (Maramis, 1998).&lt;br/&gt;b.    Presipitasi&lt;br/&gt;Faktor ini dapat bersumber dari internal maupun eksternal.&lt;br/&gt;Stresor sosiokultural&lt;br/&gt;Stres yang menumpuk dapat menunjang terhadap awitan skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya (Stuart, 1998)&lt;br/&gt;Stresor psikologis&lt;br/&gt;Intensitas kecemasan yang tinggi, perasaan bersalah dan berdosa, penghukuman diri, rasa tidak mampu, fantasi yang tak terkendali, serta dambaan-dambaan atau harapan yang tidak kunjung sampai, merupakan sumber dari waham. Waham dapat berkembang jika terjadi nafsu kemurkaan yang hebat, hinaan dan sakit hati yang mendalam (Kartono, 1981).&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;3.    Proses terjadinya waham&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Waham adalah anggapan tentang orang yang hypersensitif, dan mekanisme ego spesifik, reaksi formasi dan penyangkalan. Klien dengan waham, menggunakan mekanisme pertahanan reaksi formasi, penyangkalan dan proyeksi. Pada reaksi formasi, digunakan sebagai pertahanan melawan agresi, kebutuhan, ketergantungan dan perasaan cinta. Kebutuhan akan ketergantungan ditransformasikan menjadi kemandirian yang kokoh. Penyangkalan, digunakan untuk menghindari kesadaran akan kenyataan yang menyakitkan. Proyeksi digunakan untuk melindungi diri dari mengenal impuls yang tidak dapat diterima didalam dirinya sendiri. Hypersensitifitas dan perasaan inferioritas, telah dihipotesiskan menyebabkan reaksi formasi dan proyeksi, waham kebesaran dan superioritas. Waham juga dapat muncul dari hasil pengembangan pikiran rahasia yang menggunakan fantasi sebagai cara untuk meningkatkan harga diri mereka yang terluka. Waham kebesaran merupakan regresi perasaan maha kuasa dari anak-anak, dimana perasaan akan kekuatan yang tidak dapat disangkal dan dihilangkan (Kaplan dan Sadock, 1997).&lt;br/&gt;Cameron, dalam Kaplan dan Sadock, (1997) menggambarkan 7 situasi yang memungkinkan perkembangan waham, yaitu : peningkatan harapan, untuk mendapat terapi sadistik, situasi yang meningkatkan ketidakpercayaan dan kecurigaan, isolasi sosial, situasi yang meningkatkan kecemburuan, situasi yang memungkinkan menurunnya harga diri (harga diri rendah), situasi yang menyebabkan seseorang melihat kecacatan dirinya pada orang lain, situasi yang meningkatkan kemungkinan untuk perenungan tentang arti dan motivasi terhadap sesuatu.&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;4.    Gejala- gejala waham &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Jenis skizofrenia paranoid mempunyai gejala yang khas yaitu waham primer, disertai dengan waham-waham sekunder dan halusinasi (Maramis, 1998). Menurut Kaplan dan Sadock (1997), kondisi klien yang mengalami waham adalah:&lt;br/&gt;a. Status mental&lt;br/&gt;1)    Pada pemeriksaan status mental, menunjukan hasil yang sangat normal, kecuali bila ada sistem waham abnormal yang jelas.&lt;br/&gt;2)    Mood klien konsisten dengan isi wahamnya.&lt;br/&gt;3)    Pada waham curiga, didapatkan perilaku pencuriga.&lt;br/&gt;4)    Pada waham kebesaran, ditemukan pembicaraan tentang peningkatan identitas diri, mempunyai hubungan khusus dengan orang yang terkenal.&lt;br/&gt;5)    Adapun sistem wahamnya, pemeriksa kemungkinan merasakan adanya kualitas depresi ringan.&lt;br/&gt;6)    Klien dengan waham, tidak memiliki halusinasi yang menonjol/ menetap, kecuali pada klien dengan waham raba atau cium. Pada beberapa klien kemungkinan ditemukan halusinasi dengar.&lt;br/&gt;b. Sensori dan kognisi&lt;br/&gt;1)    Pada waham, tidak ditemukan kelainan dalam orientasi, kecuali yang memiliki waham spesifik tentang waktu, tempat dan situasi.&lt;br/&gt;2)    Daya ingat dan proses kognitif klien adalah intak (utuh).&lt;br/&gt;3)    Klien waham hampir selalu memiliki insight (daya titik diri) yang jelek.&lt;br/&gt;4)    Klien dapat dipercaya informasinya, kecuali jika membahayakan dirinya. Keputusan terbaik bagi pemeriksa dalam menentukan kondisi klien adalah dengan menilai perilaku masa lalu, masa sekarang dan yang direncanakan.&lt;br/&gt;5.    Tipe-tipe waham&lt;br/&gt;a. Menurut kaplan dan sadock (1997), tipe-tipe waham antara lain:&lt;br/&gt;1)    Tipe Eritomatik: klien dicintai mati-matian oleh orang lain, biasanya orang yang sangat terkenal, seperti artis, pejabat, atau atasanya. Klien biasanya hidup terisolasi, menarik diri, hidup sendirian dan bekerja dalam pekerjaan yang sederhana.&lt;br/&gt;2)    Tipe kebesaran (magalomania):yaitu keyakinan bahwa seseorang memiliki bakat, kemampuan, wawasan yang luar biasa, tetapi tidak dapat diketahui.&lt;br/&gt;3)    Waham cemburu, yaitu misalnya cemburu terhadap pasanganya. Tipe ini jarang ditemukan (0,2%) dari pasien psikiatrik. Onset sering mendadak, dan hilang setelah perpisahan/ kematian pasangan. Tipe ini menyebapkan penyiksaan hebat dan fisik yang bermakna terhadap pasangan, dan kemungkinan dapat membunuh pasangan, oleh karena delusinya.&lt;br/&gt;4)    Waham kejar : keyakinan merasa dirinya dikejar-kejar, diikuti oleh orang lain. Tipe ini paling sering ditemukan pada gangguan jiwa. Dapat berbentuk sederhana, ataupun terperinci, dan biasanya berupa tema yang berhubungan difitnah secara kejam, diusik, dihalang-halangi, diracuni, atau dihalangi dalam mengejar tujuan jangka panjang.&lt;br/&gt;5)    Waham tipe somatik atau psikosis hipokondrial monosimptomatik. Perbedaan dengan hipokondrial adalah pada derajat keyakinan yang dimiliki klien. Menetapnya waham somatik yang tidak kacau tanpa adanya gejala psikotik lainya menyatakan gangguan delosional/ waham tipe somatik.&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;6.    Tahap-tahap halusinasi&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Menurut Townsend (1998) tahap dari halusinasi antara lain :&lt;br/&gt;Comforting (secara umum halusinasi bersifat menyenangkan)&lt;br/&gt;Karakteristik : orang yang berhalusinasi mengalami keadaan emosi seperti ansietas, kesepian, merasa bersalah, dan takut serta mencoba untuk memusatkan pada penenangan pikiran untuk mengurangi ansietas; individu mengetahui bahwa pikiran yang dialaminya tersebut dapat dikendalikan jika ansietasnya dapat diatasi (nonpsikotik).&lt;br/&gt;Perilaku pasien yang teramati : menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara,gerakan mata yang cepat, respon verbal yang lamban, diam dan dipenuhi oleh sesuatu yang mengasyikkan.&lt;br/&gt;Condemning (secara umum halusinasi menjijikan)&lt;br/&gt;Karakteristik : pengalaman sensori bersifat menjijikan dan menakutkan, orang yang berhalusinasi mulai merasa kehilangan kendali dan berusaha untuk menjauhkan dirinya dari sumber yang dipersepsikan, individu mungkin merasa malu karena pengalaman sensorinya dan menarik diri dari orang lain (nonpsikotik).&lt;br/&gt;Perilaku pasien yang teramati : peningkatan saraf otonom yang menunjukan ansietas misalnya peningkatan nadi, pernapasan dan tekanan darah, penyempitan kemampuan konsentrasi, dipenuhi dengan pengalaman sensori dan mungkin kehilangan kemampuan untuk membedakan halusinasi dengan realitas.&lt;br/&gt;Controling (pengalaman sensori menjadi penguasa)&lt;br/&gt;Karakteristik : orang yang berhalusinasi menyerah untuk melawan pengalaman halusinasinya dan membiarkan halusinasi menguasai dirinya, isi halusinasi dapat berupa permohonan, individu mungkin mengalami kesepian jika pengalaman sensori tersebut berakhir (psikotik).&lt;br/&gt;Perilaku pasien yang teramati : lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh halusinasinya daripada menolaknya, kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain,rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik, gejala fisik dan ansietas berat seperti berkeringat, tremor, ketidakmampuan mengikuti petunjuk.&lt;br/&gt;Conquering (secara umum halusinasi menjadi lebih rumit dan saling terkait dengan jumlah pasien yang masuk adalah delusi).&lt;br/&gt;Karakteristik : pengalaman sensori mungkin menakutkan jika individu tidak mengikuti perintah, halusinasi bisa berlangsung dalam beberapa jam atau hari apabila tidak ada intervensi terapeutik (psikotik).&lt;br/&gt;Perilaku pasien yang teramati : perilaku menyerang atau teror seperti panik, sangat potensial melakukan bunuh diri atau membunuh orang lain, kegiatan fisik merefleksikan isi halusinasi seperti amuk, agitasi, menarik diri, atau kataton, tidak mampu berespon terhadap lebih dari satu orang.&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;7.    Penatalaksanaan&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;a.    Farmakoterapi&lt;br/&gt;Tatalaksana pengobatan skizofrenia paranoid mengacu pada penatalaksanaan skizofrenia secara umum menurut Townsend (1998), Kaplan dan Sadock (1998) antara lain :&lt;br/&gt;1)    Anti Psikotik&lt;br/&gt;Jenis- jenis obat antipsikotik antara lain :&lt;br/&gt;a)    Chlorpromazine&lt;br/&gt;Untuk mengatasi psikosa, premidikasi dalam anestesi, dan mengurangi gejala emesis. Untuk gangguan jiwa, dosis awal : 3×25 mg, kemudian dapat ditingkatkan supaya optimal, dengan dosis tertinggi : 1000 mg/hari secara oral.&lt;br/&gt;b)    Trifluoperazine&lt;br/&gt;Untuk terapi gangguan jiwa organik, dan gangguan psikotik menarik diri. Dosis awal : 3×1 mg, dan bertahap dinaikkan sampai 50 mg/hari.&lt;br/&gt;c)    Haloperidol&lt;br/&gt;Untuk keadaan ansietas, ketegangan, psikosomatik, psikosis,dan mania. Dosis awal : 3×0,5 mg sampai 3 mg.&lt;br/&gt;Obat antipsikotik merupakan obat terpilih yang mengatasi gangguan waham. Pada kondisi gawat darurat, klien yang teragitasi parah, harus diberikan obat antipsikotik secara intramuskular. Sedangkan jika klien gagal berespon dengan obat pada dosis yang cukup dalam waktu 6 minggu, anti psikotik dari kelas lain harus diberikan. Penyebab kegagalan pengobatan yang paling sering adalah ketidakpatuhan klien minum obat. Kondisi ini harus diperhitungkan oleh dokter dan perawat. Sedangkan terapi yang berhasil dapat ditandai adanya suatu penyesuaian sosial, dan bukan hilangnya waham pada klien.&lt;br/&gt;2)    Anti parkinson&lt;br/&gt;Triheksipenydil (Artane)&lt;br/&gt;Untuk semua bentuk parkinsonisme, dan untuk menghilangkan reaksi ekstrapiramidal akibat obat. Dosis yang digunakan : 1-15 mg/hari&lt;br/&gt;Difehidamin&lt;br/&gt;Dosis yang diberikan : 10- 400 mg/hari&lt;br/&gt;3)    Anti Depresan&lt;br/&gt;Amitriptylin&lt;br/&gt;Untuk gejala depresi, depresi oleh karena ansietas, dan keluhan somatik. Dosis : 75-300 mg/hari.&lt;br/&gt;Imipramin&lt;br/&gt;Untuk depresi dengan hambatan psikomotorik, dan depresi neurotik. Dosis awal : 25 mg/hari, dosis pemeliharaan : 50-75 mg/hari.&lt;br/&gt;4)    Anti Ansietas&lt;br/&gt;Anti ansietas digunakan untuk mengotrol ansietas, kelainan somatroform, kelainan disosiatif, kelainan kejang, dan untuk meringankan sementara gejala-gejala insomnia dan ansietas. Obat- obat yang termasuk anti ansietas antara lain:&lt;br/&gt;Fenobarbital         : 16-320 mg/hari&lt;br/&gt;Meprobamat        : 200-2400 mg/hari&lt;br/&gt;Klordiazepoksida    : 15-100 mg/hari&lt;br/&gt;b.    Psikoterapi&lt;br/&gt;Elemen penting dalam psikoterapi adalah menegakkan hubungan saling percaya. Terapi individu lebih efektif dari pada terapi kelompok. Terapis tidak boleh mendukung ataupun menentang waham, dan tidak boleh terus-menerus membicarakan tentang wahamnya. Terapis harus tepat waktu, jujur dan membuat perjanjian seteratur mungkin. Tujuan yang dikembangkan adalah hubungan yang kuat dan saling percaya dengan klien. Kepuasan yang berlebihan dapat meningkatkan kecurigaan dan permusuhan klien, karena disadari bahwa tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi. Terapis perlu menyatakan pada klien bahwa keasyikan dengan wahamnya akan menegangkan diri mereka sendiri dan mengganggu kehidupan konstruktif. Bila klien mulai ragu-ragu dengan wahamnya, terapis dapat meningkatkan tes realitas.&lt;br/&gt;Sehingga terapis perlu bersikap empati terhadap pengalaman internal klien, dan harus mampu menampung semua ungkapan perasaan klien, misalnya dengan berkata : "Anda pasti merasa sangat lelah, mengingat apa yang anda lalui, "tanpa menyetujui setiap mis persepsi wahamnya, sehingga menghilangnya ketegangan klien. Dalam hal ini tujuannya adalah membantu klien memiliki keraguan terhadap persepsinya. Saat klien menjadi kurang kaku, perasaan kelemahan dan inferioritasnya yang menyertai depresi, dapat timbul. Pada saat klien membiarkan perasaan kelemahan memasuki terapi, suatu hubungan terapeutik positif telah ditegakkan dan aktifitas terpeutik dapat dilakukan.&lt;br/&gt;c.    Terapi Keluarga&lt;br/&gt;Pemberian terapi perlu menemui atau mendapatkan keluarga klien, sebagai sekutu dalam proses pengobatan. Keluarga akan memperoleh manfaat dalam membantu ahli terapi dan membantu perawatan klien.&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;8.    Diagnosa Medis&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;a.    Penentuannya mengikuti diagnosa multiaksila yang terdiri dari 5 aksis&lt;br/&gt;Aksis I    : gangguan klinis&lt;br/&gt;Aksis II    : gangguan kepribadian&lt;br/&gt;Aksis III    : kondisi medik umum&lt;br/&gt;Aksis IV    : Masalah Psikososial dan lingkungan&lt;br/&gt;Aksis V    : penilaian peran dan fungsi 1 tahun terakhir&lt;br/&gt;b.    Tujuan dari diagnosa multiaksila&lt;br/&gt;Mencakup informasi yang komprehensif (gangguan jiwa, kondisi medik umum, masalah psikososial, dan lingkungan, taraf fungsi secara global), sehingga dapat membantu dalam&lt;br/&gt;a)    Perencanaan terapi&lt;br/&gt;b)    Meramalkan "Outcame" atau prognosis&lt;br/&gt;Format yang mudah dan sistematik, sehingga dapat membantu dalam :&lt;br/&gt;Menata dan mengkomunikasikan informasi klinis&lt;br/&gt;Menangkap kompleksitas situasi klinis&lt;br/&gt;Menggambarkan heterogenitas individual dengan diagnosa klinis yang sama.&lt;br/&gt;Memacu penggunaan "Model Bio-Psiko-Sosial"dalam klinis, pendidikan dan penelitian (PPDGJ-III, 2002)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber: &lt;a href='http://masdanang.co.cc/?p=27'&gt;ini&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-308115651846974690?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/308115651846974690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/01/konsep-dasar-skizofrenia-paranoid-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/308115651846974690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/308115651846974690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/01/konsep-dasar-skizofrenia-paranoid-dan.html' title='Konsep Dasar Skizofrenia Paranoid dan Waham Kebesaran'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-7063049181141284199</id><published>2010-01-30T21:03:00.001+07:00</published><updated>2010-02-11T21:14:42.932+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keperawatan'/><title type='text'>Abraham Maslow</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Dikalangan profesi keperawatan nama Abraham Maslow sungguh sangat tidak asing lagi. Tetapi siapakah sebenarnya Abraham Maslow?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Abraham Maslow adalah seorang psikolog beraliran humanistik. Ia melahirkan sebuah hirarki yang menjabarkan kebutuhan dasar manusia yang kemudian ia bagi menjadi lima tingkatan, The Hierarchy of Human Needs. Ia dilahirkan di Brooklyn pada 01 April 1908 sebagai anak pertama dari tujuh bersaudara dan dibesarkan oleh kedua orangtuanya yang merupakan imigran Yahudi dari Rusia. Sebagai anak imigran yang berasal dari keluarga Yahudi, ia tidak mengalami indahnya masa kecil ataupun bermain dengan teman sebayanya disekolah. Ia pernah berkata "Pada saat itu, saya hanyalah anak Yahudi kecil yang berada dilingkungan bukan Yahudi, hampir sama seperti seorang anak negro yang bersekolah di sekolah orang kulit putih. Saya sangat terisolasi dan tidak bahagia. Saya tumbuh diperpustakaan dan diantara buku-buku, tanpa teman".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Mungkin itu pula sebabnya ia meninggalkan studi hukumnya di City College of New York dan beralih mempelajari psikologi. Ia mendapatkan gelar Bachelor (1930), Master (1931) dan PhD (1934) di bidang psikologi di University of Wisconsin, disini pula ia bertemu dengan Profesor Hary Harlow yang kemudian menjadi mentornya. Ketika di Universitas ini, ia melakukan penelitian tentang perilaku dominan dan seksualitas primata, kemudian penelitian tersebut ia lanjutkan di Columbia University, dimana ia bertemu dengan Alfred Adler (salah seorang pengikut awal Sigmund Freud) yang kemudian menjadi mentornya pula.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Selama 14 tahun (1937-1951) Maslow bekerja sebagai pengajar di Brooklyn College. Pada periode ini ia bertemu dengan beberapa orang intelektual Eropa yang pada saat itu berimigrasi ke Amerika Serikat, Brooklyn khususnya. Ia bertemu dengan dua orang yang ia sebut sebagai "wonderful human beings" di New York, mereka adalah Ruth Benedict yang merupakan antropolog dan Max Wertheimer seorang psikolog yang menganut aliran Gestalt. Maslow sangat mengagumi dua individu ini sehingga ia membuat catatan-catatan atas observasi yang ia lakukan terhadap perilaku dan kehidupan mereka. Catatan-catatan ini pula yang pada akhirnya menjadi landasan pemikiran baginya untuk melakukan penelitian mengenai kesehatan mental dan potensi yang dimiliki oleh manusia. Ia banyak menulis mengenai subjek tersebut, ia meminjam ide-ide dari psikolog lain namun tidak memasukannya begitu saja, ia justru memberikan banyak sekali tambahan terhadap ide-ide tersebut terutama konsep hirarki kebutuhan dasar manusia, meta needs, aktualisasi diri, dan peak experiences.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Hasil pemikiran Maslow atas observasi dan penelitian yang ia lakukan membuat dirinya semakin mantap menjadi psikolog aliran humanistik, ia bahkan menjadi pemimpin dari sekolah-sekolah psikologi aliran humanistik yang bermunculan pada tahun 1950an sampai 1960an. "Third Force", begitu ia sebut aliran humanistik, merupakan tentangan terhadap aliran behaviourisme dan psikoanalisis. Aliran ini secara eksplisit memberikan perhatian pada dimensi manusia dari psikologi dan konteks manusia dalam pengembangan teori psikologis. Maslow mempunyai pemikiran yang sangat murni dan berbeda dari psikolog-psikolog lain yang pada saat itu lebih berfokus pada abnormalitas dan penyakit. Ia mengembangkan sebuah psikologi yang berkaitan dengan potensi terbaik dan tertinggi yang dimiliki oleh manusia, hingga pada tahun 1967 ia dinobatkan sebagai "Humanist of The Year" oleh The American Humanist Association.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Abraham Maslow menjadi Profesor psikologi di Brandeis University pada tahun 1951 sampai dengan 1969. Ia kemudian menghabiskan masa pensiunnya di California dan wafat pada usia 62 tahun karena serangan jantung pada tanggal 08 Juni 1970, setahun setelah ia mengalami penyakit tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dikutip dari Blog&lt;a href='http://winddyasih.wordpress.com/2009/05/11/siapakah-abraham-maslow/'&gt; ini.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;			&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-7063049181141284199?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/7063049181141284199/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/01/abraham-maslow.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/7063049181141284199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/7063049181141284199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/01/abraham-maslow.html' title='Abraham Maslow'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-3287857694445983194</id><published>2010-01-30T20:30:00.001+07:00</published><updated>2010-02-11T21:14:42.933+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keperawatan'/><title type='text'>HALUSINASI</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;A.PENGERTIAN&lt;br/&gt;Halusinasi merupakan salah satu gejala yang sering ditemukan pada klien dengan gangguan jiwa, Halusinasi sering diidentikkan dengan Schizofrenia. Dari seluruh klien Schizofrenia 70% diantaranya mengalami halusinasi. Gangguan jiwa lain yang juga disertai dengan gejala halusinasi adalah gangguan manik depresif dan delerium.&lt;br/&gt;Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan panca indra tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang dialami suatu persepsi melalui panca indra tanpa stimulus eksteren persepsi palsu. Berbeda dengan ilusi dimana klien mengalami persepsi yang salah terhadap stimulus, salah persepsi pada halusinasi terjadi tanpa adanya timulus eksternal yang terjadi. Stimulus internal dipersepsikan sebagai sesutu yang nyata ada oleh klien.&lt;br/&gt;B.RENTANG RESPON HALUSINASI&lt;br/&gt;Halusinasi merupakan salah satu respon maladaptif individu yang berada dalam rentang respon neurobiology. Ini merupakan respon persepsi paling maladaptif. Jika klien sehat persepsinya akurat, mampu mengidentifikasi dan menginterpretasikan stimulus berdasarkan informasi yang diterima melalui panca indra ( pendengaran, penglihatan, penghidu, pengecapan, dan perabaan ), klien dengan halusinasi mempersepsikan suatu stimulus panca indra walaupun sebenarnya stimulus itu tidak ada. Diantara kedua respon tersebut adalah respon individu yang karena sesuatu hal mengalami kelainan persepsi yaitu salah mempersepsikan stimulus yang diterimanya yang disebut sebagai ilusi. Klien mengalami ilusi jika interpretasi yang dilakukannya terhadap stimulus panca indra tidak akurat sesuai stimulus yang diterima.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Rentang respon :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Respon Adaptif Respon Maladptif&lt;br/&gt;Pikiran logis Distorsi pikiran gangguan pikir/delusi&lt;br/&gt;Persepsi akurat ilusi Halusinasi&lt;br/&gt;Emosi konsisten dengan Reaksi emosi berlebihan Sulit berespon emosi&lt;br/&gt;Pengalaman atau kurang perilaku disorganisasi&lt;br/&gt;Perilaku sesuai Perilaku aneh/tidak bias isolasi sosial&lt;br/&gt;Berhubungan sosial Menarik diri&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;C.JENIS –JENIS HALUSINASI&lt;br/&gt;JENIS HALUSINASI&lt;br/&gt;KARAKTERISTIK&lt;br/&gt;Pendengaran&lt;br/&gt;70 %&lt;br/&gt;Mendengar suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien, bahkan sampai pada percakapan lengkap antara dua orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa klien disuruh untuk melakukan sesuatu kadang dapat membahayakan.&lt;br/&gt;Penglihatan 20%&lt;br/&gt;Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris,gambar kartun,bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan bias menyenangkan atau menakutkan seperti melihat monster.&lt;br/&gt;Penghidu&lt;br/&gt;Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses umumnya bau-bauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi penghidu sering akibat stroke, tumor, kejang, atau dimensia.&lt;br/&gt;Pengecapan&lt;br/&gt;Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses.&lt;br/&gt;Perabaan&lt;br/&gt;Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain.&lt;br/&gt;Cenesthetic&lt;br/&gt;Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau arteri, pencernaan makan atau pembentukan urine&lt;br/&gt;Kinisthetic&lt;br/&gt;Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;D.FASE HALUSINASI.&lt;br/&gt;Halusinasi yang dialami oleh klien biasanya berbeda intensitas dan keparahannya. Fase halusinasi terbagi empat:&lt;br/&gt;1.Fase Pertama&lt;br/&gt;Pada fase ini klien mengalami kecemasan, stress, perasaan gelisah, kesepian. Klien mungkin melamun atau memfokukan pikiran pada hal yang menyenangkan untuk menghilangkan kecemasan dan stress. Cara ini menolong untuk sementara.&lt;br/&gt;Klien masih mampu mengotrol kesadarnnya dan mengenal pikirannya, namun intensitas persepsi meningkat.&lt;br/&gt;2.Fase Kedua&lt;br/&gt;Kecemasan meningkat dan berhubungan dengan pengalaman internal dan eksternal, klien berada pada tingkat "listening" pada halusinasi.&lt;br/&gt;Pemikiran internal menjadi menonjol, gambaran suara dan sensasi halusinasi dapat berupa bisikan yang tidak jelas klien takut apabila orang lain mendengar dan klien merasa tak mampu mengontrolnya.&lt;br/&gt;Klien membuat jarak antara dirinya dan halusinasi dengan memproyeksikan seolah-olah halusinasi datang dari orang lain.&lt;br/&gt;3.Fase Ketiga&lt;br/&gt;Halusinasi lebih menonjol, menguasai dan mengontrol klien menjadi terbiasa dan tak berdaya pada halusinasinya. Halusinasi memberi kesenangan dan rasa aman sementara.&lt;br/&gt;4.Fase Keempat.&lt;br/&gt;Klien merasa terpaku dan tak berdaya melepaskan diri dari kontrol halusinasinya. Halusinasi yang sebelumnya menyenangkan berubah menjadi mengancam, memerintah dan memarahi klien tidak dapat berhubungan dengan orang lain karena terlalu sibuk dengan halusinasinya klien berada dalam dunia yang menakutkan dalam waktu singkat, beberapa jam atau selamanya. Proses ini menjadi kronik jika tidak dilakukan intervensi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;E.PENGKAJIAN KLIEN DENGAN HALUINASI&lt;br/&gt;Halusinasi merupakan salah satu gejala yang ditampakkan oleh klien yang mengalami psikotik, khususnya schizofrenia. Pengkajian klien dengan halusinasi demikian merupakan proses identifikasi data yang melekat erat dengan pengkajian respon neurobiologi lainnya seperti yang terdapat juga pada schizofrenia.&lt;br/&gt;1.Faktor Predisposisi&lt;br/&gt;Beberapa faktor predisposisi yang berkontribusi pada munculnya respon neurobiologi seperti halusinasi antara lain:&lt;br/&gt;a.Faktor Genetik&lt;br/&gt;Telah diketahui bahwa genetik schizofrenia diturunkan melalui kromoson tertentu. Namun demikian kromoson yang keberapa yang menjadi factor penentu gangguan ini sampai sekarang masih dalam tahap penelitian. Diduga letak gen schizoprenia adalah kromoson nomor enam, dengan kontribusi genetik tambahan No.4,8,5 dan 22 (Buchanan dan Carpenter,2002). Anak kembar identik memiliki kemungkinan mengalami schizofrenia sebesar 50% jika salah satunya mengalami schizofrenia, sementara jika di zygote peluangnya sebesar 15 %, seorang anak yang salah satu orang tuanya mengalami schizofrenia berpeluang 15% mengalami schizofrenia, sementara bila kedua orang tuanya schizofrenia maka peluangnya menjadi 35 %.&lt;br/&gt;b.Faktor Neurobiologi.&lt;br/&gt;Ditemukan bahwa korteks pre frontal dan korteks limbiks pada klien schizofrenia tidak pernah berkembang penuh. Ditemukan juga pada klien schizofrenia terjadi penurunan volume dan fungsi otak yang abnormal. Neurotransmitter dopamin berlebihan, tidak seimbang dengan kadar serotin.&lt;br/&gt;c.Studi neurotransmitter.&lt;br/&gt;Schizofrenia diduga juga disebabkan oleh ketidak seimbangan neurotransmitter dimana dopamin berlebihan, tidak seimbang dengan kadar serotin.&lt;br/&gt;d.Teori virus&lt;br/&gt;Paparan virus influenza pada trimester ke-3 kehamilan dapat menjadi factor predisposisi schizofrenia.&lt;br/&gt;e.Psikologis.&lt;br/&gt;Beberapa kondisi pikologis yang menjadi factor predisposisi schizofrenia antara lain anak yang di pelihara oleh ibu yang suka cemas, terlalu melindungi, dingin dan tak berperasaan, sementara ayah yang mengambil jarak dengan anaknya.&lt;br/&gt;2.Faktor presipitasi&lt;br/&gt;Faktor –faktor pencetus respon neurobiologis meliputi :&lt;br/&gt;a.Berlebihannya proses informasi pada system syaraf yang menerima dan memproses informasi di thalamus dan frontal otak.&lt;br/&gt;b.Mekanisme penghataran listrik di syaraf terganggu ( mekanisme gateing abnormal)&lt;br/&gt;c.Gejala-gejala pemicu kondisi kesehatan lingkungan, sikap dan perilaku seperti yang tercantum pada tabel dibawah ini ;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Kesehatan&lt;br/&gt;Nutrisi Kurang&lt;br/&gt;Kurang tidur&lt;br/&gt;Ketidak siembangan irama sirkardian&lt;br/&gt;Kelelahan infeksi&lt;br/&gt;Obat-obatan system syaraf pusat&lt;br/&gt;Kurangnya latihan&lt;br/&gt;Hambatan unutk menjangkau pelayanan kesehatan&lt;br/&gt;Lingkungan&lt;br/&gt;Lingkungan yang memusuhi, kritis&lt;br/&gt;Masalah di rumah tangga&lt;br/&gt;Kehilangan kebebasan hidup, pola aktivitas sehari-hari&lt;br/&gt;Kesukaran dalam berhubungan dengan orang lain&lt;br/&gt;Isoalsi social&lt;br/&gt;Kurangnya dukungan social&lt;br/&gt;Tekanan kerja ( kurang keterampilan dalam bekerja)&lt;br/&gt;Stigmasasi&lt;br/&gt;Kemiskinan&lt;br/&gt;Kurangnya alat transportasi&lt;br/&gt;Ktidak mamapuan mendapat pekerjaan&lt;br/&gt;Sikap/Perilaku&lt;br/&gt;Merasa tidak mampu ( harga diri rendah)&lt;br/&gt;Putus asa (tidak percaya diri )&lt;br/&gt;Mersa gagal ( kehilangan motivasi menggunakan keterampilan diri&lt;br/&gt;Kehilangan kendali diri (demoralisasi)&lt;br/&gt;Merasa punya kekuatan berlebihan dengan gejala tersebut.&lt;br/&gt;Merasa malang ( tidak mampu memenuhi kebutuhan spiritual )&lt;br/&gt;Bertindak tidak seperti orang lain dari segi usia maupun kebudayaan&lt;br/&gt;Rendahnya kemampuan sosialisasi&lt;br/&gt;Perilaku agresif&lt;br/&gt;Perilaku kekerasan&lt;br/&gt;Ketidak adekuatan pengobatan&lt;br/&gt;Ketidak adekuatan penanganan gejala.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;3.Mekanisme Koping.&lt;br/&gt;Mekanisme koping yang sering digunakan klien dengan halusinasi adalah:&lt;br/&gt;Register, menjadi malas beraktifitas sehari-hari.&lt;br/&gt;Proyeksi, mencoba menjelaskan gangguan persepsi dengan mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain atau sesuatu benda.&lt;br/&gt;Menarik diri, sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan stimulus internal.&lt;br/&gt;Keluarga mengingkari masalah yang dialami klien&lt;br/&gt;4.Perilaku&lt;br/&gt;Halusinasi benar-benar riil dirasakan oleh klien yang mengalaminya, seperti mimpi saat tidur. Klien mungkin tidak punya cara untuk menentukan persepsi tersebut nyata. Sama halnya seperti seseorang mendengarkan suara- suara dan tidak lagi meragukan orang yang berbicara tentang suara tersebut. Ketidakmampuannya mempersepsikan stimulus secara riil dapat menyulitkan kehidupan klien. Karenanya halusinasi harus menjadi prioritas untuk segera diatasi. Untuk memfasilitasinya klien perlu dibuat nyaman untuk menceritakan perihal haluinasinya.&lt;br/&gt;Klien yang mengalami halusinasi sering kecewa karena mendapatkan respon negatif ketika mencoba menceritakan halusinasinya kepada orang lain.Karenanya banyak klien enggan untuk menceritakan pengalaman –pengalaman aneh halusinasinya. Pengalaman halusinasi menjadi masalah untuk dibicarakan dengan orang lain. Kemampuan untuk memperbincangkan tentang halusinasi yang dialami oleh klien sangat penting untuk memastikan dan memvalidasi pengalaman halusinasi tersebut. Perawat harus memiliki ketulusan dan perhatian untuk dapat memfasilitasi percakapan tentang halusinasi.&lt;br/&gt;Perilaku klien yang mengalami halusinasi sangat tergantung pada jenis halusinasinya. Apabila perawat mengidentifikasi adanya tanda –tanda dan perilaku halusinasi maka pengkajian selanjutnya harus dilakukan tidak hanya sekedar mengetahui jenis halusinasi saja. Validasi informasi tentang halusinasi yang diperlukan meliputi :&lt;br/&gt;Isi Halusinasi.&lt;br/&gt;Ini dapat dikaji dengan menanyakan suara siapa yang didengar, apa yang dikatakan suara itu, jika halusinasi audiotorik. Apa bentuk bayangan yang dilihat oleh klien, jika halusinasi visual, bau apa yang tercium jika halusinasi penghidu, rasa apa yang dikecap jika halusinasi pengecapan,dan apa yang dirasakan dipermukaan tubuh jika halusinasi perabaan.&lt;br/&gt;Waktu dan Frekuensi.&lt;br/&gt;Ini dapat dikaji dengan menanyakan kepada klien kapan pengalaman halusinasi muncul, berapa kali sehari, seminggu, atau sebulan pengalaman halusinasi itu muncul. Informasi ini sangat penting untuk mengidentifikasi pencetus halusinasi dan menentukan bilamana klien perlu perhatian saat mengalami halusinasi.&lt;br/&gt;Situasi Pencetus Halusinasi.&lt;br/&gt;Perawat perlu mengidentifikasi situasi yang dialami sebelum halusinasi muncul. Selain itu perawat juga bias mengobservasi apa yang dialami klien menjelang munculnya halusinasi untuk memvalidasi pernyataan klien.&lt;br/&gt;Respon Klien&lt;br/&gt;Untuk menentukan sejauh mana halusinasi telah mempengaruhi klien bisa dikaji dengan apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami pengalaman halusinasi. Apakah klien masih bisa mengontrol stimulus halusinasinya atau sudah tidak berdaya terhadap halusinasinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;F.DIAGNOSA KEPERAWATAN&lt;br/&gt;Klien yang mengalmi halusinasi dapat kehilangan kontrol dirinya sehingga bias membahayakan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan Hal ini terjadi jika halusinasi sudah sampai pada fase IV, dimana klien mengalami panik dan perilakunya di kendalikan oleh isi halusinasinya. Klien benar-benar kehilangan kemampuan penilaian realitas terhadap lingkungan. Dalam situasi ini klien dapat melakukan bunuh diri ( suicide), membunuh orang lain (homocide) dan merusak lingkungan.&lt;br/&gt;Selain masalah yang diakibatkan oleh halusinasi, klien biasanya juga mengalami masalah-masalahkeperawatan yang menjadi penyebab munculnya halusinasi.Masalah itu antara lain harga diri rendah dan isolasi social (stuart dan laria,2001). Akibat harga diri rendah dan kurangnya keterampilan berhubungan social , klien menjadi menarik diri dari lingkungan. Dampak selanjutnya lebih dominan di bandingkan stimulus eksternal. Klien selanjutnya kehilangan kemampuan membedakan stimulus internal dengan stimulus eksternal. Ini memicu timbulnya halusinasi.&lt;br/&gt;Dari masalah tersebut diatas dapat disusun pohon maslah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;EFEK Resiko mencedrai diri sendiri,&lt;br/&gt;Orang lain, dan lingkungan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;C.P Perubahan persepsi sensori : Defisit perawatan diri :&lt;br/&gt;Halusinasi pendengaran Mandi/Kebersihan diri,berpakaian/berhias&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;ETIOLOGI Kerusakan interaksi sosial : Intoleransi aktifitas&lt;br/&gt;Menarik diri&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Gangguan konsep diri :&lt;br/&gt;Harga diri rendah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Dari pohon masalah diatas dapat dirumuskan diagnosa keperawatan sebagai berikut :&lt;br/&gt;1.Resiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi audiotorik.&lt;br/&gt;2.Perubahan persepsi sensorik : Audiotorik berhubungan dengan menarik diri&lt;br/&gt;3.Kerusakan interaksi sosial : Menarik diri berhubungan dengan Harga diri rendah&lt;br/&gt;4.Defisit perawatan diri: mandi/kebersihan, berpakaian/berhias berhubungan dengan intoleransi aktifitas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;G.TUJUAN ASUHAN KEPERAWATAN&lt;br/&gt;Tujuan umum :&lt;br/&gt;Klien dapat mengenal, dan mengontrol halusinasi&lt;br/&gt;Tujuan itu dapat dirinci sebagai berikut :&lt;br/&gt;1.Klien dapat membina hubungan salin percaya&lt;br/&gt;2.Klien dapat mengenal halusinasinya&lt;br/&gt;3.Klien dapat mengontrol halusinasinya.&lt;br/&gt;4.Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengontrol halusinasinya.&lt;br/&gt;5.Klien dapat memanfaatkan obat untuk mengatasi halusinasinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;H.TINDAKAN KEPERAWATAN&lt;br/&gt;Tindakan keperawatan untuk membantu klien mengatasi masalahnya di mulai dengan membina hubungan saling percaya dengan klien.&lt;br/&gt;Setelah hubungan saling percaya terbina , intervensi keperawatan selanjutnya adalah membntu klien mengenali halusinasinya.&lt;br/&gt;Setelah klien mengenal halusinasinya selanjutnya klien dilatih bagaimana cara yang biasa terbukti efektif mengatasi atau mengontrol halusinasi.&lt;br/&gt;Adapun cara yang efektif dalam memutuskan halusinasi adalah :&lt;br/&gt;1.Menghardik halusinasi.&lt;br/&gt;2.Berinteraksi dengan orang lain.&lt;br/&gt;3.Beraktivitas secara teratur dengan menyusun kegiatan harian.&lt;br/&gt;4.Memanfaatkan obat dengan baik.&lt;br/&gt;Keluarga perlu diberi penjelasan tentang bagaimana penanganan klien yang mengalami halusinasi sesuai dengan kemampuan keluarga. Hal ini penting karena keluarga adalah sebuah system dimana klien berasal dan halusinasi sebagai salah satu gejala psikosis dapat berlangsung lama (kronis) sehingga keluarga perlu mengetahu cara perawatan klien halusinasi dirumah.&lt;br/&gt;Dalam mengendalikan halusinasi diberikan psikofarmaka oleh tim medis sehingga perawat juga perlu memfasilitasi klien untuk dapat menggunakan obat secara tepat. Prinsip lima benar harus menjadi focus utama dalam pemberian obat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;I.EVALUASI&lt;br/&gt;Asuhan keperawatan klien dengan halusinasi berhasil jika :&lt;br/&gt;1.Klien menunjukkan kemampuan mandiri untuk mengontrol halusinasi&lt;br/&gt;2.Mampu melaksanakan program pengobatan berkelanjutan&lt;br/&gt;3.Keluarga mampu menjadi sebuah sistem pendukung yang efektif dalam membantu klien mengatasi masalahnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;BAB IV&lt;br/&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Pada bagian ini kelompok membahas berdasarkan teori dan aplikasi / penerapan berdasarkan beberapa referensi atau acuan yang didapatkan dilapangan sebagai pelaksanaan proses keperawatan pada klien dengan masalah utama perubahan persepsi sensori : pendengaran. Kemudian membandingkan adanya kesenjangan antara teori dan praktek, dalam ruang lingkup proses keperawatan dari pengkajian sampai evaluasi.&lt;br/&gt;A.Pengkajian :&lt;br/&gt;Pada tahap pengkajian sumber informasi didapatkan dari klien dan perawat ruangan. Data yang di dapatkan sesuai dengan tanda dan gejala pada landasan teori halusinasi kecuali pada gejala pemicu kondisi kesehatan ( nutrisi kurang, infeksi, kurang tidur).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;B.Diagnosa Keperawatan&lt;br/&gt;Masalah keperawatan yang ditemukan, pada kasus kien halusinasi pendengaran ada empat diagnosa keperawatan yaitu : Resiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi pendengaran; Perubahan persepsi sensorik : halusinasi dengar berhubungan dengan menarik diri; Kerusakan interaksi sosial : Menarik diri berhubungan dengan Harga diri rendah; dan Defisit perawatan diri: mandi/kebersihan, berpakaian/berhias berhubungan dengan intoleransi aktifitas.Sedangkan pada kasus klien kelolaan didapatkan lima diagnosa. Hal ini karena pada kasus ditemukan, masalah berduka disfungsional yang menjadi penyebab Harga Diri Rendah&lt;br/&gt;C.Rencana keperawatn yang dilakukan sesuai dengan landasan teori pada asuhan perawatan halusinasi&lt;br/&gt;D.Implementasi yang telah dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan berdasarkan diagnosa keperawatan yang ada&lt;br/&gt;E.Pada evaluasi kasus kelolaan klien mampu secara mandiri dalam mengontrol halusinasinya hal ini karena klien masih merasa sulit untuk melakukan cara baru mengatasi halusinasinya.&lt;br/&gt;Hal ini dapat dilihat pada diagnosa keperawatan ::&lt;br/&gt;1.Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi pendengaran klien mampu melakukan sampai pada TUK 5&lt;br/&gt;2.Perubahan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran berhubungan dengan Menarik diri, klien mampu melakukan sampai pada TUK 4&lt;br/&gt;3.Kerusakan interaksi sosial : Menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah, klien mampu melakukan sampai pada TUK 5&lt;br/&gt;4.Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan berduka disfungsional, klien mampu melaksanakan sampai pada TUK 3&lt;br/&gt;5.Defisit perawatan diri : Kebersihan diri berhubungan dengan kurang motivasi, klien mampu melaksanakan samapai pada TUK 4&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Artikel dikutip dari &lt;a href='http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/17/halusinasi/'&gt;sini.&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-3287857694445983194?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/3287857694445983194/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/01/halusinasi.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/3287857694445983194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/3287857694445983194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/01/halusinasi.html' title='HALUSINASI'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-5516012912665404615</id><published>2010-01-30T20:21:00.001+07:00</published><updated>2010-02-11T21:14:42.933+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keperawatan'/><title type='text'>ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Isolasi adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak ( &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Carpenito, 1998&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; )&lt;br/&gt;Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam (&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Towsend,1998&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;)&lt;br/&gt;Seseorang dengan perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran dan prestasi atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang dimanivestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain (&lt;strong&gt;&lt;em&gt;DepKes, 1998&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Perilaku menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain.&lt;strong&gt;&lt;em&gt; (Rawlins, 1993, dikutip Budi Anna Keliat).&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;				&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:18pt'&gt;&lt;strong&gt;RENTANG RESPONS SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Gangguan hubungan sosial terdiri atas :&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;				&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Isolasi Sosial&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; adalah kondisi kesepian yang diekspresikan oleh individu dan dirasakan sebagai hal yang ditimbulkan oleh orang lain dan sebagai suatu keadaan negatif yang mengancam. Dengan karakteristik : tinggal sendiri dalam ruangan, ketidakmampuan untuk berkomunikasi, menarik diri, kurangnya kontak mata. Ketidak sesuaian atau ketidakmatangan minat dan aktivitas dengan perkembangan atau terhadap usia. Preokupasi dengan pikirannya sendiri, pengulangan, tindakan yang tidak bermakna. Mengekspresikan perasaan penolakan atau kesepian yang ditimbulkan oleh orang lain. Mengalami perasaan yang berbeda dengan orang lain, merasa tidak aman ditengah orang banyak. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(Mary C. Townsend, Diagnose Kep. Psikiatri, 1998; hal 252).&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;				&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kerusakan Interaksi sosial&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; adalah suatu keadaan dimana seorang individu berpartisipasi dalam suatu kualitas yang tidak cukup atau berlebihan atau kualitas interaksi sosial yang tidak efektif, dengan karakteristik :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Menyatakan secara verbal atau menampakkan ketidaknyamanan dalam situasi-situasi sosial. Menyatakan secara verbal atau menampakkan ketidakmampuan untuk menerima atau mengkomunikasikan kepuasan rasa memiliki, perhatian, minat, atau membagi cerita. Tampak menggunakan perilaku interaksi sosial yang tidak berhasil. Disfungsi interaksi dengan rekan sebaya, keluarga atau orang lain. Penggunaan proyeksi yang berlebihan tidak menerima tanggung jawab atas perilakunya sendiri. Manipulasi verbal. Ketidakmampuan menunda kepuasan. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(Mary C. Townsend, Diagnosa Keperawatan Psikiatri, 1998; hal 226).&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;FAKTOR PREDISPOSISI DAN PRESIPITASI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;				&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Faktor predisposisi terjadinya perilaku menarik diri adalah kegagalan perkembangan yang dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya orang lain, ragu takut salah, putus asa terhadap hubungan dengan orang lain, menghindar dari orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan dan meresa tertekan.&lt;br/&gt;Sedangkan faktor presipitasi dari faktor sosio-cultural karena menurunnya stabilitas keluarga dan berpisah karena meninggal dan fakto psikologis seperti berpisah dengan orang yang terdekat atau kegagalan orang lain untuk bergantung, merasa tidak berarti dalam keluarga sehingga menyebabkan klien berespons menghindar dengan menarik diri dari lingkungan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(Stuart and Sundeen, 1995&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;).&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;TANDA DAN GEJALA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;				&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Data Subjektif&lt;em&gt;&lt;br /&gt;						&lt;/em&gt;:&lt;em&gt;&lt;br /&gt;						&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;				&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Sukar didapati jika klien menolak berkomunikasi. Beberapa data subjektif adalah menjawab pertanyaan dengan singkat, seperti kata-kata "tidak ", "iya", "tidak tahu".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Data Objektif&lt;em&gt;&lt;br /&gt;						&lt;/em&gt;:&lt;em&gt;&lt;br /&gt;						&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;				&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Observasi yang dilakukan pada klien akan ditemukan :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Menghindari orang lain (menyendiri), klien nampak memisahkan diri dari orang lain, misalnya pada saat makan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Komunikasi kurang / tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain / perawat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Tidak ada kontak mata, klien lebih sering menunduk.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Berdiam diri di kamar / tempat terpisah. Klien kurang mobilitasnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Menolak berhubungan dengan orang lain. Klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Tidak melakukan kegiatan sehari-hari. Artinya perawatan diri dan kegiatan rumah tangga sehari-hari tidak dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Posisi janin pada saat tidur.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;KARAKTERISTIK PERILAKU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;				&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;• Gangguan pola makan : tidak nafsu makan atau makan berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;• Berat badan menurun atau meningkat secara drastis.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;• Kemunduran secara fisik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;• Tidur berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;• Tinggal di tempat tidur dalam waktu yang lama.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;• Banyak tidur siang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;• Kurang bergairah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;• Tidak memperdulikan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;• Kegiatan menurun.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;• Immobilisasai.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;• Mondar-mandir (sikap mematung, melakukan gerakan berulang).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;• Keinginan seksual menurun.&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA PADA KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;I. Deskripsi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Tanggapan atau deskripsi tentang isolasi yaitu suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam (towsend, 1998).&lt;br/&gt;Seseorang dengan perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;II. Pengkajian&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa berupa faktor presipitasi, penilaian stressor , suberkoping yang dimiliki klien. Setiap melakukan pengajian ,tulis tempat klien dirawat dan tanggal dirawat isi pengkajian meliputi :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Identitas Klien&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Meliputi nama klien , umur , jenis kelamin , status perkawinan, agama, tangggal&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;MRS , informan, tangggal pengkajian, No Rumah klien dan alamat klien.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Keluhan Utama&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Keluhan biasanya berupa menyediri (menghindar dari orang lain) komunikasi kurang atau tidak ada , berdiam diri dikamar ,menolak interaksi dengan orang lain ,tidak melakukan kegiatan sehari – hari , dependen&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Faktor predisposisi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;kehilangan , perpisahan , penolakan orang tua ,harapan orang tua yang tidak realistis ,kegagalan / frustasi berulang , tekanan dari kelompok sebaya; perubahan struktur sosial.&lt;br/&gt;Terjadi trauma yang tiba tiba misalnya harus dioperasi , kecelakaan dicerai suami , putus sekolah ,PHK, perasaan malu karena sesuatu yang terjadi ( korban perkosaan , tituduh kkn, dipenjara tiba – tiba) perlakuan orang lain yang tidak menghargai klien/ perasaan negatif terhadap diri sendiri yang berlangsung lama.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;d.         Aspek fisik / biologis&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Hasil pengukuran tada vital (TD, Nadi, suhu, Pernapasan , TB, BB) dan keluhafisik yang dialami oleh klien.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;e.         Aspek Psikososial &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Genogram yang menggambarkan tiga generasi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Konsep diri&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;a)      citra tubuh :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah atau tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi atau yang akan terjadi.&lt;br/&gt;Menolak penjelasan perubahan tubuh , persepsi negatip tentang tubuh .&lt;br/&gt;Preokupasi dengan bagia tubuh yang hilang , mengungkapkan keputus asaan, mengungkapkan ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;b)      Identitas diri&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Ketidak pastian memandang diri , sukar menetapkan keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan .&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;c)      Peran&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit , proses menua , putus sekolah, PHK.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;d)      Ideal diri&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Mengungkapkan keputus asaan karena penyakitnya : mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;e)      Harga diri&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Perasaan malu terhadap diri sendiri , rasa bersalah terhadap diri sendiri , gangguan hubungan sosial , merendahkan martabat , mencederai diri, dan kurang percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Klien mempunyai gangguan / hambatan dalam melakukan hubunga social&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;dengan orang lain terdekat dalam kehidupan, kelempok yang diikuti dalam&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Keyakinan klien terhadap Tuhan dan kegiatan untuk ibadah ( spritual)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;f.        Status Mental&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Kontak mata klien kurang /tidak dapat mepertahankan kontak mata , kurang dapat        memulai pembicaraan , klien suka menyendiri dan kurang mampu berhubungan            dengan orang lain , Adanya perasaan keputusasaan dan kurang berharga dalam    hidup.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;g.       Kebutuhan persiapan pulang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;1)                    Klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;2)                   Klien mampu BAB dan BAK, menggunakan dan membersihkan WC,   membersikan dan merapikan pakaian.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;3)                    Pada observasi mandi dan cara berpakaian klien terlihat rapi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;4)                    Klien dapat melakukan istirahat dan tidur , dapat beraktivitas didalam dan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;diluar rumah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;5)                    Klien dapat menjalankan program pengobatan dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;h.       Mekanisme Koping&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Klien apabila mendapat masalah takut atau tidak mau menceritakan nya pada orang orang lain( lebih sering menggunakan koping menarik diri)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;i.        Aspek Medik&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Terapi yang diterima klien bisa berupa therapy farmakologi ECT,           Psikomotor, therapy okopasional, TAK , dan rehabilitas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;III. Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Diagnosa Keperawatan adalah identifikasi atau penilaian pola respons baik aktual maupun potensial (Stuart and Sundeen, 1995)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Masalah keperawatan yang sering muncul yang dapat disimpulkan dari pengkajian adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Isolasi sosial : menarik diri&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Gangguan konsep diri: harga diri rendah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Resiko perubahan sensori persepsi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Koping individu yang efektif sampai dengan ketergantungan pada orang lain&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Gangguan komunikasi verbal, kurang komunikasi verbal.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Intoleransi aktifitas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Kekerasan resiko tinggi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;IV. Pohon Masalah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Resiko perubahan sensori persepsi berhubungan dengan menarik diri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan tidak efektifnya koping individu : koping defensif.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Rencana Tindakan Keperawatan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;				&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Diagnosa : Resiko perubahan sensori persepsi berhubungan dengan menarik diri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tujuan umum :&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;				&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Tidak terjadi perubahan sensori persepsi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tujuan khusus&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; : klien dapat&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Membina hubungan saling percaya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Menyebutkan penyebab menarik diri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Melakukan hubungan sosial secara bertahap, klien – perawat, klien – kelompok, klien – keluarga.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Mengungkapkan perasaan setelah berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Memberdayakan sistem pendukung.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Menggunakan obat dengan tepat dan benar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Tindakan keperawatan :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;				&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;1.1       Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas pada setiap pertemuan (topik yang akan dibicarakan, tempat berbicara, waktu bicara).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;1.2       Berikan perhatian dan penghargaan : temani klien waktu tidak menjawab, katakan "saya akan duduk disamping anda, jika ingin mengatakan sesuatu saya siap mendengarkan". Jika klien menatap wajah perawat katakan "ada yang ingin anda katakan?".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;1.3       Dengarkan klien dengan empati : berikan kesempatan bicara (jangan di buru-buru), tunjukkan perawat mengikuti pembicaraan klien.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;2.1.      Bicara dengan klien penyebab tidak mau bergaul dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;2.2       Diskusikan akibat yang dirasakan dari menarik diri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;3.1.      Diskusikan keuntungan bergaul dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;3.1       Bantu klien mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki klien untuk bergaul.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;4.1       Lakukan interaksi sering dan singkat dengan klien (jika mungkin perawat yang sama).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;4.2       Motivasi / temani klien untuk berinteraksi / berkenalan dengan klien / perawat lain. beri contoh cara berkenalan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;4.3       Tingkatkan interaksi klien secara bertahap (satu klien, dua klien, satu perawat, dua perawat, dan seterusnya).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;4.4       Libatkan klien dalam terapi aktivitas kelompok, sosialisasi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;4.5       Bantu klien melakukan aktivitas hidup sehari-hari dengan interaksi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;4.6       Fasilitas hubungan klien dengan keluarga secara terapeutik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;5.1       Diskusikan dengan klien setiap selesai interaksi/kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;5.2       Beri pujian akan keberhasilan klien.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Evaluasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;				&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kriteria evaluasi :&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;				&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;1.1       Ekspresi wajah bersahabat, menunjukan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;2.1       Klien dapat dapat menyebutkan penyebab menarik diri berasal dari diri sendiri, orang lain dan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;3.1       Klien dapat menyebutkan keuntungan dan kerugian dalam berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;4.1       Klien dapat mendemonstrasikan hubungan sosial secara bertahap : K – P, K – P – K, K – P – Kel, K – P – Kelompok.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;5.1       Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain untuk diri sendiri dan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;6.1       Keluarga dapat berpartisipasi dalam merawat klien menarik diri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: center'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;				&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Townsend M. C,  (1998). &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan Psikiatri,&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Pedoman untuk Pembuatan Rencana Keperawatan , Jakarta : EGC.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Anna Budi Keliat, SKp. (2000). &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sosial Menarik Diri&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, Jakarta ; Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia..&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Rasmun, (2001). &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi Dengan Keluarga&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. &lt;em&gt;Konsep, Teori, Asuhan Keperawatan dan Analisa Proses Interaksi (API)&lt;/em&gt;. Jakarta : fajar Interpratama.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Stuart and Sundeen, "&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Buku Saku Keperawatan Kesehatan Jiwa&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;", alih bahasa Hapid AYS, Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;———–, (1998). &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Buku Standar Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Penerapan Asuhan Keperawatan pada Kasus di Rumah Sakit Ketergantungan Obat&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Direktorat Kesehatan Jiwa Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, Dep-Kes RI, Jakarta.&lt;br/&gt;&lt;a href='http://www.erfanhiyandi.blogspot.com/askep_isolasi%20sosial.html'&gt;&lt;span style='color:blue; text-decoration:underline'&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;www.erfanhiyandi.blogspot.com/askep_isolasi sosial.html&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;. (di akses 13 Mei 2009)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;				&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Artikel asli ada di &lt;a href='http://nurse87.wordpress.com/2009/06/04/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-isolasi-sosial/'&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;			&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-5516012912665404615?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/5516012912665404615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/01/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/5516012912665404615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/5516012912665404615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/01/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan.html' title='ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-4296472253966958377</id><published>2009-05-22T00:36:00.001+07:00</published><updated>2010-02-11T21:14:42.933+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keperawatan'/><title type='text'>Matikan Rokok, Sebelum Rokok Mematikan Anda!</title><content type='html'>&lt;div class="judulisiberita" style="margin: 5px 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;          &lt;div style="width: 300px; float: left; margin-right: 10px;"&gt;         &lt;div style="padding: 0px 0px 5px; width: 298px;"&gt;       &lt;div id="loadarea" style="margin-bottom: 5px; width: 298px;"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/05/06/1505011p.jpg" border="0" width="298" /&gt;     &lt;/div&gt;                   &lt;div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; text-align: right; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;a href="http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/05/12/10143014/matikan.rokok.sebelum.rokok.mematikan.anda.#" style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102); text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div id="boxtitle" style="margin-bottom: 0px; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 11px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Hal pertama yang diperlukan untuk berhenti merokok adalah niat.&lt;/div&gt;       &lt;/div&gt;                                &lt;!--- video --&gt;             &lt;div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; text-align: right; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;        &lt;div id="boxterkait" style="width: 300px; background-color: rgb(255, 255, 255); margin-bottom: 20px;"&gt;      &lt;b class="judulnolead"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;       &lt;div style="padding: 0pt;"&gt;        &lt;/div&gt;                                  &lt;/div&gt;  &lt;div class="tanggal"&gt;Mari berhenti merokok! Hasil penelitian yang dipublikasikan oleh RS Pusat Kanker Nasional Dharmais mengatakan, 90 persen kanker paru dan 30 persen kanker lainnya akan dapat dicegah dengan cara berhenti merokok.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;       &lt;p&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut juga dituliskan apa saja manfaat yang dapat kita peroleh jika berhenti merokok. Pertama, dengan tidak lagi merokok berarti kita mengurangi risiko terkena serangan jantung, kanker paru, penyakit paru kronik, obstruktif, stroke, tukak lambung, hambatan pertumbuhan janin, gangguan kehamilan dan persalinan, impoten dan infertilitas, dan osteoporosis.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penyakit tersebut siap menyerang kita karena di dalam satu batang rokok ada setidaknya 4.000 bahan kimia, 400 di antaranya beracun dan kira-kira 40 di antaranya dapat menyebabkan kanker. Ada 3 racun yang paling berbahaya, yaitu nikotin, tar dan karbon monoksida. Nikotin yang hanya butuh 10 detik untuk mencapai otak membuat kita ketagihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, bernapas dengan lebih mudah dan mempunyai stamina yang lebih baik. Ketiga&lt;em&gt;,&lt;/em&gt; menghemat pengeluaran kita dari membeli rokok. Jika dalam sehari kita menghabiskan sebungkus rokok, maka kira-kira kita akan menghemat Rp. 5.475.000 selama setahun. Jika lebih dari sebungkus, maka semakin banyak penghematan yang kita lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat&lt;em&gt;,&lt;/em&gt; menghemat biaya pengobatan dan pembayaran asuransi. Kelima,&lt;em&gt; &lt;/em&gt;mempunyai gigi yang lebih bersih, napas, baju, kamar, rumah, dan mobil yang tidak berbau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam&lt;em&gt;,&lt;/em&gt; ini yang sangat penting bahwa dengan berhenti merokok kita menyelamatkan orang-orang di sekeliling kita yang tidak merokok, terutama anak-anak dan istri kita. Karena perokok aktif hanya mengisap 25 persen asap rokok yang berasal dari ujung yang terbakar, sementara 75 persen lainnya diberikan kepada nonperokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak dengan orangtua perokok aktif berisiko menderita penyakit napas, misalnya asma, dua kali lebih besar dari anak yang orangtuanya tidak merokok. Mempersiapkan diri untuk berhenti merokok harus diawali dengan niat dan motivasi yang kuat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi, matikanlah rokok Anda, sebelum rokok mematikan Anda!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selasa, 12 Mei 2009 | 10:14 WIB&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-4296472253966958377?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/4296472253966958377/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2009/05/matikan-rokok-sebelum-rokok-mematikan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/4296472253966958377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/4296472253966958377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2009/05/matikan-rokok-sebelum-rokok-mematikan.html' title='Matikan Rokok, Sebelum Rokok Mematikan Anda!'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-8611543769706735133</id><published>2009-05-22T00:23:00.001+07:00</published><updated>2010-02-11T21:14:42.933+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keperawatan'/><title type='text'>Injeksi untuk Sakit Saraf</title><content type='html'>&lt;div class="judulisiberita" style="margin: 5px 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;       &lt;div style="width: 300px; float: left; margin-right: 10px;"&gt;         &lt;div style="padding: 0px 0px 5px; width: 298px;"&gt;        &lt;div id="loadarea" style="margin-bottom: 5px; width: 298px;"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2008/02/29/194427p.jpg" border="0" width="298" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;SAKIT &lt;/strong&gt;kepala dan rasa sakit pada tubuh manusia, seperti pada saraf leher dan punggung, kerap dialami siapa saja. Ini tentu sangat mengganggu kegiatan kita sehari-hari. Salah satu kondisi yang biasa terjadi adalah nyeri saraf &lt;em&gt;post herpetic&lt;/em&gt;, atau yang dikenal dengan sebutan &lt;em&gt;shingles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Kondisi ini biasa terjadi pada orang tua dan menyebabkan rasa sakit terbakar pada wajah dan dada, dan dapat berlangsung bertahun-tahun. Pada wajah, rasa sakit ini dapat memengaruhi mata dan menyebabkan kebutaan jika tidak dirawat dengan benar. Pasien akan merasa tidak nyaman luar biasa, bahkan pakaian yang dikenakan pun bisa menjadi pemicu rasa sakit ini. Tidur terganggu hingga menyebabkan keinginan bunuh diri. Meski demikian, diagnosis yang tepat dan pengobatan yang benar bakal menyembuhkan situasi dan pasien dapat menjalani hidup normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasien dalam kondisi parah biasanya langsung menjalani rawat inap di rumah sakit. Pasien akan diberikan pengobatan dengan baik untuk mengendalikan rasa sakitnya. Banyak pasien yang merespons ini dan meninggalkan rumah sakit terbebas dari rasa sakit. Meski demikian, tak jarang banyak prosedur invasif diperlukan. Contohnya, injeksi pada sisi sendi, injeksi epidural steroid, dan tindakan radiofrekuensi dilakukan di rumah sakit dibantu sinar-X.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan pengobatan ini sangat efektif bagi pasien dengan rasa sakit leher atau punggung bagian bawah kronis khususnya waktu ada kemerosotan piringan dan saraf &lt;em&gt;impingement&lt;/em&gt;. Banyak pasien merasa lebih baik dan rasa nyaman bisa bertahan selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan dengan injeksi biasa. Bahkan, sampai setahun dengan pengobatan radiofrekuensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di saat rasa sakit mereka berkurang dengan pertolongan intervensi ini, kami menangani rasa sakit mereka dengan pengobatan dan perlakuan yang saling mengimbangi seperti akupunktur dan fisioterapi. Saya sangat senang ketika mengatakan bahwa banyak dari pasien sembuh total ketika dirawat dengan cara ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara perawatan inovatif lainnya atau terapi penanganan sakit tradisional adalah terapi perilaku kognitif atau &lt;em&gt;cognitive behavioural therapy&lt;/em&gt; (CBT). Bentuk pengobatan ini memerlukan terapi kelompok, dengan cara sekelompok pasien yang mengalami sakit kronis berkumpul untuk mempelajari berbagai metode mengelola rasa sakit dengan menggunakan pengobatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instruktur terdiri dari dokter spesialis, ahli fisioterapi, ahli akupunktur, dan psikolog akan mengajar pasien untuk memakai alat ini. Ini adalah pelatihan intensif yang melibatkan partisipasi seharian penuh dan berjalan selama 1-2 minggu. Banyak dari peserta ini melaporkan bertambahnya kemampuan untuk mengelola rasa sakit mereka setelah menjalani pengobatan ini.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;oleh Dr Charles Siow&lt;br /&gt;Consultant Neurologist and Pain Specialist&lt;br /&gt;di Siow Neurology Headache and Pain Centre, Singapura&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kompas.com - &lt;/strong&gt;31 Januari 2009&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-8611543769706735133?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/8611543769706735133/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2009/05/injeksi-untuk-sakit-saraf.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/8611543769706735133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/8611543769706735133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2009/05/injeksi-untuk-sakit-saraf.html' title='Injeksi untuk Sakit Saraf'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-5269352656037818917</id><published>2009-05-21T16:45:00.002+07:00</published><updated>2010-02-11T21:14:42.934+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keperawatan'/><title type='text'>Adik, Jangan Ngompol Lagi, Ya?</title><content type='html'>&lt;div class="judulisiberita" style="margin: 5px 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;          &lt;div style="width: 300px; float: left; margin-right: 10px;"&gt;         &lt;div style="padding: 0px 0px 5px; width: 298px;"&gt;       &lt;div id="loadarea" style="margin-bottom: 5px; width: 298px;"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/05/21/1541386p.jpg" border="0" width="298" /&gt;     &lt;/div&gt;                   &lt;div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; text-align: right; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;a href="http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/05/21/15593334/Adik..Jangan.Ngompol.Lagi..Ya#" style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102); text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div id="boxtitle" style="margin-bottom: 0px; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 11px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Jangan marahi si kecil karena ia mengompol. Cari tahu mengapa ia mengompol, lalu bantu ia mengatasinya. &lt;/div&gt;       &lt;/div&gt;                                &lt;!--- video --&gt;             &lt;div class="tanggal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;       &lt;div style="padding: 0pt;"&gt;        &lt;/div&gt;                                  &lt;/div&gt;         &lt;p&gt;Anak-anak berhasil belajar mengkontrol buang air kecilnya berbeda-beda. Anak-anak di bawah usia 4 tahun sering mengompol karena mereka belum bisa mengkontrol kantung kemihnya. Namun, umumnya, anak-anak usia 5-6 tahun sudah bisa tidur tanpa mengompol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengompol dijuluki bagi anak yang sudah di atas umur 5 tahun yang seharusnya sudah tidak lagi membasahi tempat tidurnya dan bisa bangun untuk pipis sendiri. Bagi para orangtua, anak yang mengompol bisa jadi hal yang menyusahkan, karena ia harus terbangun tengah malam dan Anda harus membersihkan sisanya. Namun, bagi si kecil yang mengompol pun, kejadian seperti ini bisa jadi hal yang memalukan dan membuatnya tertekan juga. Penting untuk orangtua bisa bersikap suportif dan lebih sabar. Usahakan untuk tidak menghukumnya karena mengompol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kecil yang tak sengaja mengompol biasanya terjadi karena;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pertumbuhan yang terganggu. Anak-anak yang sistem sarafnya belum berkembang sepenuhnya bisa tak menyadari ketika kantung kemihnya penuh. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kantung kemih yang kecil. Ada beberapa anak yang memiliki kantung kemih yang cepat penuh. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hormon antidiuretik yang kurang banyak. Tubuh memiliki hormon yang meningkat di malam hari, fungsinya untuk mengatur ginjal agar tidak mengeluarkan banyak cairan. Beebrapa anak bisa jadi tak memiliki hormon ini cukup banyak. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidur pulas. Sebagian anak, saking tidur pulasnya tak bisa bangun untuk buang air di kamar mandi. Seiring ia beranjak dewasa dan pola tidurnya berubah, hal ini akan berubah. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Faktor emosional atau sosial. Anak-anak bisa sering mengompol ketika ia berada dalam tekanan. Contohnya, ketika ia baru saja mendapatkan adik baru dan merasa tersaingi. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anak-anak yang biasanya (lebih dari 6 bulan) tidak pernah mengompol tiba-tiba membasahi tempat tidur dengan air seninya saat tidur bisa jadi memiliki masalah di kantung kemihnya. Atau bisa juga akibat stres. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Mengatasinya?&lt;br /&gt;Untuk anak di usia 7 tahun dan lebih muda, perawatan tak dibutuhkan untuk mengatasi ompolnya. Kebanyakan anak di usia ini sudah bisa mengkontrol kantung kemihnya seiring perkembangannya. Namun, jika anak lebih dari 7 tahun masih mengompol lebih dari 2 kali seminggu selama 3 bulan berturut-turut, maka perlu dicurigai. Apalagi jika keadaan ini mengganggu emosional dan sosialnya. Coba bantu ia dengan dukungan ketika ia berhasil tidur melewati malam tanpa ompol. Namun jika masalah ompolnya lebih kompleks dan diakibatkan oleh masalah medis, seperti infeksi kantung kemih, maka perlu menemui dokter untuk mengatasinya.&lt;br /&gt;Bantu anak untuk mengerti, bahwa mengkontrol kantung kemihnya akan lebih mudah seiring ia beranjak dewasa. Berikut adalah tips yang bisa Anda lakukan:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Berikan minuman dan cairan pada anak lebih banyak di pagi dan siang hari. Kurangi memberikan banyak cairan di malam hari. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kurangi asupan kafein si kecil, seperti cokelat, minuman berkola khususnya di malam hari. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ajak si kecil untuk terbiasa buang air kecil sebelum ia beranjak tidur. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tawarkan buah hati Anda untuk mengenakan popok, namun jangan paksakan. Jika ia merasa nyaman, biarkan ia memakainya untuk sementara waktu hingga ia bisa mengkontrol kantung kemihnya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Puji dan berikan dukungan ketika ia berhasil tidak mengompol.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;SUMBER : &lt;b&gt;NAD&lt;/b&gt;/Kompas.com, 21 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2620869265445311251-5269352656037818917?l=maidun-gleekapay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/feeds/5269352656037818917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2009/05/adik-jangan-ngompol-lagi-ya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/5269352656037818917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2620869265445311251/posts/default/5269352656037818917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2009/05/adik-jangan-ngompol-lagi-ya.html' title='Adik, Jangan Ngompol Lagi, Ya?'/><author><name>Zulkarnain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_o0aPcV1f7Yk/SMg3cJUdIXI/AAAAAAAAAB4/F4kpp0bA-Tg/S220/fffff.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2620869265445311251.post-8999536384005064309</id><published>2009-05-14T16:49:00.000+07:00</published><updated>2010-02-11T21:14:42.934+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keperawatan'/><title type='text'>Pelajaran Menjadi Orang Tua</title><content type='html'>Oleh : Ubaydillah, AN&lt;br /&gt;&lt;h5&gt;&lt;span class="style3"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/h5&gt;   &lt;span class="style4"&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:Wingdings;  panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0;  mso-font-charset:2;  mso-generic-font-family:auto;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face  {font-family:"Cambria Math";  panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault  {mso-style-type:export-only;  mso-default-props:yes;  font-size:10.0pt;  mso-ansi-font-size:10.0pt;  mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0  {mso-list-id:1666006178;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:-1863035712 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:none;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-18.0pt;  font-family:Symbol;} @list l1  {mso-list-id:1674457685;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:1097921578 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l1:level1  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:none;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-18.0pt;  font-family:Symbol;} ol  {margin-bottom:0cm;} ul  {margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman","serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Seorang ayah muda akhirnya dapat membenarkan ucapan ibu mertuanya. Ayah muda ini tak tahan saat melihat anak perempuannya menangis dengan suara yang keras sambil melemparkan benda-benda mainan di sekitarnya. Karena tak tahan, biasanya yang dilakukan adalah menghindari suasana itu sebisa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mungkin atau bereaksi secara agresif yang diakhir dengan penyesalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Kepada ibu mertuanya, si ayah muda ini bilang kalau dirinya tak tahan melihat anak kecil menangis. Tetapi apa jawab ibu mertuanya? Ibu mertuanya bilang kalau dulu dirinya juga begitu. Ketetapan hatinya menghadapi anak kecil diperoleh secara alamiah melalui proses yang tidak langsung. "Nanti kamu kalau terus belajar juga akan tahan, nak", ucap ibu mertuanya dengan santai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Itu mungkin ucapan orangtua yang sederhana. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Tetapi sebetulnya mengandung kearifan yang penting bagi pasangan muda.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ketetapan – keteguhan hati &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;menghadapi kerewelan anak kecil itu sama seperti kekuatan dalam mengelola kesuksesan dan kegagalan. Kekuatan seseorang dalam mengelola kesuksesan itu tak diperoleh setelah orang itu menikmati kesuksesan. Kekuatan itu diperoleh jika seseorang berani, mampu dan mau berproses, menghadapi kesulitan, ganjalan, kegagalan dan lika liku perjalanan kehidupannya dengan tekun dan setia. Serangkaian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;prosesi"&lt;/i&gt; alamiah ini yang memperkuat batin seseorang. Sama juga seperti batang pohon. Ia menguat dengan proses fotosintesis yang memperkuat daun, cabang dan ranting, seiring hempasan angin yang menerpanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Secara pribadi, saya kerap ditanya terkait dengan bagaimana menghadapi anak kecil dengan sabar saat menangis meminta sesuatu. Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya tak ada yang sederhana. Kenapa? Ibarat orang memetik buah, jawaban itu sudah ada di atas sana dan tangganya pun sudah disediakan. Cuma, untuk memetik buah itu kita harus menaikinya sendiri. Buah itu tak jatuh dengan kata-kata, pengetahuan atau dengan menyuruh orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Kalau membaca sejumlah penjelasan ahli mengenai anak kecil, sangat wajar kalau kita sebagai orangtua itu mengalami kekagetan. Menurut Prof. Robert G. Harrington, PhD, dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;University of Kansas, &lt;i style=""&gt;temper tantrum&lt;/i&gt; dialami seorang anak ketika usianya antara 1-4 tahun (Temper Tantrums: Guidelines for Parents: 2004),&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Temper tantrum&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt; adalah problem normal pada perilaku anak kecil dalam mengungkapkan kejengkelannya ketika belum memiliki kata-kata yang memadai untuk mengungkapkan frustasinya atau belum memiliki kemampuan mengontrol dirinya atau bahkan kemampuan untuk melaksanakan keinginannya secara mandiri. Bentuknya banyak, misalnya berguling-guling saat menangis, menendang-nendang benda, atau membanting pintu saat &lt;i style=""&gt;ngambek&lt;/i&gt;, atau merajuk, menolak makan dan bicara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Untuk orangtua yang sedang menghadapi perilaku seperti ini sangat disarankan agar tidak melihatnya sebagai kelainan yang luar bisa ataupun kewajaran yang luar biasa, melainkan melihatnya sebagai bagian proses tumbuh kembang yang perlu di lalui kedua pihak (orang tua dan anak). Persepsi itu menentukan tindakan orang tua, bentuknya bisa mulai dari menghukum secara luar biasa atau luar biasa toleran, karena dianggap "ah, kan masih kecil..." Proses ini mau tidak mau di lalui sebagai latihan mental orang tua maupun anak, sekaligus meletakkan dasar nilai dalam diri anak. Kalau di dalam masa ini orang tua memberikan &lt;i style=""&gt;instant gratification&lt;/i&gt; – kepuasan instan, demi menghentikan rengekan, kelak anak kita tidak menyadari bahwa manusia untuk bisa hidup haruslah bekerja; dan &lt;i style=""&gt;joy, contentment&lt;/i&gt; – merupakan dampak dari usaha optimum yang telah di keluarkan hingga mendatangkan kepuasan, &lt;i style=""&gt;regardless&lt;/i&gt; hasilnya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Satu hal yang perlu di renungkan, misalkan kita tidak tahan dengan rengekan anak, lantas cepat-cepat memenuhi permintaan anak, atau pun di &lt;i style=""&gt;bribe&lt;/i&gt; – di sogok dengan janji-janji surga, supaya anak diam, jangan-jangan, kita sampai menjadi orang tua, belum berhasil mengatasi dorongan &lt;i style=""&gt;instant gratification&lt;/i&gt; diri sendiri. Maunya cepat-cepat ada, kalau perlu pakai jalan pintas. Ketidakmampuan mengelola dorongan dalam diri kita sebagai orang tua, akan terulang kembali ketika kita menghadapi anak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Belajar bijak dan dewasa dari anak&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Kalau melihat ke struktur ajaran keimanan, kesabaran itu disejajarkan dengan kesyukuran. Ketika hidup kita dalam keadaan positif maka kita diperintahkan untuk memfungsikan kesyukuran, dalam arti memunculkan ide positif, menjalankan aksi positif, cara positif, untuk meraih tujuan positif. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tapi, giliran menghadapi situasi negatif, maka kesabaranlah yang harus difungsikan. Tapi definisi kesabaran di sini berbeda dengan kesabaran patetik dan fatalistik, hanya menunggu tanpa berbuat apa-apa – dan ini setara dengan melemparkan tanggung jawab pada orang lain. Kesabaran dalam definisi ini, adalah kesabaran dalam konteks ketahanan mental yang diwujudkan dalam ketekunan kita sebagai orang tua untuk berproses. Artinya, belajar mengenal dan memperbaiki kelemahan kita dari hubungan yang terjalin dengan anak. Sebenarnya kita bisa melihat dengan sangat jelas, bahwa ada beberapa kesamaan antara sikap, karakter dan kebiasaan kita dengan anak baik dalam hal positif maupun negatif. Termasuk soal &lt;i style=""&gt;temper tantrum&lt;/i&gt; sebagai solusi instan untuk memperoleh keinginan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Jadi sebetulnya, awalnya pelajaran kesabaran bukan di arahkan ke anak, tapi pada diri sendiri. Kalau kita sendiri tidak "sabar", mendengar rengekan anak, melihat kenakalan anak, melihat tindakan anak yang tidak mendukung &lt;i style=""&gt;image &lt;/i&gt;kita, melihat rupa anak yang tidak semanis atau secakep harapan kita – maka tidak heran jika kita ingin cepat keluar dari situasi itu, umumnya dengan sikap fatalistik. Makanya kita sering dengar ucapan "yah, mau bagaimana lagi...sudah bawan lahir dia nakal..."atau.."wajar laaah.....dia kan masih kecil"....jangan-jangan, kita sendiri yang tidak mampu mengelola dorongan-dorongan diri untuk tidak merokok, tidak nonton sinetron di kala anak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;belajar, tidak gossiping di saat kerja, tidak main &lt;span style="font-style: italic;"&gt;game&lt;/span&gt; saat pekerjaan menumpuk, tidak &lt;i style=""&gt;shopping&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;mania&lt;/i&gt; karena 70% discount.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ada sebagian kita yang seakan-akan bijak sejak lahir. Dari lahir sudah kelihatan potensi "sabar" nya. Sebenarnya, juga produk dari sebuah proses, karena karakter orang tua serta proses hidup yang dialami turut menentukan dan mempengaruhi sifat, karakter, dan hal-hal yang bersifat "bawaan" anak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Tapi ada juga yang seperti pohon beringin. Untuk meraih kematangan jiwanya, orang itu harus berkolaborasi dengan terpaan angin, teriknya matahari, sengatan benalu, atau torehan pisau orang iseng – semua itu proses hidup yang sebenarnya, kalau digunakan dan di tempatkan dengan benar, melahirkan kebijaksanaan yang mengalir dalam sikap tekun dan setia –&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sabar untuk dibentuk dan membentuk diri – sebelum membentuk orang lain. Bayangkan saja, kalau kita nya sendiri belum punya bentuk, masih foto copy pola lama, atau masih format original yang belum di up grade – alias masih mengedepankan "Id"  bagaimana bisa membentuk anak? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Intinya, semua orang itu diberi potensi untuk menjadi "penyabar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;lan&lt;/i&gt; bijak". Soal potensi itu kita gunakan atau tidak, ini kita yang ditawari untuk memilih. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Karena itu, perintah bersabar itu bersifat umum dan mutlak, tidak hanya ditujukan kepada orang tertentu tapi kepada tiap orang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Beberapa Faktor Pendukung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ketika konteksnya kita bawa untuk menjelaskan bagaimana kita bisa menjadi orangtua yang lebih sabar dan bijak, maka secara umum memang ada beberapa faktor yang bisa kita sebut sebagai pendukung untuk ke sana.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Sejumlah faktor itu bisa kita sebutkan di sini, antara lain:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Hubungan orangtua /      ayah-ibu&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;. Semakin sinergis hubungan yang terjalin antara      ayah dan ibu, baik secara lahir dan batin, semakin besar potensi untuk      saling memberi support dalam menghadapi tantangan menjadi "orang tua". Banyak      hasil penelitian yang mengungkap bahwa anak sering jadi korban      ketidakhamonisan orangtuanya. Kalau orang tua sendiri sudah berselisih      paham dan nilai, atau adu kekuatan, atau bahkan yang satu menjajah yang      lain, bagaimana bisa berkolaborasi untuk mendidik anak ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Persepsi orangtua&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;. Orangtua yang menganggap dirinya sebagai guru dan      penguasa yang serba segala-galanya di hadapan anak, mungkin lebih sulit      belajar sabar lan bijak dibanding orangtua yang juga menyadari pentingnya      untuk menjadi "murid" yang punya kesediaan memahami dan mempelajari      prilaku anak untuk ditemukan solusinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="ES"&gt;Penguasaan suasana      batin&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="ES"&gt;. Orangtua yang lebih matang dalam mengontrol &lt;i style=""&gt;stress&lt;/i&gt;, akan lebih mudah belajar      menjadi lebih sabar ketimbang orangtua yang selalu reaktif terhadap &lt;i style=""&gt;stress&lt;/i&gt; atau membawa-bawa &lt;i style=""&gt;stress&lt;/i&gt;-nya dalam menghadapi anak.      Kalau orang tua sendiri blm mampu mengolah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Kematangan mental&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;. Orangtua yang pengalaman hidupnya lebih variatif,      jiwanya lebih besar, pede-nya lebih tinggi, atau nilai-nilai yang ada di      dadanya lebih kuat, akan lebih mudah mempelajari kesabaran. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Penyikapan terhadap keadaan ekonomi keluarga. Ini      pengertiannya bukan soal kaya atau miskin, melainkan lebih pada bagaimana      penyikapan terhadap fluktuasi kondisi ekonomi keluarga di saat-saat      tertentu. Sikap yang positif akan lebih mendukung untuk belajar lebih      sabar ketimbang sikap yang negatif. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Wacana dan nilai-nilai yang dikembangkan dalam      keluarga.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Keluarga yang masih membuka      pembicaraan mengenai wacana hidup yang menggugah jiwa atau nilai-nilai      kearifan yang mencerahkan, akan lebih mudah belajar kesabaran ketimbang      keluarga yang materi pembicaraannya sebatas pada hal-hal yang superfisial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="ES"&gt;Situasi dan kondisi eksternal keluarga secara umum.      Keluarga yang orang-orang di dalamnya satu hati, satu visi, dan satu      irama, akan lebih mendukung untuk belajar kesabaran. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Itu semua adalah faktor pendukung. Faktor ini hanya akan aktif dukungannya apabila kita mengaktifkan faktor penentu. Siapa yang menjadi faktor penentu di sini? Faktor penentunya adalah kita dengan segala komitmen yang kita miliki untuk belajar "&lt;i style=""&gt;sabar&lt;/i&gt;" – ikut berproses dan bertumbuh jadi dewasa seiring dengan proses tumbuh kembang anak kita.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Beberapa Tips Menghadapi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rewelan &lt;/span&gt;Anak &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Apa saja yang bisa kita lakukan saat menghadapi anak yang sedang &lt;i style=""&gt;rewel&lt;/i&gt;, ngambek, atau marah? Di bawah ini ada sejumlah cara yang mungkin bisa kita pilih salah satunya atau sebagiannya sebagai langkah menjadi orangtua yang lebih rasional:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Symbol;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="ES"&gt;Belajar menguasai diri lebih dulu. Dengan menguasai diri, kalau pun kita marah, marahlah secara rasional, sehingga tidak lepas kendali. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt
